
Lily tengah mengobati luka yang hampir terdapat di seluruh tubuh Raka, Tak terkecuali wajahnya yang penuh luka lecet dan lebam. Dengan sangat hati-hati, Kini Lily membersihkan luka di wajah Raka. Namun Raka yang sudah tidak lagi merasakan cinta terhadap Lily membuat hatinya kesal.
"Sudahlah lepaskan Aku!" Hardik Raka menepis tangan Lily hingga membuat Lily jatuh terduduk di lantai.
"Raka..."
"Dengar ya Lily, Aku tidak akan memilih wanita seperti mu untuk anak-anak ku."
"Apa maksud mu mengatakan itu?"
"Apa? Semua pria pasti mengingin kan wanita baik-baik untuk membimbing anak-anaknya kelak, Begitupun dengan ku, Jika kamu begitu tega menyerahkan adik mu sendiri demi keselamatan mu, Siapa yang jamin kamu tidak akan melakukan hal yang sama terhadap keluarga ku?"
"Tega sekali kamu mengatakan itu Raka, Aku menyerahkan Mawar pada mereka demi keselamatan kita, Bukan hanya keselamatan ku!"
"Tetap saja, Itu sudah cukup menjadi bukti jika kamu tidaklah pantas untuk di jadikan istri, Ibu maupun saudara!"
"Jika kamu menganggap ku begitu rendah lalu untuk apa selama ini kamu menjalin hubungan dengan ku? Mengungkapkan banyak cinta hingga kamu membuat ku hamil seperti ini?"
"Siapa yang menjamin anak itu adalah anak ku, Jika kamu dengan bebas membawa ku ke rumah mu dan dengan mudah menyerahkan kehormatan mu, Bukan tidak mungkin kamu juga melakukan hal yang sama dengan pria lain kan?"
PLAKKK...!!! satu tamparan keras mendarat di pipi Raka. Membuat pria berusia 19th itu murka dan mencengkeram kedua pipi Lily.
"Dengar ya wanita murahan! Satu tamparan mu membuat ku semakin yakin jika kamu memang tidak pantas untuk menjadi istri ku!"
Setelah mengatakan itu, Raka bergegas pergi, Ia tidak mempedulikan Lily yang berusaha menghentikannya.
__ADS_1
Sementara Fandi terus mengusap-usap punggung Mawar dan sesekali mengusap kepalanya tanpa bertanya apapun hingga Mawar merasa tenang dan melepaskan pelukannya. Setelah melihat Mawar sudah tenang, Barulah Fandi menanyakan alasannya pergi tanpa pamit kepadanya.
"Maafkan Aku Pak..." lirih Mawar menundukkan kepalanya.
"Kenapa kamu lakukan itu, Bagaimana jika Aku tidak berhasil menemukan mu, Hah?"
Mawar hanya meneteskan air mata tanpa mengatakan apa alasan sebenarnya ia pergi.
"Jawab Mawar... Kenapa kamu pergi diam-diam? Kenapa tidak meminta izin terlebih dahulu kepadaku, Apa kamu tidak lagi menganggap ku penting untuk mu?"
"Bukan begitu Pak, Aku hanya ingin tau keadaan rumah ku..."
"Untuk apa, Apa kamu sudah bosan tinggal bersama ku?"
"Bukan itu Pak..."
Mawar tak lagi memiliki alasan. Ia hanya terdiam sedih melihat kemarahan Fandi. Sementara Fandi yang melihat Mawar diam saja, Fandi mencengkeram kedua lengan Mawar dan membuat Mawar mengangkat wajahnya.
"Lihat Aku!"
Mawar menatap Fandi dengan perasaan takut.
Melihat hal itu, Membuat Fandi tidak lagi marah dan menarik tubuh Mawar ke pelukannya.
"Dasar anak bandel, Jangan pernah melarikan diri lagi dari ku," ucap Fandi sembari mengecup pucuk kepala Mawar.
__ADS_1
"Tidak akan..." jawab nya manja.
"Baiklah Ini sudah hampir pagi, Kita istirahat sebentar."
Mawar mengangguk dan membiarkan Fandi pergi ke kamarnya.
Seminggu kemudian, Mawar bangun lebih awal, Bersiap menghadapi ujian yang di mulai hari ini. Ujian kali ini di rasa lebih mudah karena Fandi gurunya langsung yang mendampinginya belajar.
Sebelum berangkat, Mawar yang berdiri di belakang Fandi yang tengah mengeluarkan motornya, Langsung memeluknya dari belakang, Membuat Fandi kaget dan sedikit menoleh ke belakang.
"Hey... Main peluk-peluk aja." ujar Fandi yang masih menahan motornya agar tidak terjatuh.
Mawar hanya tertawa dan mengangkat kepalanya dari punggung Fandi. "Biar semangat." ujar Mawar tersenyum ceria.
Mendengar itu Fandi tersenyum dan kembali menyetandarkan motornya, Kemudian berbalik badan menatap Mawar.
"Baiklah, Kalau begitu Aku juga minta asupan nutrisi biar Aku semangat mengawasi kalian, Terutama kamu." ujar Fandi sembari mencubit gemas hidung Mawar.
"Apa?" tanya Mawar bingung.
"Mendekatlah..." dengan canda tawa Fandi meraih pinggang Mawar dan memonyongkan bibirnya. Mawar tertawa geli sembari menjauhkan wajahnya serta menepis pipi Fandi yang terus mendekat.
Fandi pun tertawa dan melepaskan Mawar tanpa mendapatkan nutrisi yang ia inginkan. Kemudian memintanya naik dan segera berangkat.
"Ini terhitung hutang, Jadi kamu harus membayarnya setelah lulus ujian." ujar Fandi sambil menarik tangan Mawar agar memeluk pinggangnya.
__ADS_1
Mawar yang mendengarnya tertawa dan mencubit perut Fandi yang tengah fokus mengendarai motornya.
Bersambung...