Layunya Bunga Desa

Layunya Bunga Desa
Pencarian


__ADS_3

Hingga malam hari, Mawar tidak juga kembali ke rumah Pak Fandi.


Membuat Fandi merasa khawatir karena Mawar tidak juga mengangkat ponselnya sejak sepulang sekolah.


"Sebenarnya kemana kamu Mawar..." ucapannya kesal.


Karena tidak sabar hanya diam menunggu, Fandi bergegas mengambil kunci motornya dan pergi mencari Mawar.


Tujuan pertama Fandi adalah rumah lama yang dulu pernah Mawar tinggali bersama kedua orang tuanya. Namun sampai di sana, Fandi tidak menemukan siapapun. Rumahnya kosong, Tidak ada Mawar maupun Lily.


Fandi pun bergegas mencari Mawar ke rumah Ayah Mawar dan di sana Fandi di sambut oleh Heru yang merasa heran, Kenapa guru sekolah Mawar yang mencari Mawar di malam hari.


"Ada hubungan apa kalian?" tanya Heru penasaran.


"Tidak peduli apa hubungan ku dengan Mawar, Yang jelas Aku peduli dengannya, Tidak seperti Anda yang tidak pernah ingin tau bagaimana kabarnya, Apakah dia baik-baik saja, Makan atau tidak bahkan aman atau tidak tanpa pengawasan dari kedua orang tuanya."


"Jaga bicaramu Pak Fandi, Aku tidak lepas tangan begitu saja terhadap putri-putri ku, Aku masih membiayai sekolahnya, Keperluannya dan..."


"Benarkah? Kepada siapa Anda memberikannya?"


"Apa maksud mu? Aku selalu rutin mengirimkan jatah bulanan mereka kepada Lily, Bahkan jika belum sampai tanggalnya habis Lily minta lagi pun Aku selalu memberinya, Jika untuk masalah pengawasan, Aku rasa mereka sudah cukup dewasa, Lily juga bisa mengayomi dan mengawasi Mawar, Jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan."


"Anda seyakin itu pada Lily?"

__ADS_1


"Ya, Lily Putri ku, Sejak kecil Aku menanamkan ilmu agama kepadanya. Seperti Aku yakin kepada Mawar, Aku juga yakin kepada Lily. Aku yakin mereka tidak akan berbuat sesuatu yang akan membuat malu Ayahnya."


Fandi tersenyum smirk dan menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar merasa heran karena Heru sama sekali tidak mengetahui apapun tentang kedua putrinya.


"Anda terlalu yakin, Tapi yang terjadi sebenarnya Anda tidak benar-benar mengenal putri Anda." Setelah mengatakan itu, Fandi pergi meninggalkan rumah Heru. Baru saja ia menaiki motornya, Fandi melihat Revan yang baru datang dengan motornya.


Revan menghentikan motornya tepat di depan motor Fandi sehingga menghalangi jalannya.


Revan turun dari motornya, Membuka helm dan melangkah mendekati Fandi. "Sedang apa kamu di sini? Kemana Mawar?"


"Aku sedang mencarinya."


"Mencari? Apa maksud mu mencarinya? Apa yang sudah kamu lakukan padanya?" dengan penuh emosional Revan menarik kerah Fandi dan menyeretnya turun dari motor.


"Santai Bro! Tidak ada yang ku lakukan padanya, Hanya saja Aku coba menghubungi nomor nya tidak pernah di jawab olehnya." jawaban teraman yang Fandi berikan sehingga membuat Revan tak curiga jika sebenarnya Mawar tinggal bersama Fandi.


"Sudahlah, Aku tidak ingin berdebat dengan mu." Fandi kembali ke motornya dan meninggalkan Revan yang masih penasaran.


Sementara Mawar yang tengah di cari-cari oleh Fandi, Tengah menemani Lily mencari Raka di tongkrongan biasanya.


Di sebuah rumah tua yang tidak ada penghuninya di desa sebelah, Nampak Raka dan teman-temannya tengah asyik bermain kartu Remi. Tidak hanya itu, Terdapat juga beberapa lembar uang pecahan seratus ribu dan lima puluh ribu yang di jadikan taruhan serta beberapa botol minuman.


Salah satu teman Raka yang melihat kedatangan Mawar dan Lily, Memberi isyarat pada Raka untuk menoleh ke belakang.

__ADS_1


"Apaan?" tanya Raka yang belum paham apa yang coba temannya katakan.


"Lihat saja, Tuuuuh...." Sambil menaikan sedikit alisnya Ia kembali memberi isyarat pada Raka.


Setelah memahami isyarat itu, Raka menoleh ke belakang dan melihat kedatangan kedua saudara itu. Seketika itu juga Raka langsung berubah sikap. Bahkan tidak ingin teman-temannya mengetahui masalahnya, Ia meminta izin untuk pergi.


"Gue cabut dulu yah..." ujarnya dengan wajah kesal.


"Loh kok cabut sih, Gimana nih dengan permainan kita?"


"Besok aja, Males gue."


"Loe males apa gak mau bayar uang taruhan?" salah satu teman Raka yang sudah terlihat mabuk bangkit dan menarik kerah baju Raka. membuat Lily yang hampir sampai segera berlari menolong Raka.


"Rakaaaa..." Lily memeluk erat tubuh Raka mencegah pria yang terlihat mabuk itu akan menghajar Raka.


"Lepasin! Jangan sakiti dia."


"Jangan ikut campur kamu! Ini urusan laki-laki!"


"Tidak, Aku tidak akan membiarkan mu menyakiti Raka." Lily terus menjadi tameng untuk Raka supaya pria itu tidak menghajar kekasihnya. Namun di luar dugaan, Pria itu menarik tangan Lily dan menghempasnya dengan kasar.


"Kak Lily...!" teriak Mawar.

__ADS_1


Mendengar terikan Mawar, Perhatian semua orang tertuju pada kecantikan Mawar. Tak terkecuali dengan Raka yang tidak menyangka Mawar yang selama ini ia incar, Ikut serta mencari dirinya.


Bersambung...


__ADS_2