
Pagi harinya, Bu Hana sengaja berangkat lebih awal karena ingin mampir ke rumah Fandi untuk memastikan dugaannya. Dan benar saja begitu dia sampai depan rumah Fandi, Tak lama kemudian Bu Hana melihat Fandi keluar merangkul pundak Mawar dengan begitu mesra. Hampir saja Bu Hana tertangkap basah karena kecemburuannya. Tapi ia segera bersembunyi sebelum Fandi melihat dirinya.
"Ada apa?" tanya Mawar yang melihat Fandi memandang serius ke ujung jalan.
"Aku seperti melihat seseorang tengah mengawasi kita." ujar Fandi yang merasa yakin meskipun ia tidak melihat siapapun.
"Tidak ada siapapun." saut Mawar yang juga melihat kesana-kemari.
"Mungkin ini perasaan ku saja, Baiklah ayo kita berangkat, Nanti kesiangan."
Mawar mengangguk dan memeluk erat pinggang Fandi serta membenamkan dagunya di pundak Fandi.
Setelah motor mereka berlalu pergi, Bu Hana keluar dari persembunyiannya, Ia memandang punggung mereka yang sudah semakin jauh dari pandangan, Dengan rasa cemburu kesal menjadi satu, Bu Hana berjalan mengambil motornya yang sengaja ia tinggalkan di ujung jalan agar tidak ketahuan Fandi.
"Lihat saja, Kisah kalian akan segera berakhir," ucap Bu Hana tersenyum penuh arti.
Sesampainya di tempat biasa Fandi menurunkan Mawar, Fandi masih merasa resah, Ia merasa benar-benar melihat seseorang sedang mengintai dirinya. "Tapi siapa?" batin Fandi.
"Pak..."
__ADS_1
"Hmm?" Fandi tersentak ketika Mawar memanggilnya.
"Pak Fandi kenapa, Sejak di jalan diam saja?"
"E... Tidak, Aku hanya memikirkan apakah kamu akan bisa mengerjakan pelajaran matematika? Otak mu ini kan minim banget kalau pelajaran matematika," ucap Fandi sambil mentoyor kening Mawar. Ia sengaja mengalihkan pikirannya agar hatinya tidak terus merasa resah.
"Iiih Pak Fandi... Lagian pelit banget jadi pacar, Tinggal bareng pun gak mau kasih bocoran." ujar Mawar mengerucutkan bibirnya.
"Diih pacar mah pacar, Masalah pelajaran ya beda lagi, Lagian Aku lebih bangga kamu mendapat nilai rendah tapi hasil pikiran sendiri daripada nilai bagus tapi di kasih contekan."
"Hallah bisa aja alasannya." dengan bibir yang masih mengerucut, Mawar pergi meninggalkan Fandi.
"Pak Fandi..."
Fandi pun menoleh ke belakang dan melihat Bu Hana yang menghentikan motornya tepat di samping kanannya.
"Selamat pagi Pak Fandi..."
"Selamat pagi..." saut Fandi datar. Kemudian ia berlalu melewati Bu Hana. Namun lagi-lagi Bu Hanna menghentikannya.
__ADS_1
"Tunggu Pak Fandi..."
"Ada apa?"
"Maaf pak Fandi, Aku lihat tadi Pak Fandi membonceng Mawar?"
"Oh... Ya, Tadi gak sengaja ketemu di jalan saat dia nunggu angkot, Jadi Aku kasih tumpangan."
"Jika itu benar, Kenapa tidak sampai sekolahan? Kenapa di turunkan di sini?"
"A-e... Itu... Itu tidak ada urusannya dengan mu!" Fandi bergegas pergi dengan kesal. Sementara Bu Hana tersenyum smirk menatap punggung Fandi yang terlihat gugup menjawab pertanyaannya.
"Pak Fandi... Pak Fandi... Anda itu tidak pandai dalam berbohong," ucap Bu Hana yang kemudian menjalankan motornya.
Di sekolah, Fandi mulai merasa gusar memikirkan pertanyaan Bu Hana yang seperti mengetahui sesuatu tentang hubungannya dengan mawar. Membuat ia tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya.
"Selama ini Aku selalu menolaknya, Bagaimana jika Bu Hana merasa sakit hati dan menyebarkan pada guru dan anak-anak jika dia melihat ku dan Mawar?" batin Fandi.
Selama Fandi menyatakan cintanya pada Mawar, Fandi begitu santai menjalani hubungannya mengingat Mawar yang masih belum cukup dewasa, Sehingga Fandi tidak memikirkan apa yang harus ia lakukan jika seseorang mengetahui hubungan mereka, Terlebih jika selama mereka tinggal bersama tidak terendus oleh warga karena jarak rumah tetangga yang cukup jauh-jauh, Membuat Fandi tidak terbebani menjalani hari-harinya dengan Mawar.
__ADS_1
Bersambung...