Layunya Bunga Desa

Layunya Bunga Desa
Cemburu


__ADS_3

Keesokan harinya Mawar dan Fandi berangkat bersama ke sekolah.


Tidak mau ada yang mengetahui kebersamaan mereka, Fandi menurunkan Mawar beberapa meter dari gerbang sekolah.


"Sampai sini saja ya, Gak enak di lihat guru atau murid lain."


"Iya Pak gak papa." jawab Mawar tanpa rasa keberatan. Jujur dia sendiri pun tidak ingin kedekatan mereka menjadi bahan gunjingan teman-teman maupun guru lainnya, Apa lagi ada salah satu guru yang di kabarkan dekat dengan Fandi. "Ahh kenapa Aku selalu lupa untuk menanyakan itu." batin Mawar.


"Udah ya, Sampai jumpa di kelas." dengan mengedipkan mata, Fandi berlalu pergi dengan motornya.


Mawar yang masih memikirkan hubungan Pak Fandi dan Bu Hana tersentak mendengar suara motor yang melaju secepat kilat "Apakah tadi Pak Fandi mengedipkan mata padaku?" ucap Mawar yang tidak begitu yakin.


"Ahhh... Apa yang ku pikirkan." Mawar menepuk kepalanya sendiri dan berjalan menuju sekolahnya.


Sesampainya di kelas, Mawar langsung duduk dengan tenang tanpa ada lagi yang berani menganggunya. Memang sejak Mawar memasukan Indra ke penjara. Teman sekelasnya tidak berani lagi bersikap macam-macam denganya. Hanya saja di belakang sesekali gibahin Mawar yang selalu di istimewakan sekalipun sering telat bahkan tidak masuk berhari-hari.


Meskipun Pak Fandi sebagai wali kelas cukup terbilang adil di mata muridnya. Namun guru lain hingga kepala sekolah selalu memperlakukan Mawar berbeda dari murid lainnya. Terbukti tdak pernahnya Mawar mendapatkan sanksi seperti murid lain ketika terlambat maupun bolos sekolah. Hal itu juga yang menjadi salah satu penyebab Mawar tidak di senangi para siswi, Karena selain menyita perhatian para guru hingga kepala sekolah, Mawar juga menyita perhatian para siswa di sekolah tersebut.

__ADS_1


"Selamat pagi anak-anak." sapa Fandi begitu memasuki ruangan.


"Selamat pagi Pak." saut murid secara serentak.


Selanjutnya Fandi memulai pelajarannya.


Tidak seperti hari-hari biasanya, Kali ini Fandi lebih sering memperhatikan Mawar yang tengah fokus mengerjakan tugasnya.


Padahal selama ini Fandi terbilang cuek kepada Mawar dan lebih bangga di idolakan banyak muridnya. Namun sejak mereka tinggal bersama, Fandi sering kali mencuri pandang, Menatapnya dengan lekat, Seolah meyakinkan hatinya jika cinta tidak memandang usia.


Suara lembut seorang wanita tidak hanya membuat Fandi tersentak, Tapi para murid terutama Mawar pun ikut tersentak mendengar suara seorang wanita menyebut nama Fandi.


Mawar mengalihkan pandangannya ke arah pintu dan melihat Bu Hana wanita berparas ayu yang di kabarkan dekat dengan Pak Fandi.


Mawar terus menatap Bu Hana yang mendekati Fandi dan membisikkan sesuatu padanya. Untuk pertama kalinya Mawar merasa ada sedikit rasa nyeri di sudut hatinya melihat kedekatan mereka.


"Anak-anak... Selesaikan tugas kalian, Bapak tinggal sebentar."

__ADS_1


setelah mengatakan itu, Fandi keluar bersama Bu Hana. Membuat hati Mawar semakin tidak tenang memikirkan apa yang akan mereka lakukan.


"Pak Fandi dan Bu Hana makin dekat saja yah..." ucap seorang siswi yang duduk di bangku sebelah Mawar.


"Iya, Udah cocok banget mereka, Pak Fandi ganteng, Bu Hana cantik." saut siswi di sebelahnya.


"Aku ikhlas deh kalau Pak Fandi dan Bu Hana, Daripada sama muridnya bikin iri saja." timpal yang lainnya.


Mawar menghelai nafas dalam-dalam. Ntah kenapa mendengar itu hatinya sungguh merasa sesak. Seolah tidak terima jika itu benar-benar terjadi.


"Kenapa hatiku merasa seperti ini." batin Mawar mengelus-elus dadanya.


Jam istirahat Mawar kembali melihat Pak Fandi dan Bu Hana sedang berbincang di depan kantor. Mereka terlihat begitu asik berbincang hingga tak jarang Bu Hana tertawa lepas sembari memukul lengan Pak Fandi.


"Sebenarnya apa yang guru sok tampan itu katakan sehingga Bu Hana tertawa lepas begitu." batin Mawar yang semakin merasa kesal.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2