Layunya Bunga Desa

Layunya Bunga Desa
To be Continued


__ADS_3

Waktu terus berjalan, Tak terasa Pak Penghulu sudah menunggu lebih dari tiga puluh menit. Membuat Pak Penghulu merasa sudah tidak sabar karena beliau juga harus menikahkan di tempat lain.


"Kira-kira berapa lama lagi Pak?" tanya Pak Penghulu kepada Heru.


"E... Tunggu sebentar lagi Pak." ujar Heru yang juga mulai merasa panik.


"Apa tidak sebaiknya kita menikahkan mereka yang sudah siap saja, Sambil menunggu calon pengantin lainnya datang?" usul Pak Penghulu.


Mendengar itu Heru menoleh ke keluarga Raka yang terlihat rasa lelah di wajah mereka, Terutama Raka dan ibunya yang mulai menatapnya sinis. Membuat Heru kembali menghadap Pak Penghulu dan nenyetujui usulannya.


"Baiklah, Kalau begitu nikahkan mereka sekarang."


Melihat Pak Penghulu mulai menikahkan kakaknya, Mawar kian resah karena Fandi calon suaminya belum juga datang, Terlebih saat kata Sah terucap dari para saksi yang menandakan selesainya pernikahan Lilyana dan Raka membuat Mawar berlari ke luar menantikan kedatangan Fandi sesuai yang para perangkat Desa janjikan.


"Sampai pernikahan Kak Lily selesai mereka belum juga sampai," ucap Mawar sembari mencoba menghubungi mereka.


"Mawar..."


"Revan..."


"Bagaimana apa mereka sudah bisa di hubungi?"


"Ini sudah nyambung tapi belum di angkat."


"Mawar, Pak Penghulu bilang jika dalam sepuluh menit lagi Fandi tidak datang maka Pak Penghulu harus pergi."


"Iya tapi, Hallo... Hallo..." sambungan telepon di angkat namun suara tidak begitu jelas. Begitu mulai terdengar jelas, Mawar di kagetkan oleh Ayahnya yang memohon kepada Pak penghulu.


"Mohon tunggu sebentar lagi Pak," ucap Heru memohon.


"Maaf Pak Heru, Saya sudah menunggu cukup lama, Sekarang saya harus menikahkan di desa sebelah."

__ADS_1


"Sepuluh menit lagi Pak, Saya Mohon."


Melihat Ayahnya terus memohon, Mawar mendekati Ayahnya untuk tidak lagi melakukannya meskipun hatinya juga merasa sangat kecewa karena Fandi tidak juga datang.


"Biarkan Pak Penghulu pergi Ayah."


"Tapi Mawar, Kamu belum menikah."


"Tidak papa Pak, Aku..." Mawar menghentikan ucapannya ketika melihat mobil berhenti di depan rumahnya.


Seluruh keluarga tak terkecuali Pak Penghulu melihat ke arah mobil.


Beberapa orang turun dari mobil itu antara lain Pak Lurah setempat, Lurah dimana Fandi tinggal dan perangkat Desa lainnya.


Sementara Mawar kian resah karena tidak juga melihat sosok pria yang begitu ia rindukan. Hingga akhirnya senyum Mawar merekah ketika melihat Fandi juga turun dari mobil tersebut.


"Pak Fandi..." seketika senyum Mawar terhenti saat menyadari Fandi yang hanya mengenakan celana beludru, Kaos dan jaket berwarna senada.


Berbagai macam pertanyaan berada di benak Mawar hingga rasa ingin tahunya itu terurai oleh Pak Lurah yang mendekatinya.


"Mawar, Kami membawa Fandi kemari tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya, Jadi dia tidak ada persiapan apapun. Tapi kamu jangan khawatir, Dia masih memiliki uang untuk mahar."


"E... Apa Pak Fandi setuju, Atau dia hanya terpaksa?"


"Tidak perduli dia setuju atau tidak Mawar yang jelas dia mau kemari dan siap menikahi mu."


Mawar terdiam menatap Fandi yang juga menatapnya.


"Jika kamu merasa ragu, Kamu bisa membatalkannya Mawar, Ini belum terlambat."


Mendengar itu, Revan mendekati Mawar dan memintanya untuk memikirkan ulang seperti yang Pak Lurah sarankan. Namun Mawar bersikeras untuk melanjutkan pernikahannya meskipun tanpa restu dari kedua orang tua Fandi.

__ADS_1


Karena keputusan Mawar yang sudah tidak bisa di ganggu gugat oleh siapapun, Akhirnya Pak Penghulu pun menikahkan mereka.


Tanpa saling menyapa meskipun duduk berdampingan, Fandi mulai mengucapkan lafal ijab dengan mahar berupa uang satu juta rupiah. Dengan di saksikan oleh kedua keluarga serta kedua perangkat desa, Akhirnya keduanya sah menjadi suami istri.


Acara pun di tutup dengan bacaan Do'a dan saling mengucapkan selamat pada kedua mempelai.


Setelah semua orang pamit pulang dan Lily di boyong ke rumah Raka, Kini hanya tinggal Fandi dan kedua temannya yang masih setia mendampingi Fandi seakan tak membiarkan Fandi berduaan dengan Mawar. Namun Mawar yang sudah begitu merindukan Fandi tetap mendekati Fandi meskipun Fandi berasa di tengah-tengah mereka.


"Pak Fandi..."


"Mawar..."


Mawar langsung memeluk Fandi dan menangis di dadanya. Fandi pun membalas pelukan Mawar dan mengusap lembut punggungnya.


"Kenapa Pak Fandi mencoba lari dari Mawar?"


"Maafkan Aku Mawar, Aku sudah membuat mu kecewa, Tapi percayalah apapun yang terjadi, Aku sangat mencintai mu."


Mendengar itu Mawar mengurangi pelukannya dan menghapus air matanya.


"Aku sangat mencintai mu Pak Fandi."


"Ya Aku tau itu." Fandi kembali mendekap erat tubuh Mawar.


Setelah itu Fandi meminta izin untuk membeli keperluan mandi dan pakaian ganti karena ia tidak membawa apapun. Tanpa menaruh curiga Mawar pun mengizinkan Fandi pergi bersama kedua temannya. Namun hingga sore berganti malam, Malam berganti siang, Dan hari berganti Minggu, Fandi tidak juga kembali ke rumahnya.


T.A.M.A.T


Terimakasih Sudah mendukung karya receh ini, Baca novel Author yang lainnya yah dan nantikan Novel baru Author setelah Author tidak lagi sibuk di dunia nyata.


Sampai jumpa di novel HIJRAHNYA BUNGA DESA Sekuel dari LAYUNYA BUNGA DESA 🤗

__ADS_1



__ADS_2