Layunya Bunga Desa

Layunya Bunga Desa
Menggoda


__ADS_3

Mona mendekati Lily yang tengah termenung menatap keluar jendela. Seperti halnya Lily yang meratapi nasibnya, Mona pun sudah tidak merasakan kebahagiaan dalam pernikahannya dengan Barra, Sudah berbulan-bulan lamanya Barra tidak lagi mau menyentuhnya dengan berbagai macam alasan, Tidak ada lagi gair'ah membara seperti saat mereka menjalin hubungan saat sembunyi-sembunyi di belakang Heru, Suami sah nya saat itu. Penyesalan tentu Mona rasakan, Apalagi melihat nasib Lily saat ini.


"Lalu apa yang ingin kamu lakukan sekarang Lily?" tanya Mona mengagetkan lamunan Lily.


Lily berbalik badan menatap ibunya. Kemudian ia menangis dan memeluknya.


"Aku tidak tahu ibu, Aku tidak tahu..." tangis Lily di pundak ibunya.


"Aku tidak tahu bagaimana menjalani ini semua, Aku tidak mau hamil ibu... Aku tidak mau melahirkan tanpa suami."


"Apa maksud mu Lily?" Mona mengangkat kepala Lily dari pundaknya. Menatapnya tajam meminta penjelasan.


"Ibu... Hanya ibu dan Mawar yang mengetahui ini, Aku tidak ingin melahirkannya, Beritahu Aku bagaimana caranya agar bayi ini tak lahir ke dunia..."


"Lily! Meskipun ibu jauh dari kata baik, Tapi ibu tidak akan pernah membiarkan mu melakukan itu, Kamu sudah berbuat dosa, Apa kamu ingin menambah dosa mu?"


"Sejak kapan ibu peduli dosa? Selama bertahun-tahun ibu menghianati Ayah ibu tidak pernah memikirkan dosa, Lalu sekarang ibu ingin mengajariku tentang dosa dan pahala?"


"Lilyana! Meskipun ibu banyak berbuat dosa, Tapi ibu tidak pernah berpikir untuk membunuh anak-anak ibu, Tapi kamu? Pikiran mu jauh lebih bejad dari ibu!"


"Oh... Begitu, Baiklah... Anda memang pantas di campakkan oleh Barra maupun Ayah!" setelah mengatakan itu, Lily pergi meninggalkan rumah Barra dengan kesal. Sementara Mona hanya bisa menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan perasaan sedih atas apa yang putri kandungnya ucapkan.


•••


Malam harinya, Mawar menatap Fandi yang melamun tanpa memakan makanan yang ada di hadapannya. Meskipun ia sudah berusaha membuat Fandi tertawa dengan kelakarnya, Namun hanya senyum tipis yang Fandi lemparkan untuknya.

__ADS_1


"Huft! Sejak pulang sekolah, Mawar perhatikan Pak Fandi diam saja, Apa Aku berbuat kesalahan?" tanya Mawar penasaran.


"E... Tidak, Aku hanya sedang banyak kerjaan."


"Setiap hari juga banyak kerjaan kan?"


"E-ya, Tapiii... Menjelang pengumuman kelulusan, Kerjaan ku semakin banyak."


"Apa perlu ku bantu?"


"Ya, Kemarilah." Fandi meraih tangan Mawar dan menuntunnya hingga Mawar berpindah duduk ke pangkuannya.


Seperti anak kecil di atas pangkuan Ayahnya, Begitu juga Fandi memperlakukan Mawar. Saling berhadapan dan menatapnya begitu dalam.


"Kenapa Pak Fandi menatap Mawar seperti itu?" tanya Mawar yang menjadi gugup.


"E-ya boleh saja, Tapi tadi bilangnya pengin di bantu."


"Iya, Seperti ini sudah cukup membantu ku, Cup..." Fandi mengecup pipi Mawar dan membelainya kemudian kembali menatapnya tajam.


"Se-sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Mawar yang merasa ada yang aneh dengan sikap Fandi.


"Tidak ada, Aku hanya ingin menatapmu seperti ini, Menatap mu dari jarak dekat dan menghirup aroma tubuh mu yang selalu membuat ku rindu."


"Eummm... Boleh Mawar tanya?"

__ADS_1


"Katakan?"


"Mawar tau Mawar masih belum cukup dewasa, Tapi Mawar benar-benar mencintai Pak Fandi, Apa kelak kita akan menikah?"


Mendengar pertanyaan polos dari Mawar, Fandi tersenyum dan menyelipkan anak rambut Mawar ke belakang telinganya.


"Tentu saja."


"Benarkah? Kapan?"


"Hey... Apa kamu sudah begitu tidak sabar menjadi istri ku?" tanya Fandi menarik pinggang Mawar hingga tubuh mereka merapat sempurna. Membuat keduanya terdiam saling menatap hanya dari jarak beberapa centi.


Susah payah Mawar menelan salivanya ketika merasa ada sesuatu yang bergerak di bawah sana.


Melihat mimik wajah Mawar yang seperti itu membuat Fandi tertawa menundukkan wajahnya sesaat.


"Apa kamu merasakannya?" goda Fandi.


"Hah!? Apa?"


Fandi kembali tertawa melihat kebingungan Mawar dan mencubit pipinya dengan gemas, Kemudian menurunkan Mawar dari pangkuannya.


"Sudah ahh, Mau siap-siap berangkat." ujar Fandi yang dengan cueknya meninggalkan Mawar yang masih berdiri bingung.


"Apa sih yang di maksud Pak Fandi?" batin Mawar sembari menggaruk-garuk kepalanya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2