
Keesokan harinya seperti bisa, Tantenya Fandi mengantarkan sarapan untuk Fandi. Dengan sangat hati-hati dan sedikit demi sedikit ia membuka pintu. Namun ia tidak melihat keberadaan Fandi di semua sudut kamarnya.
"Kemana dia," ucapnya sambil membuka lebar pintu itu. Baru saja wanita paruh baya itu masuk, Fandi yang bersembunyi di belakang pintu langsung menyelinap pergi. Tante yang menyadari hal itu langsung berteriak memanggil suaminya.
"Maaasss... Fandi kabur..." teriaknya.
Mendengar itu Om langsung berlari untuk melihat. Dan secara bersamaan Fandi juga berlari ke arah berlawanan sehingga mereka bertabrakan dan terjatuh hingga terjungkal. Om yang sudah kalah tenaga dari Fandi tidak dapat segera bangkit mengejar Fandi yang langsung melarikan diri dari rumah Om nya. Namun lagi-lagi pelariannya terhenti ketika tanpa melihat Fandi menabrak sebuah mobil yang lewat.
Fandi pun kembali terjatuh dan kali ini ia cukup merasakan sakit di dada karena benturan itu. Ia memegangi dadanya dan berusaha bangkit, Akan tetapi ia kembali terjatuh karena kurangnya keseimbangan.
"Anda tidak apa-apa?" tanya seseorang yang suaranya tidak asing di telinga Fandi. Fandi pun menoleh ke belakang dan begitu terkejut ternyata mobil yang ia tabrak adalah mobil Ayahnya.
"Fandi..."
"Papa..." Fandi kembali berusaha bangkit dan ingin lari dari Ayahnya. Namun Fandi segera di hentikan dengan cara mencekal tangannya.
"Masuk ke mobil!" tegasnya.
__ADS_1
"Nggak Pa, Fandi harus menemui Mawar, Pasti ia cemas dan mengira Aku meninggalkannya."
"Kamu memang harus meninggalkan gadis itu Fandi! Dia tidak layak untuk mu! Kamu seorang guru muda tampan dan mapan, Papa mu juga orang terpandang, Bagaimana bisa kamu menikahi gadis kecil yang tidak setara dengan kita."
"Papa..."
"Pa pa belum selesai bicara!"
"Dengar Fandi! Dan yang paling harus kamu ingat, Kelakuan gadis itu sangat tidak terpuji, Papa tidak mungkin membiarkan mu menikah dengan gadis seperti itu."
"Seperti apa Pa? Papa belum mengenalnya!"
"Apa!? Jadi maksudnya Mawar datang ke sini?"
"Ya, Dia datang dengan segala kebohongannya, Dia mengatakan jika dia hamil padahal jelas-jelas dia sedang menstrulasi apakah itu menunjukkan jika dia gadis baik-baik?"
Fandi terdiam mendengarkan seakan mulai terpengaruh dengan ucapan Ayah nya.
__ADS_1
"Fandi, Pernikahan bukan hanya sekedar cinta-cintaan antara kamu dan dia, Tapi lebih dari itu, Kamu harus memikirkan bagaimana wanita itu menjadi istri yang baik, Menjadi ibu untuk anak-anaknya kelak, Jika kamu menikahi gadis kecil sepertinya di tambah dengan sikapnya yang memalukan bagaimana dia akan mengurus rumah tangga mu?"
Fandi menatap Ayahnya seakan membenarkan apa yang Ayahnya katakan. Keinginannya untuk menemui Mawar pun tidak lagi menggebu, Terbukti ketika Ayahnya membimbingnya masuk ke mobil, Fandi tidak memberontak dan hanya mengikuti perintah Ayah nya.
Melihat Fandi yang hanya diam saja setelah ia memberikan nasihatnya, Ayah kembali menanamkan keraguan di hati Fandi agar tidak lagi menemui Mawar apalagi menikahinya.
"Ayah hanya menginginkan hal yang terbaik untuk mu Fandi, Ingat kamu adalah seorang guru bagaimana jika orang-orang tahu kamu melakukan sesuatu yang tidak terpuji pada muridnya, Pada gadis di bawah umur, Tentu itu bukan hanya mencoreng nama baik mu saja, Itu juga akan menodai citra buruk seorang guru, Sebuah pekerjaan yang paling mulia, Mencerdaskan anak-anak bangsa tapi ternoda karena ulah mu!" Ayah sengaja mengatakan itu agar Fandi lebih memikirkan citra baik para guru.
"Tapi Pa, Jika Fandi tidak bertanggung jawab, Tidak menikahi Mawar bukan tidak mungkin kan jika Mawar akan diam saja, Bisa saja dia melaporkan Fandi ke polisi."
"Itu kejadiannya kapan Fandi? Kejadiannya sudah cukup lama, Tidak akan ada bukti yang menunjukkan jika kamu telah melakukan itu padanya, Lagipula siapa yang bisa menjamin, Setelah bersama mu dia tidak bersama orang lain, Kan yang Papa denger dia juga sering gonta ganti lelaki."
"Itu tidak benar Pa, Papa tau darimana kabar seperti itu?"
"Tidak penting Papa tau darimana yang jelas kamu jangan sepenuhnya percaya dengan nya, Ingat apa yang baru saja Papa katakan kepada mu, Kamu ini seorang guru, Jaga wibawa mu!"
Fandi menghelai nafas dalam-dalam. Ia tidak tahu apakah ia harus menuruti rasa cintanya atau mengikuti logikanya.
__ADS_1
Bersambung...