Layunya Bunga Desa

Layunya Bunga Desa
Di Seret


__ADS_3

Melihat kenyataan jika Mawar tidak hamil,


Ayah Fandi tersenyum smirk dan semakin tidak menginginkan Mawar untuk menjadi menantunya.


"Dasar pembohong! Sekarang pulang dan tunjukkan dimana rumah mu biar Aku beritahu orang tua mu bagaimana cara mendidik mu!" lagi-lagi dengan kasar Ayah Fandi menyeret lengan Mawar dan mendorongnya masuk ke dalam mobilnya.


"Dimana rumah mu!" tegas Ayah Fandi yang kemudian masuk dan langsung melaju cepat.


"Tidak Om..."


"Tunjukan atau Aku akan membawa mu ke kantor polisi karena telah menganggu kenyamanan dan juga telah menipu kami!"


Mendapatkan ancaman serius dari Ayah Fandi akhirnya Mawar menunjukkan jalan ke rumahnya.


Setelah lebih dari tiga jam perjalan, Akhirnya mereka sampai rumah dini hari. Dimana semua orang masih terlelap dalam tidurnya.


Seperti yang Ayah Fandi katakan sebelumnya ia mengikuti Mawar untuk menemui orang tuanya. Namun rasa takut membuat Mawar menghentikan langkahnya di depan pintu.


"Kenapa berhenti? Cepat ketuk pintunya!"


Dengan ragu Mawar mengetuk pintunya beberapa kali sebelum akhirnya pintu di buka oleh Heru.


Ckleekkk...

__ADS_1


"Mawar..." Heru yang sejak pagi khawatir dengan kepergian Mawar menjadi sangat lega dan langsung memeluknya.


"Kamu kemana saja Mawar, Dan... Siapa dia?" tanya Heru menunjuk Ayah Fandi.


"Tidak penting saya siapa, Yang terpenting adalah, Anda harus menjaga anak perempuan Anda agar tidak menganggu keluarga ku lagi!"


Mendengar keributan, Mona dan Lily keluar untuk melihatnya.


Sementara Heru yang tidak mengenal Ayah Fandi hanya menatap Mawar dan Ayah Fandi bingung.


"Berrani-beraninya anak ingusan sepertinya mencoba menipuku dengan mengatakan dia hamil!"


"Apa! Hamil?!" lirih Mona dan juga Lily secara bersamaan.


Setelah merasa menang karena permintaan maaf itu Ayah Fandi tersenyum smirk dan meninggalkan rumah Heru. Kini Heru menatap Mawar dengan rasa penuh kecewa.


"Kenapa kamu pergi sendiri kesana tanpa memberitahu Ayah Mawar?" tanya Heru sedih.


"Ayah..." Mawar juga menangis sedih, Namun Mawar yang merasa hidupnya sudah hancur harus melakukan itu untuk meminta pertanggungjawaban Pak Fandi.


"Mawar... Kenapa kamu begitu gegabah, Kamu mengaku hamil sementara di depan mata mereka kamu datang bulan, Jika sudah begini bagaimana mereka percaya padamu?"


"Mawar tidak tahu Ayah, Mawar pikir jika sudah telat Mawar pasti hamil, Jadi Mawar nekat mencari Pak Fandi agar mau tanggung jawab."

__ADS_1


"Ayah tau Mawar, Tapi jika sudah seperti ini bagaimana? Yang ada mereka semakin tidak percaya dengan mu."


Mawar hanya diam menundukkan kepala.


"Lalu bagaimana dengan Pak Fandi, Apa yang dia katakan?"


"Pak Fandi tidak ada Ayah, Orang tua Pak Fandi tidak memberitahu dimana Pak Fandi."


"Pak Fandi pasti bersembunyi Mawar, Dia ingin lari dari tanggungjawab terhadap mu!"


"Tidak Ayah, Mawar merasa yakin jika Pak Fandi tidak seperti itu."


"Lalu apa Mawar, Dia pulang tidak memberitahu mu, Dan hingga kini dia juga tidak mengabarimu jika tidak ingin lari lalu apa?"


"Entahlah Ayah, Yang jelas Mawar yakin jika Pak Fandi tidak seperti itu!" tegas Mawar yang kemudian masuk ke dalam. Di susul oleh Lily yang kembali tidur.


Kini tinggal Heru dan Mona yang saling menatap canggung atas masalah yang anak-anaknya alami.


"Semua masalah ini berawal dari diriku." sesal Mona.


"Sudahlah Mona, Aku sudah tidak ingin membahas sesuatu yang hanya akan mengingatkan ku akan luka yang kamu goreskan." ujar Heru yang langsung masuk meninggalkan Mona.


Mona menatap sedih mantan suaminya yang kini tinggal seatap tanpa ada status di antara keduanya kecuali Ayah dan ibu untuk anak-anak mereka.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2