
Dengan hati hancur, Heru mengajak kedua putrinya pulang.
Sebelumnya ia ke rumah Fandi karena di beritahu oleh Lily yang menaruh curiga pada Mawar yang pergi dengan tergesa-gesa tanpa memberitahu kemana ia akan pergi. Mengingat pertemuannya dengan Mawar ketika sama Pak Fandi, Lily pun mengajak Ayahnya ke rumah Pak Fandi, Dan benar saja mereka menemukan Mawar di sana.
Kini mereka telah sampai di rumah.
Baru saja mereka turun dari motor, Mereka di kejutkan oleh kedatangan Mursidah dan Revan yang sudah menunggunya di teras.
"Ida..." lirih Heru.
"Jadi beberapa hari ini Mas Heru tidak pulang sibuk ngurusin mereka?!" tanya Mursidah yang kelihatan kesal.
"Mereka putri ku!" tegas Heru.
"Lalu Aku siapa? Aku ini istri mu Mas, Revan juga putramu, Apa Mas lupa itu?"
"Ya! Seharusnya Aku melupakan itu agar Aku tidak melupakan putri-putri ku!"
Jawaban tegas dengan tatapan kemarahan Heru membuat Mursidah terhenyak, Karena untuk pertama kalinya Heru berbicara seperti itu kepadanya.
"Apa yang Mas coba ingin katakan?"
Heru menahan amarahnya dan meminta Lily dan Mawar masuk. Begitupun dengan Revan, Heru tidak ingin pertengkarannya di dengar oleh anak-anaknya seperti saat ia bersama Mona.
"Dengar Ida, Selama ini Aku selalu mendengar apapun yang kamu katakan, Termasuk mengenai kedua putri ku, Tapi sekarang tidak lagi, Karena sekarang kamu yang harus mendengarkan ku!" tegas Heru.
__ADS_1
Mursidah menggelengkan kepalanya, Ia tidak habis pikir kenapa Heru berubah seperti itu dalam hitungan hari. "Apa yang membuat mu berubah begitu cepat Mas?"
"Bahkan Aku sudah terlambat berubah Ida, Seharusnya Aku berubah sejak dulu."
"Apa ini menyangkut putri-putri mu? Apa yang terjadi dengan mereka apa mereka hamil?"
"Ida! Jaga mulut mu...!!!"
"Kenapa Mas!? Apa Aku salah, Jika tidak hamil, Apalagi yang membuat Mas berubah dan memilih mereka daripada Aku?"
"Jika kamu tau hal itu akan terjadi pada putriku, Seharusnya kamu membiarkan ku..."
"Apa yang terjadi dengan putri-putri kita?"
"Mona...."
Heru melihat wajah Mona yang penuh luka lebam, Bahkan bibirnya kelihatan pecah dan masih meninggalkan darah kering di sana.
"Apa yang terjadi dengan mu Mona, Kenapa kamu seperti ini?" tanya Heru mendekati.
"Mungkin ini hukuman untuk ku atas apa yang pernah ku lakukan dulu pada mu Mas " tangis Mona.
"Apa Barra yang memukul mu?"
Mona hanya bisa mengangguk dengan tangisannya mengingat bagaimana Barra memukul dirinya berkali-kali hingga tubuhnya terjatuh ke lantai.
__ADS_1
Melihat Heru yang terlihat iba kepada mantan istrinya, Mursidah mendekatinya dan merangkul lengannya seolah ingin menunjukkan kepada Mona.
Mona melirik tangan Mursidah yang memegang erat lengan Heru, Seakan tidak ingin mantan suaminya itu mendekati dirinya walaupun dalam keadaannya yang menyedihkan.
"Aku kesini ingin bertemu dengan anak-anak, Dimana mereka?" tanya Mona mengalihkan pikirannya.
"Mereka ada di dalam, Masuklah," ucap Heru mempersilahkan mantan istrinya masuk.
Melihat itu, Mursidah merasa kesal dan cemburu.
"Kenapa Mas menyuruhnya masuk, Apa Mas ingin membiarkannya tinggal di sini?"
"Jika kamu tidak mau tinggal di sini bersama anak-anak ku maka biarkan Mona yang tinggal di sini bersama mereka.
"Apa maksud mu Mas? Kalian sudah bercerai."
"Kami memangvsudah bercerai, Tapi Mawar dan Lily masih tetap anak kami, Tanggung jawab kami bersama, Dan seharusnya itu kami lakukan sejak dulu."
"Lalu bagaimana dengan Aku dan Revan?"
"Selama ini Aku bisa menerima Revan seperti putraku sendiri, Tapi kamu tidak bisa menerima putri-putri ku seperti anak mu sendiri, Sekarang kamu yang memutuskan, Jika kamu ingin terus bersama ku maka terima mereka seperti anak mu, Tapi jika tidak... Biarkan Aku yang mengurusnya bersama mantan istri ku!"
Mursidah tercengang mendengar ucapan Heru yang bernada mengancam.
Bersambung...
__ADS_1