
Setelah cukup lama saling menatap canggung, Mawar melangkah maju melewati Fandi yang berdiri di depannya.
Keharuman yang semerbak dari tubuh Mawar, Membuat Fandi memejamkan mata menikmati keharuman itu. Namun seketika pikirannya muncul apa yang baru saja ia lihat. Membuat Fandi kembali membuka mata dan menarik tangan Mawar ke pelukannya.
Mawar hanya terdiam bingung saat Fandi tiba-tiba memeluknya erat, Membenamkan dagunya di pundak dan mulai menelusuri tengkuk leher Mawar.
Secara alami Mawar memejamkan mata menikmati hembusan nafas yang terasa begitu hangat meniup lehernya. Sesuatu yang belum pernah Fandi lakukan sebelumnya. Yang belum pernah Mawar merasakannya. Rasa cinta di barengi dengan rasa penasaran membuat Mawar membiarkan Fandi terus menelusuri setiap inci tubuhnya, Menikmati setiap desiran yang mengalir ke seluruh tubuhnya hingga tak sadar handuk yang memang belum Mawar lilitkan ke tubuhnya kini telah jatuh ke lantai.
"Hah!" Mawar membuka mata ketika salah satu bulatan kenyalnya di remad tiba-tiba, Membuat Mawar seolah baru menyadari apa yang sudah terjadi. Namun Fandi yang sudah di kuasai bira*hi serta rasa dingin di tubuhnya, Terus melanjutkan aksinya dengan mendorong tubuh Mawar ke dinding. Kini tangan itu kembali meremad bulatan yang menang terbilang lebih besar dari remaja seusianya. Sementara bibirnya mulai menurun ke belahan itu hingga membuat Mawar menengadah ke atas merasakan geli bercampur nikmat yang belum pernah ia rasakan, Apalagi ketika lidah hangat Fandi menyapu pucuk berwarna pink yang masih belum tumbuh sempurna, Membuat Mawar tak bisa menahan desa'han sembari menjambak rambut Fandi.
"Akhhh..." lirih Mawar dengan mata yang terus terpejam. Rasa penasaran bagaimana rasanya seperti apa yang pernah ia lihat saat Lily dengan Raka, Serta rasa cintanya dan percayanya pada Fandi membuat Mawar hanya pasrah menikmati Fandi yang terus memberinya sentuhan-sentuhan nikmat yang selama ini membuatnya penasaran.
__ADS_1
Sementara Fandi yang tidak mendapat penolakan terus menurunkan kecupannya hingga ia berlutut menatap bagian inti yang kini tepat berada di hadapannya. Di lihat seperti itu, Sontak membuat Mawar malu dan menutupinya dengan satu tangannya. Namun itu tak menghentikan Fandi, Mata yang sudah di tutupi kabut gair'ah mendongak ke atas menatap Mawar yang juga terus menatap ke bawah, Menatap Fandi yang kini terlihat seperti budak melayani tuannya. Dengan terus menatap Mawar, Fandi menyingkirkan tangan Mawar dan mendaratkan bibirnya ke bawah sana.
Mawar langsung menutup mata ketika merasakan bibir itu mengecup bagian intinya, Terlebih saat Fandi menyapukan lidahnya ke belahan itu hingga menyentuh area paling sensitifnya membuat Mawar langsung menjambak rambut Fandi di iringi dengan desa'han yang membuat Fandi semakin bergai'rah.
Pria yang yang lebih tua 9th dari Mawar itu mengangkat sebelah kaki Mawar untuk memperdalam permainan lidahnya. Membuat Mawar semakin tak dapat mengendalikan tubuhnya. Rasa nikmat yang luar biasa yang belum pernah Mawar rasakan membuat ia lupa segalanya hanya terbersit di pikiran Mawar "Oh Begi rasanya." batin Mawar yang kemudian merasa ingin buang air kecil.
"Akhhh... Pak..." desa'han itu di barengi dengan ledakan hangat yang keluar dari intinya. Membuat tubuhnya terasa begitu lemas dengan nafas yang begitu memburu.
"Akhhh..." desa'han kecil Mawar mengiringi percobaan pertama Fandi yang ingin menerobos masuk kedalam bunga yang selama ini di perebutkan oleh banyak pria.
Tidak berhasil dengan percobaan pertama, Fandi kembali mencobanya. Kali ini ia sedikit memaksa hingga membuat Mawar memekik keras saat benda tumpul itu mulai merobek pertahanannya. Tidak mau melihat Mawar kesakitan, Fandi berhenti sejenak. Kemudian melanjutkan ketika Mawar sudah kembali tenang.
__ADS_1
Perlahan namun pasti akhirnya benda tumpul itu terbenam sepenuhnya. Tidak mau egois, Fandi membiarkan sesaat menatap Mawar yang memejamkan mata seperti menahan sakit hingga air mata jatuh dari ujung matanya.
Melihat itu Fandi mengusap pipinya, Menyatukan keningnya dan menci'umi wajahnya. Melihat Mawar yang sudah kembali menikmati, Secara perlaha Fandi mulai menggerakkan pinggulnya. Semakin lama semakin cepat, Hingga rasa sakit yang Mawar rasakan kini bercampur rasa nikmat yang belum pernah ia rasakan.
"Akkkhhh Akkkhhh Aakkhh." desa'han demi desa'han terus mengiringi setiap hentakkan yang Fandi berikan. Membuat pria yang cukup berpengalaman itu semakin bersemangat untuk segera mencapai puncaknya.
"Mawaaarrr.... Oughhh...." kini Fandi yang merasa sudah tidak tahan lagi menahan ledakan yang hampir sampai. Dan benar saja beberapa menit kemudian ledakan itu terjadi berbarengan dengan Mawar yang kembali merasa tubuhnya begitu lemas setelah mencapai puncak untuk kedua kalinya.
Fandi menjatuhkan tubuhnya di atas Mawar dengan nafas yang terengah-engah. Tubuh yang semula menggigil kedinginan kini berganti dengan keringat yang membasahi tubuh keduanya.
Bersambung...
__ADS_1