Layunya Bunga Desa

Layunya Bunga Desa
Tersisih


__ADS_3

Pagi hari, Seperti biasa Mursidah sibuk menyiapkan sarapan untuk Heru. Sambil menghidangkan makanan, Mursidah menyampaikan rasa keberatannya atas kehadiran Mawar di rumahnya.


"Aku kan sudah seringkali mengatakan pada Mas jika anak-anak kita sudah besar, Tidak mungkin tinggal bersama di rumah sekecil ini," ucap Mursidah sambil melipat wajahnya.


"Tapi Mawar sedang mengalami musibah, Sudah selayaknya kita sebagai orang tua melindungi dan mendampinginya di saat seperti ini."


"Aku tidak melarang Mas mendampinginya, Tapi perlu Mas ingat, Setelah Mas mendampinginya membuat laporan, Antar dia pulang ke rumah lama."


"Ida... Tidak bisakah dia tinggal di sini sampai dia benar-benar pulih?"


"Tidak bisa Mas!!!"


Mawar yang sejak tadi sudah berdiri di belakang pintu ruang makan merasa sedih mendengar perdebatan Ayah dan ibu tirinya, Selama ini Mawar memang selalu di tekankan oleh ibu tirinya jika alasan tidak mengizinkan dirinya tinggal bersama Ayahnya karena ibu tirinya memiliki anak laki-laki berusia 19th dan tidak ada kamar lain untuk di tinggali bersama. Namun kali ini kondisinya berbeda. Dengan kondisinya sekarang, Mawar pikir ibu tirinya akan memberikan sedikit ruang kepadanya. Tapi ternyata tidak. Mursidah tetap saja merasa keberatan akan kehadiran dirinya sekalipun putranya sedang tidak berada di rumah.


Dengan hati yang teramat pedih, Serta air mata yang menetes, Mawar kembali ke kamar, Mengurungkan niatnya untuk sarapan bersama Ayahnya yang sudah cukup lama tidak ia temui.


Sementara Heru masih berdebat dengan Mursidah, Mempertanyakan keputusannya yang tidak mau mengizinkan Mawar tinggal beberapa hari bersama mereka.


"Kenapa Ida...?"


"Kenapa Mas masih bertanya, Itu kamar Revan, Mau tidur dimana kalau dia pulang nanti?"


"Revan laki-laki, Tidak ada salahnya dia tidur di ruang tamu untuk beberapa hari."


"Aku tidak setuju Mas, Bagaimana jika Revan jatuh sakit?"


"Jangan berlebihan Ida, Dia juga tidak setiap hari pulang, Tapi kamu tidak merasa khawatir apalagi memikirkan dia sakit."


Merasa di skakmat oleh Heru, Mursidah terdiam tak bisa membantah ucapan Heru yang memang benar adanya.


"Aku pulang..."


Sontak kepulangan Revan yang tiba-tiba membuat Heru dan Mursidah terperangah menatapnya.


"Ada apa, Kenapa Ayah dan ibu menatap ku seperti itu?" tanya Revan mendekati mereka.

__ADS_1


"Revan darimana kamu, Kenapa jam segini baru pulang?" tanya Mursidah memeluk anak semata wayangnya.


"Kata Ibu tidak boleh pulang malem-malem ya udah pagi sekalian." ujar Revan dengan kelakarnya.


"Dasar anak bandel Ayo sarapan sekalian." lanjut Mursidah.


"Nggak Ahh, Aku mau mandi aja." ujar Revan yang berlalu pergi begitu saja.


"E-e-eh.... Tunggu Revan." Mursidah berdiri di depan pintu kamar, Mencegah putranya masuk kamar dimana Mawar berada.


"Ada apa Ibu, Kenapa Ibu melarang ku masuk ke kamar ku sendiri?"


"Di dalam ada Mawar."


"Dia di sini?"


"Iya."


"Tapi Aku harus mengambil bajuku."


Ckleekkk...


Ketiganya saling melihat karena sama-sama kaget.


Terutama Mawar yang melihat ibu dan juga kakak tirinya yang berdiri menatapnya. Situasi yang membuat Mawar menjadi canggung karena kehadirannya yang tidak di inginkan.


"M-maaf Tante." Mawar yang merasa cukup tau diri jika pemilik kamar sudah pulang melangkah keluar dan mempersilahkan kakak tirinya masuk.


Berbeda dengan Mursidah yang bergegas masuk, Justru Revan malah menyapa adik tirinya tersebut.


"Mawar, Bagaimana kabar mu? Kenapa dengan wajahmu?"


"Aku baik-baik saja Mas." saut Mawar yang menyebut Revan dengan sebutan Mas (Kakak)


"Jika kamu baik, Lalu kenapa dengan wajah mu? Tangan mu juga, Apa terjadi sesuatu?"

__ADS_1


"Revaaan..." melihat Revan tidak kunjung masuk, Mursidah kembali keluar menghampiri Revan yang tengah berbincang dengan Mawar.


"Katanya mau ambil baju?"


"Iya nanti." saut Revan tanpa menoleh pada ibunya.


Melihat putranya yang bersikap acuh padanya dan lebih memilih melanjutkan perbincangannya dengan Mawar, Mursidah semakin merasa kesal.


"Revan!"


Melihat kekesalan di wajah ibu tirinya, Mawar menghentikan perbincangannya dan menyuruh Revan mendengarkan perkataan ibunya.


"Ibu... Kenapa sih, Aku kan ingin ngobrol bentar sama Mawar, Lagian ngapain sih ibu nganter Aku ke kamar, Emang Aku bocah tiga tahun apa."


"Revaaan... Kamu membantah ibu?"


"Tentu saja Aku membantah ibu, Kenapa sih gak suka banget Aku ngobrol sama Mawar, Dia kan sudah jadi adik ku, Anak ibu juga."


Melihat pertengkaran ibu dan anak karenanya, Serta tatapan sinis Mursidah kepadanya, Akhirnya Mawar meminta izin untuk pulang.


"Kok pulang, Kita kan baru ketemu." ujar Revan.


"Pulang..." tanya Heru yang baru datang.


Mawar menganggukkan kepalanya dengan sedih.


"Kok pulang Sayang, Kamu kan belum sarapan, Kita juga belum ke kantor polisi untuk membuat laporan."


"Membuat laporan? Apa yang terjadi dengan Mawar?" tanya Revan mencelah pembicaraan.


"Nanti Ayah ceritain," ucap Heru singkat.


Kemudian Heru kembali mempertanyakan sikap Mawar yang ingin segera pulang sebelum membuat laporan.


Sebelumnya Mawar bersikeras untuk pulang dan tidak ingin membuat laporan. Namun setelah Heru membujuknya, Akhirnya Mawar setuju dan segera menuju kantor polisi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2