Layunya Bunga Desa

Layunya Bunga Desa
Kecupan Pertama


__ADS_3

Setelah selesai makan malam, Suasana menjadi canggung tak seperti biasanya. Fandi tidak tau apa yang harus dilakukan untuk menghabiskan malam bersama seperti yang ia katakan barusan. Apalagi melihat Mawar beranjak bangun membuat Fandi panik dan langsung ikut berdiri.


"Pak Fandi mau ngapain?"


"Mawar mau kemana?"


"Mawar mau ke kamar mandi."


"Oh kirain mau tidur, Hehe..." Fandi menggaruk-garuk kepalanya.


Mawar menggelengkan kepala dan bergegas pergi ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, Mawar menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nafasnya perlahan. Ia bukannya tidak gugup di depan Fandi. Namun ia berusaha keras agar kegugupannya tidak terlihat sehingga Fandi akan terus menggodanya.


"Kenapa Mawar lama sekali." ujar Fandi yang mulai bosan menunggu.


"Dia seperti mau malam pertama saja baru jadian dah lama banget di kamar mandi." gumamnya lagi.


Fandi yang sudah sabar lagi menunggu Mawar yang tidak juga keluar dari kamar mandi, Bergegas menuju kamar mandi.


Fandi mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu. Namun disaat bersamaan pintu terbuka sehingga tangan Fandi mengetuk kening Mawar.


"Aowhhh..." ringis Mawar memegangi keningnya.


"Hagh! Maafkan Aku, Aku tidak sengaja." ujar Fandi yang langsung memegang kedua sisi wajah Mawar sembari meniup keningnya.

__ADS_1


Mawar terdiam menatap keatas dan hanya dapat melihat dagu dan bibir Fandi yang tengah meniup keningnya. Hatinya sungguh berdebar-debar merasakan hembusan nafas Fandi yang terasa begitu hangat.


"Sudah tidak sakit kan? Cup..."


Mawar semakin membelalakkan matanya ketika Fandi mendaratkan kecupannya di kening yang ia ketuk tadi.


Menyadari Mawar diam saja, Fandi menurunkan tangannya dan menatap Mawar yang tengah terbelalak menatapnya.


"Barusan Pak Fandi menci'um ku?" tanya Mawar yang merasa tak percaya.


"E-ya... Kenapa, Kamu mau lagi?"


"Iiih apaan sih..." dengan wajah memerah, Mawar pergi meninggalkan Pak Fandi.


"Mawar..." Fandi bergegas mengejar Mawar dan memintanya duduk di sofa saling berhadapan.


"Jadi Aku pacar pertama mu?" tanya Fandi ketika pembahasan mereka berganti tentang kisah asmara.


Mawar menganggukkan kepalanya. Selama ini meskipun banyak yang menawarkan cinta pada Mawar. Namun Mawar tidak pernah menerimanya sehingga ia tidak pernah menjalin cinta dengan siapapun.


"Kalau Pak Fandi sendiri pernah punya pacar?"


"Tentu punya lah, Masa orang ganteng gini gak pernah pacaran," saut Fandi dengan penuh percaya diri.


"Tepatnya bukan karena ganteng, Tapi karena tua." saut Mawar tertawa.

__ADS_1


"Sembarangan ngatain tua, Orang kita cuma beda sembilan tahun doang."


"Diiih... Sembilan tahun doang, Satu tahun tuh baru doang."


"Lalu kenapa kamu mau dengan ku yang sudah tua ini?" Fandi langsung merangkak mendekati Mawar, Hingga tubuh remaja itu setengah berbaring di ujung sofa.


Tatapan tajam yang hanya berjarak beberapa centimeter Membuat bibir Mawar kelu tak dapat berkata-kata.


Keduanya menjadi hening, Terus menatap satu sama lain serta sesekali menelan salivanya.


Lambat namun pasti, Akhirnya Fandi mendaratkan bibirnya ke bibir Mawar yang sedikit terbuka.


Mawar membelalakkan matanya merasakan sentuhan bibir yang baru pertama kali ia rasakan. "Begitu kenyal dan hangat." batin Mawar membiarkan Fandi menyesap bibirnya.


Sementara Fandi yang tidak mendapat penolakan, Secara alami menggerayangi tubuh Mawar yang terlihat pasrah menikmati setiap sentuhan yang selama ini membuatnya penasaran.


"Mawarrr..." bisik Fandi dengan suara beratnya. Membuat Mawar meremang merasakan hembusan nafasnya yang hangat di tengkuk lehernya.


Mawar yang sudah terbawa suasana memeluk erat Fandi dan menci'umi bahunya.


"Pak Fandii..." lirih Mawar sembari memejamkan mata.


"Jangan panggil Aku Pak lagi jika kita berada di rumah." ujar Fandi mengurai pelukannya.


Mawar menatap Fandi kecewa. Karena rasa penasaran yang baru saja ia nikmati, Dalam sekejap di hentikan ketika hasratnya mulai menguasai tubuhnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2