Layunya Bunga Desa

Layunya Bunga Desa
Kehujanan


__ADS_3

Setelah meninggalkan rumah Barra karena kekesalannya pada sang ibu, Kini Lily pergi ke rumah Ayahnya. Namun saat itu hanya ada ibu tirinya yang berada di rumah.


"Ayah udah berangkat kerja Tante?"


"Ya sudah lah, Sudah jam segini, Lagian ngapain kamu pagi-pagi kesini, Bukannya seharusnya kamu sekolah?"


Lily menggeleng pelan dan menundukkan kepalanya.


"Apa kamu memiliki masalah?" tanya Mursidah yang jadi penasaran.


"Enggak kok Tante." saut Lily memalingkan wajahnya.


"Awas ya kalau kamu kesini hanya membawa masalah dan membuat Mas Heru marah!"


Peringatan penuh penekanan membuat Lily ragu untuk mengatakan kehamilannya pada sang Ayah. Ia yang semula ingin menunggu Ayahnya pulang, Membatalkan niatnya dan pamit pulang.


Dengan perasaan sesal dan hancur Lily tak lagi memiliki harapan kepada siapapun.


Ibu yang tidak memahami kesulitannya, Ibu tiri yang terlalu dominan terhadap Ayahnya membuat Lily tak ingin lagi mengadukan nasibnya pada sang Ayah.


•••


Berbeda dengan Lily yang tengah meratapi nasibnya, Mawar tengah berbahagia menikmati wahana permainan di pasar malam yang cukup jauh dari rumah. Fandi sengaja mengajak Mawar jalan untuk bersenang-senang setelah bergelut dengan ujian yang begitu menguras pikiran.


Setelah turun dari wahana terakhir Fandi mendekap tubuh Mawar dengan tawa sumringah. Ada kebahagiaan tersendiri untuk Fandi yang memang tidak pernah lagi menikmati malam-malam seperti itu setelah di disibukan dengan pekerjaannya yang menjadi guru dan memberikan les privat di malam harinya sehingga waktunya habis untuk bekerja.

__ADS_1


Tak hanya Fandi, Mawar juga tersenyum bahagia bisa melewati malam dengan Fandi untuk pertama kalinya setelah cukup lama mereka menjalin cinta, Hari-hari yang ia lalui dengan belajar, Kini hanya tinggal menunggu kelulusan.


Setelah cukup lama mereka saling menatap dengan senyum bahagia, Keduanya melontarkan pertanyaan secara bersamaan


"Apa yang kamu pikirkan?"


Mereka tertawa bersama dan kembali melontarkan kata-kata yang sama secara bersamaan. "Kamu dulu deh, Pak Fandi dulu deh," ucap mereka.


"Baiklah biar Aku saja," ucap Mawar.


"Katakan."


"Rasanya Mawar masih tidak percaya aja, Jika guru idola di sekolah kini menjadi pacar ku."


Fandi tersenyum mendengarnya. Kemudian mencubit pipinya dengan gemas seperti biasanya.


Memang dari semua guru dan murid, Mawar lah yang bersikap cuek padanya, Tidak pernah tergila-gila pada Pak Fandi seperti yang lainnya.


"Memuji tampan pun tidak." sambungnya lagi.


"Lalu apa jika Aku tidak pernah memuji, Pak Fandi tidak mencintai ku lagi?"


Mendengar itu Fandi menarik lengan Mawar, Membuat remaja itu berhadapan dengannya. "Kamu semakin pandai berkata-kata." ungkap Fandi dengan tatapan lekatnya hingga membuat Mawar tak berkedip melihatnya.


Semakin lama tatapan itu semakin lekat hingga tanpa mereka sadari kening mereka telah menyatu. Namun belum sempat mereka menyatukan bibir, Tiba-tiba hujan mengguyur mereka. Mereka yang terkejut secara bersamaan menatap ke atas kemudian Fandi menarik tangan Mawar dan mencari letak dimana ia memarkirkan motornya.

__ADS_1


Setelah menemukannya buru-buru Fandi meninggalkan pasar malam. Namun di perjalanan hujan kian deras hingga pandangan Fandi terbatas. Sementara Mawar yang mulai menggigil terus memeluk erat, Meletakkan dagunya di pundak Fandi.


"Mawar apa kamu menggigil?" tanya Fandi yang merasakan jika Mawar mulai menggigil.


"Iya Pak..." sahutnya kencang.


"Pegangan yang erat Mawar, Sebentar lagi kita sampai."


Mawar memejamkan mata dengan bibir yang gemetar.


Hujan kian deras membuat Fandi juga merasa kedinginan, Meskipun Fandi sudah mengenakan jaket, Namun itu tak cukup menghangatkan karena air hujan yang begitu deras seperti mengalir hingga menembus kulitnya.


Akhirnya setelah kurang dari tiga puluh menit perjalanan, Mereka sampai di rumah dengan selamat, Kemudian Fandi meminta Mawar turun dan merangkulnya masuk ke dalam.


Mereka masuk ke kamar masing-masing untuk mengambil handuk, Setelah itu mereka keluar bersamaan menuju kamar mandi yang memang hanya satu di luar kamar mereka. Mereka terdiam sejenak menatap satu sama lain sembari menahan rasa dingin yang menusuk tulang belulang mereka. Namun Fandi yang meligat Mawar begitu kedinginan mempersilahkan Mawar mandi terlebih dahulu. Kemudian Fandi pergi ke dapur untuk menyalakan kompor untuk menghangatkan tubuhnya. Namun sayangnya kompornya tidak bisa menyala.


"Argh Sial..!!! Aku lupa, Gasnya kan habis." ucapnya kesal.


Setelah itu Fandi kembali ke depan kamar mandi, Menunggu Mawar yang tidak juga keluar. "Kenapa lama sekali... Mawar... Bhrakkk Bhrakkk Bhraakk...!!!" Fandi mengetuk pintu kamar mandi berkali-kali hingga akhirnya Mawar membuka pintunya. Namun karena terburu-buru, Mawar hanya mengenakan handuk yang melilit tubuhnya, Membuat Fandi terdiam menatap Mawar dari ujung rambut hingga ujung kakinya.


Melihat tatapan tajam seperti itu dari Fandi, Mawar menundukkan kepalanya dan bergegas meninggalkan Fandi. Namun lantai yang basah akibat tetesan air yang mengalir dari baju Fandi membuat Mawar nyaris terjatuh sehingga handuk yang ia kenakan terlepas.


Keduanya saling memandang kaget. Kemudian secara bersamaan memandang kebawah dengan mata yang membulat sempurna.


Sontak Mawar langsung mengambil handuknya dan menutupi tubuh sekedarnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2