Layunya Bunga Desa

Layunya Bunga Desa
Kesal


__ADS_3

Keesokan harinya, Mona terbangun dari tidur panjangnya akibat pengaruh obat yang Barra berikan kepadanya. Ia duduk memegangi kepalanya yang terasa begitu berat mengingat-ingat sejak kapan ia tertidur, Netranya mencari-cari suami mudanya yang tidak ada di sisinya.


"Kemana Barra." batin Mona yang kemudian turun dari ranjang dan memeriksa ke kamar mandi.


"Dia tidak ada di kamar mandi, Pergi kemana dia." Mona keluar kamar dan mencari Barra di ruangan lain tapi tidak juga menemukannya.


"Kemana dia sepagi ini," ujarnya lagi.


Tidak menemukan Barra di manapun, Mona ke kamar Mawar berdiat untuk bertanya apakah ia melihat Barra atau tidak. Namun apa yang ia lihat ketika membuka pintu, Membuat Mona membelalakkan mata lebar-lebar.


"Barra!!!" teriak Mona yang langsung masuk ke dalam menyeret tubuh Barra yang telungkup di atas ranjang dimana anak gadisnya biasa tidur.


"Barra! Bagaimana kamu bisa tidur di sini, Dimana Mawar?!" teriak Mona yang terbakar cemburu.


Barra yang belum membuka mata sepenuhnya hanya terdiam bingung sembari mengingat-ingat apa yang terjadi.


Beberapa detik kemudian Barra terkesiap ketika mengingat apa yang ia lakukan pada Mawar.


"Barra! Kenapa diam saja?!" Mona mengayun-ayunkan lengan Barra yang masih saja diam.


Barra menatap Mona sesaat dan kembali mengingat apa yang ia lakukan. "Arrrgh benarkah Aku melakukan itu, Atau Aku sedang berhalusinasi karena masih terpengaruh alkohol, Tapi jika Aku berhalusinasi kemana Mawar?" batinnya sambil melihat setiap sudut kamar.


"Barraaaa!!!"


"Arrrgh!!! Diamlah Mona!" dengan kesal, Barra menyingkirkan tangan Mona dan beranjak pergi meninggalkan Mona yang masih duduk di atas ranjang dengan kecurigaannya.

__ADS_1


"Mawar... Kamu harus menjelaskan ini!" dengan mengeratkan giginya serta mengepalkan tangannya Mona merasa kesal terhadap anak kandungnya sendiri.


•••


Di rumah Fandi, Mawar baru saja keluar dari kamar.


Melihat rumah yang begitu berantakan, Mawar merasa heran karena penampilan Fandi yang begitu rapi ketika sedang mengajar, Sangat berbanding terbalik dengan kondisi rumahnya saat ini. Karena tidak tahu apa yang harus ia lakukan, Mawar berinisiatif mengemasi barang-barang yang berserakan di lantai. Setelah itu Mawar mencari-cari dimana Fandi meletakkan sapunya, Karena tidak menemukannya, Mawar mencari-cari dimana kamar Fandi berada.


Baru saja ia sampai di depan sebuah kamar, Tiba-tiba pintu terbuka hingga mengagetkan keduanya.


"Hey! kau?!"


"M-maaf Pak..."


"E... Itu Pak sapu."


"Sapu? Siapa yang menyuruh mu menyapu? Lihat sudah jam berapa sekarang, Apa kamu tidak akan pergi ke sekolah"


Mawar menunduk sedih sembari menggelengkan kepalanya.


"Kenapa, Ujian sebentar lagi, Apa kamu ingin nilaimu telor semua?"


"Bukan begitu Pak, Tapi buku ku, Seragam ku, Semua ada di rumah ibu."


"Apa susahnya, Sebelum ke sekolah kita mampir ke sana dulu."

__ADS_1


"Tidak Pak."


"Kenapa?"


"Sebenarnya semalem Aku baru melarikan diri dari rumah ibu."


"Melarikan diri? Dari rumah ibu mu sendiri?"


Mawar mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Ada apa Mawar? Sebenarnya apa yang terjadi dengan mu?"


Meskipun semula Mawar merasa ragu untuk menceritakan masalahnya pada Fandi, Tapi akhirnya Mawar menceritakan semua kesulitan hidup nya.


"Sungguh miris sekali nasibnya, Ketika semua orang merasa iri akan kecantikannya. Namun kecantikan itu pula yang menyengsarakannya." batin Fandi yang tidak memungkiri akan kecantikan yang Mawar miliki.


"Sekarang Pak Fandi tau kan gimana keadaan ku?"


"Ya, Aku turut prihatin untuk mu Mawar, Tapi sebaiknya kamu ceritakan ini kepada Ayah mu, Kamu bilang Ayah mu lebih menyayangi mu daripada ibu mu, Jadi bicaralah, Aku yakin beliau tidak akan tinggal diam dan membiarkan mu sendirian menghadapi ini."


Mawar menganggukkan kepalanya, Hatinya merasa sedikit lega karena telah menceritakan beban di hatinya.


Bersambung ....


📌 Maaf baru Up dan cuma dikit, Seharian sibuk di hajatan Om, Sekarang udah ngantuk banget jadi tipis2 aja yah 😁🙏

__ADS_1


__ADS_2