Layunya Bunga Desa

Layunya Bunga Desa
Penyesalan Seorang Ayah


__ADS_3

Lily masih terdiam bingung jawaban apa yang harus ia berikan. Karena selama ini jika Ayahnya menelpon dan menanyakan Mawar, Lily selalu mencari berbagai macam alasan supaya ia bisa hidup bebas tanpa aturan dari Ayahnya. Selain itu Lily tidak peduli dan tidak mau tahu dimana Mawar akan tinggal.


"Lily... Jawab pertanyaan Ayah, Dimana Mawar?!"


Lily yang tidak memiliki jawaban, Bersimpuh memegang kaki Ayahnya, Ia menangis sejadi-jadinya atas apa yang terjadi pada dirinya dan juga Mawar yang terakhir kali ia tinggalkan bersama teman-teman Raka. Hingga saat ini Lily tak mengetahui bagaimana nasib adiknya itu.


"Lily! Ayah tanya sekali lagi dimana Mawar! Dan apa yang terjadi dengan mu?!"


"Ayah... A-aku tidak tahu dimana Mawar." tangisnya.


Mendengar itu, Heru semakin naik pitam, Ia membungkukkan badannya dan mengangkat kedua lengan Lily hingga berdiri.


"Apa maksud mu tidak tahu Lily?!"


"Ayah maafkan Aku... Maafkan Aku..."


"Ayah tidak akan memaafkan mu sebelum kamu mengatakan dimana Mawar berada!"


"Aku benar-benar tidak tahu Ayah, Terakhir kali bertemu, Aku meninggalkannya di desa sebelah bersama empat laki-laki." Lily terus menangis membayangkan malam itu.


"Meninggalkannya dengan empat laki-laki? Apa maksud mu Lilly?"


Karena tidak bisa lagi berbohong, Lily menceritakan semua kejadian malam itu, Bahkan kehamilannya bersama Raka juga Lily ceritakan tanpa ada lagi yang di tutup-tutupi.


Mendengar semua cerita miris putri-putrinya, Heru menjatuhkan diri di lantai. Ia menyesali karena selama ini lebih mementingkan kebahagiaannya ketimbang memperhatikan putrinya yang tengah tumbuh menjadi gadis remaja.

__ADS_1


"Apa yang sudah ku lakukan kepada putri-putri ku, Apa bedanya Aku dengan Mona?" tangisnya penuh penyesalan.


"Ayah..."


Mendengar Lily memanggilnya, Heru menghapus air matanya dan menoleh ke belakang mengusap air mata yang membasahi pipi putrinya. "Tenanglah sayang, Aku akan membuat Raka mempertanggung jawabkan perbuatannya."


"Lalu bagaimana dengan Mawar Ayah?" tanya Lily sedih.


"Kita akan mencarinya, Jika tidak ketemu, Kita lapor polisi."


Lily mengangguk dan memeluk Ayahnya. Hatinya merasa sedikit lega karena kini ia tidak lagi menjalani hari-harinya seorang diri.


•••


Di rumah Fandi, Untuk pertama kalinya, Mereka sama-sama merasa canggung. Meskipun satu meja makan, Mereka hanya saling melirik satu sama lain, Dan akan memalingkan pandangannya jika ketahuan tengah mencuri pandang.


"A-e... Aku angkat telepon dulu." tanpa menunggu Mawar menjawab, Fandi langsung membawa ponselnya pergi dan bicara di teras rumahnya.


"Hallo..."


"Fandiii... Kapan pulang, Bukannya sudah libur?" tanya seorang wanita di ujung telponnya.


Secara diam-diam Mawar mendengarkan perbincangan Fandi dari balik pintu.


"A-e... Seminggu lagi Ma,"

__ADS_1


"Ma? Apa itu ibunya Pak Fandi?" batin Mawar.


"Baiklah, Kalau sudah libur, Langsung pulang ya, Mama gak mau nunggu lebih lama lagi."


"Jangan khawatir ma, Fandi janji akan langsung pulang."


Telpon pun berakhir, Fandi terdiam menatap layar ponselnya sejenak, Kemudian melangkah masuk ke dalam.


"Jadi Pak Fandi mau ninggalin Aku?" tanya Mawar yang mulai meneteskan air matanya.


Fandi menoleh ke samping dan melihat Mawar berdiri di sana.


"Apa kamu menguping pembicaraan ku?" tanya Fandi.


"Jawab saja pertanyaan ku Pak, Apa Pak Fandi akan pulang dan meninggalkan ku?" Mawar semakin berderai air mata, Ia benar-benar merasa takut jika Fandi pergi meninggalkannya setelah apa yang sudah terjadi.


"Mawar... Tenanglah, Tidak ada yang akan meninggalkan mu." Fandi menangkup wajah Mawar dan mencoba menenangkannya.


"Pak Fandi tau bagaimana keluarga ku, Apa pak Fandi juga akan meninggalkan ku seperti mereka?"


"Mawar... Sudah ku katakan Aku tidak akan pernah meninggalkan mu. Ya... Memang tadi Mama ku telpon menyuruh ku pulang karena memang setiap libur sekolah Aku selalu pulang ke kampung halaman, Jadi tidak ada hubungannya dengan mu Mawar."


"Lalu bagaimana dengan ku jika Pak Fandi pulang, Aku tidak berani tinggal di rumah ini sendiri, Bagaimana jika ada orang yang berniat jahat padaku seperti yang pernah Raka lakukan?"


Fandi pun terdiam bingung, Mengingat janji yang baru ia ucapkan kepada ibunya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2