
Setelah berpikir cukup lama akhirnya Fandi memutuskan untuk mengajak Mawar ke kampung halaman sebagai bentuk tanggung jawabnya atas apa yang sudah ia lakukan kepada Mawar.
Mendengar itu Mawar cukup di buat tenang dan tidak lagi merasa takut akan di tinggalkan Fandi. Namun hari-hari berikutnya Mawar kembali merasa takut akan di tinggalkan, Sehingga membuatnya menjadi semakin posesif, Semakin khawatir Fandi dekat dengan wanita lain, Semakin curigaan dan tidak mau berada jauh dari sisinya. Hingga terkadang Fandi tidak berangkat untuk memberikan les privat di malam hari.
Sementara Heru, Membawa Lily untuk mendatangi rumah Raka untuk meminta pertanggungjawabannya, Ia tidak lagi peduli Mursidah mau marah padanya atau tidak, Yang terpenting baginya saat ini adalah nasib kedua putrinya.
Setelah Heru mengetuk pintu beberapa kali seorang laki-laki paruh baya keluar membuka pintu untuknya. Menatapnya dengan heran seakan bertanya-tanya siapa yang berdiri di depannya dan benar saja pertanyaan itu pun terlontar dari mulutnya.
"Kalian siapa ya?"
Belum sempat Heru dan Lily menjawab, Raka dengan pakaian yang sudah rapi keluar dari dalam rumah. Langkahnya terhenti karena keterkejutannya begitu melihat Lily dan Ayahnya kini berdiri di depan rumahnya.
"Tanyakan saja kepada putra mu!" tegas Heru.
Lelaki paruh baya itu menoleh ke belakang dan melihat Raka berdiri di belakangnya, Membuat Raka langsung menundukkan kepala.
"Raka, Siapa mereka?" Ayah Raka memang pada saat Lily datang seorang diri untuk meminta pertanggungjawaban Raka sedang tidak ada di rumah, Sehingga ia tidak mengenali Lily.
Mendengar keributan di luar rumahnya, Ibunya Raka keluar untuk melihat apa yang terjadi. "Ada apa ini?" Wanita yang masih terlihat awet muda itu menatap Lily dan melihat perutnya yang mulai membuncit. Ia yang ikut menolak mempertanggungjawabkan perbuatan putranya kembali mempertanyakan maksud kedatangan Lily.
__ADS_1
"Kamu! Untuk apa lagi kamu datang kemari?"
"Kalau dari pertanyaan Anda Sepertinya Anda sudah mengetahui jika putra Anda telah menghamili putri ku!"
"Hamil?!" tanya Ayah Raka kaget.
"Oh jadi ibu sudah tahu dan Ayah tidak tahu?"
Raka dan ibunya terdiam panik karena Ayahnya yang seorang perangkat Desa memang belum mengetahui jika Lily pernah datang meminta pertanggungjawaban.
"E-Pak... Tolong katakan dengan jelas, Apa yang terjadi? Apa duduk perkaranya?"
"Benarkah itu Bu?"
"A-e... Itu... Itu karena belum tentu benar jika yang ia kandung anaknya Raka."
"Apa maksud Anda mengatakan itu?" tanya Heru.
"Ibu ini seorang ibu, Seorang wanita, Tidak bisakah ibu menempatkan diri bagaimana jika ibu berada di posisinya? Lagi pula ibu juga istri dari salat seorang perangkat Desa, Apakah ibu ingin nama baik suami ibu tercoreng karena ini?"
__ADS_1
Mendengar itu, Ayah Raka langsung maju dan menasehati istri dan juga anaknya. "Yang di katakannya benar, Apa kalian tidak memikirkan nama baik Ayah?"
"Tapi Ayah..."
"Tidak ada tapi-tapi, Jika memang kamu menghamilinya maka kamu harus mempertanggungjawabkan itu, Ayah tidak mau perbuatan mu di dengar oleh warga dan mencoreng nama baik Ayah."
"Ayah jangan main percaya begitu saja dong, Bagaimana jika mereka berbohong?" tanya sang istri.
"Aku berani bersumpah jika ini anak Raka, Jika kalian tidak percaya, Aku berani melakukan tes DNA." saut Lily.
"Cih... Tes DNA, Orang sepertimu ngomongin tes DNA, Dikiranya tes DNA gak mahal," ucap ibu Raka dengan mulut nyinyirnya.
"Itu jika Anda merasa ragu, Jadi silahkan jika mau lakukan tes DNA," ucap Heru.
"Tapi jika kalian tidak mau melakukan itu Apalagi lepas dari tanggung jawab, Maka yang akan kami lakukan adalah membawa masalah ini ke polisi." ancam Heru.
Mendengar ancaman itu Ayah Raka semakin panik, Dan meminta Istri serta anaknya menerima tuntutan mereka daripada berurusan dengan polisi.
Bersambung...
__ADS_1