
Sayup-sayup Fandi yang masih tertidur pulas mendengar suara seseorang menangis. Fandi yang mulai terusik dengan suara itu perlahan mulai membuka mata. Samar-samar ia menatap langit-langit kamarnya dan mendengar suara tangisan itu semakin jelas. Fandi yang menyadari jika tangisan itu bukanlah mimpi menoleh ke sisi kanan dan melihat Mawar yang duduk membelakanginya sambil menangis sesenggukan.
Melihat itu Fandi kembali menatap ke atas, Memejamkan mata dan mengingat apa yang sudah ia lakukan pada Mawar.
Fandi mengatupkan bibirnya sembari mengepalkan tangannya.
Ada penyesalan di hatinya karena tidak bisa mengendalikan diri sehingga ia yang selama ini melindungi Mawar dari para kumbang yang mengincar madu sang Mawar, Justru dirinyalah yang meneguknya.
"Apa yang ku lakukan padanya." sesal Fandi dalam hati.
Setelah itu Fandi yang menyadari tidak mengenakan apapun melihat kesana kemari mencari celananya. "Ahh sial, Celana itu ada di lantai di depan Mawar duduk." batinnya kesal. Kemudian dengan terpaksa ia membalut tubuhnya dengan selimut yang kini menutupi separuh badannya. Kemudian Fandi melangkah dengan kedua lututnya mendekati Mawar.
"Mawar..." ucapnya lembut sambil memegang pundaknya. Sontak Mawar kaget dan berdiri dengan gerakan memutar menatap Fandi.
"A-a-apa yang sudah kita lakukan Pak?" tangisnya.
Fandi hanya menunduk menyesali perbuatannya. Namun ia harus tetap berusaha tenang untuk menenangkan Mawar. Kemudian Fandi ikut turun dari ranjang dan kembali mendekati Mawar.
Fandi memegang kedua sisi wajah Mawar dan membuatnya Mawar menatapnya. "Lihat Aku Mawar, Jangan takut."
"Tapi bagaimana kalau Aku hamil Pak?"
"Itu tidak akan terjadi, Tapi jika itu terjadi Aku tidak akan lari dari tanggung jawab ku, Percayalah."
__ADS_1
"Pak Fandi janji?"
"Ya, Aku janji."
Mendengar itu Mawar merasa tenang dan memeluk Fandi.
Fandi mengusap-usap punggung Mawar sembari berpikir apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
"Maafkan Aku Mawar, Semua terjadi begitu saja." sesalnya.
"Mawar juga salah Pak, Tapi Mawar mohon jangan pernah tinggalin Mawar."
"Ya, Sekarang hapus air mata mu dan pergilah mandi."
Sementara Fandi duduk di tepi ranjang, Menopang kepalanya dengan kedua tangannya. Ia benar-benar merasa shock dengan perbuatannya sendiri. Selama ini ia tidak pernah berpikir untuk mereguk kenikmatan sebelum menikahi Mawar. Namun tadi malam situasi dan kondisi yang begitu mendukung membuat Fandi kehilangan kendali dan menodai citranya sebagai seorang guru yang seharusnya di gugu dan di tiru.
"Sekarang bagaimana?" ucap Fandi yang merasa Frustrasi.
•••
Sementara itu, Heru yang sejak semalam merasa resah mengingat putri-putrinya menyempatkan waktu mengunjungi mereka sebelum berangkat bekerja tanpa memberitahu istri tercintanya.
Setelah menempuh perjalanan kurang dari satu jam, Akhirnya Heru tiba di rumah lama. Ia turun dari motornya dan berdiri menatap rumah yang dulu menjadi saksi betapa sakitnya penghianatan Mona. Karena hal itu juga semenjak menikah lagi Heru hampir tidak pernah kembali ke rumah itu. Tapi keresahan hatinya sejak semalam membawanya kembali ke rumah itu untuk memastikan jika kedua putrinya dalam keadaan baik-baik saja.
__ADS_1
Perlahan kakinya melangkah ke depan pintu dan mengetuknya.
"Tok... Tok... Tok..."
Beberapa kali Heru mengetuk dan cukup lama ia menunggu, Tak ada satupun jawaban. Membuat hati Heru semakin resah dan mencoba membuka pintu itu.
"Krekkk... Tidak di kunci?" ucapnya heran. Setelah itu perlahan Heru melangkah masuk melihat setiap sudut rumah yang terlihat usang tak terawat, Barang-barang bercampur dengan sampah bekas makanan pun berserakan seperti tak pernah di bersihkan.
Heru melanjutkan langkahnya ke kamar untuk memeriksa putrinya dan alangkah terkejutnya ia saat membuka pintu melihat Lily terkulai lemah di atas tempat tidurnya.
"Lily!" Heru langsung berlari mendekati Lily menarik tangannya perlahan hingga terduduk.
"Apa yang terjadi Sayang? Kenapa kamu begini?" tanya Heru yang merasa hatinya perih melihat anak gadisnya yang begitu lemah dengan tatapan kosong serta air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
"Lily... Lihat Ayah, Ayah sudah di sini, Katakan apa yang terjadi?" Heru memaksa Lily menatapnya dengan cara memegangi kedua sisi wajahnya.
Seolah baru tersadar dari lamunannya Lily menangis hingga bersuara dan langsung memeluk Ayahnya.
"Ayaaah... Hiks... Hiks... Hiksh..."
"Tenanglah sayang Ayah sudah disini, Katakan apa yang terjadi dengan mu dan... Dimana Mawar?"
Mendengar Ayahnya bertanya seperti itu, Lily langsung melepaskan pelukannya dan menatap Ayahnya dengan tegang
__ADS_1
Bersambung...