Layunya Bunga Desa

Layunya Bunga Desa
Keputusan


__ADS_3

Lurah setempat mendatangi rumah Mawar setelah Revan memanggil mereka datang, Diskusi pun mulai berlangsung antar perangkat Desa.


Setelah lebih dari tiga puluh menit akhirnya diskusi mereka selesai dan mencoba memberi masukan kepada Mawar.


"Begini ya Mbak Mawar, Si Fandi ini kan sudah tidak mau menikahi Mbak Mawar, Apalagi keluarganya menentang keras hubungan kalian berdua, Apa Mbak Mawar tidak lebih baik menerima tawaran Ayahnya Fandi saja?"


"Tidak!" jawab Mawar dengan cepat.


"Pikirkan dulu Mbak Mawar, Uang satu koper loh," ucap Pak Lurah mencoba membuat Mawar mempertimbangkan keinginannya untuk terus menikah dengan Fandi. Namun Mawar tetap menolak tawaran itu.


"Sama mobil lagi." sambung Kepala Desa.


"Kemarin juga ada tuh kasus begini juga, Persis tapi si wanita memilih uangnya daripada di nikahi setelah itu sengsara." cerita Pak Lurah.


Mendengar itu Mawar terdiam mulai memikirkan. Namun lagi-lagi cinta mengalahkan akal pikirannya. Dengan tegas Mawar mengatakan tidak akan menerima uang maupun mobil dari mereka. Mawar tetap memilih untuk menikah dengan pak Fandi.


"Jadi bener nih Mbak mawar tidak mau? Gak mau pikir-pikir lagi, Uang satu koper loh."


"Tidak Pak." jawab Mawar tanpa ragu.

__ADS_1


"Mobil? Itu mobil keluaran terbaru loh." Pak Lurah berusaha mempengaruhi Mawar untuk terakhir kalinya. Namun Mawar tetap bersikeras dengan keputusannya. Sehingga para perangkat Desa tidak bisa lagi memaksanya selain mengabulkan apa yang Mawar inginkan.


"Baiklah bersiaplah untuk menikah dua hari dari sekarang." tegas Pak Lurah yang kemudian pamit pulang.


Setelah semua orang pergi, Heru memarahi Mawar yang kembali mengulangi perbuatannya. Begitupun Revan yang juga ikut di marahi karena telah membantu Mawar tanpa bertanya kepadanya terlebih dahulu.


"Apa kalian tidak menganggap Ayah mampu menyelesaikan masalahmu sehingga kalan para anak-anak pergi sendiri menghadapi mereka?"


"Maafkan kami Ayah." jawab Revan.


"Yang kalian hadapi bukan orang sembarang, Lihatlah sekarang kalian melibatkan para perangkat Desa, Kalau begini semua orang akan semakin tau masalah mu Mawar!" Heru merasa geram karena Mawar seakan hilang kendali hanya demi keinginannya untuk bisa menikah dengan Fandi.


Ia meninggalkan Ayahnya yang belum selesai bicara dan masuk ke kamarnya. Sementara Revan pamit pulang meskipun hatinya masih ingin menemani Mawar menghadapi kesulitannya.


"Revan pulang dulu Yah."


"E-ya, Oh ya bagaimana kabar ibu mu?"


"Ibu baik Yah, Tapi ibu terlihat sedih, Jika Ayah berkenan, Temuilah ibu sekali saja."

__ADS_1


Heru mengangguk dan menepuk-nepuk lengan Revan. Sementara Mona yang melihatnya merasa tak lagi memiliki kesempatan untuk kembali bersama Heru.


Di kamar, Lily menatap heran adiknya yang kini menjadi begitu berani meminta pertanggungjawaban dari laki-laki yang sudah mengambil madunya. Bahkan ia saja yang tengah mengandung tidak bisa melakukan itu sendiri tanpa bantuan Ayah nya.


"Apa yang membuat mu begitu berani Mawar?" tanya Lily.


"Cinta." jawabnya singkat.


"Mawar tapi dari cerita yang Kakak dengar tadi, Pak Fandi sudah tidak mencintai mu, Apakah tidak lebih baik kamu menerima tawaran mereka? Ini uang dan mobil loh Mawar, Mungkin selamanya kita tidak akan mendapatkan uang sebanyak itu, Apalagi membeli mobil."


"Apa yang Kak Lily pikirkan? Aku masih muda, Jika Aku bekerja keras Aku akan mendapatkan lebih dari itu."


"Tapi pada kenyataannya hidup mu sudah hancur Mawar, Ayah juga tidak cukup banyak uang untuk membiayai kita hingga perguruan tinggi."


"Kesuksesan bukan di ukur dari seberapa tinggi sekolah kita, Akan tetapi kesuksesan bisa di raih dengan kegigihan dan kerja keras. Banyak kok pengusaha sukses tidak mengenyam pendidikan tinggi."


"Cck! Terserah kamu saja Mawar." Lily beranjak pergi meninggalkan Mawar yang tidak mau mendengarkan nasehatnya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2