
Heru membawa Mawar pulang ke rumah lama, Dimana Lily sudah menunggu mereka, Dengan rasa penyesalan Lily memeluk Mawar.
Mawar pun tanpa rasa dendam membalas pelukan sang kakak yang pernah menyerahkan dirinya kepada teman-teman Raka.
"Maafkan Aku Mawar..." sesalnya.
"Lupakan itu Kak, Aku tidak ingin mengingatnya lagi." ujar Mawar tanpa mau memperpanjang masalah yang telah berlalu.
Heru tersenyum mendekati kedua putrinya dan merangkul keduanya.
"Maafkan Ayah, Gara-gara Ayah kalian jadi menderita." sesal Heru mendekap erat tubuh mereka dan membuat Mawar dan Lily menyandarkan kepalanya di dada Ayahnya.
Kasih sayang yang sudah lama tidak mereka rasakan akhirnya dapat mereka rasakan kembali. Namun rasa sesal dan takut Mawar terus menghantui, Apalagi mengingat setelah kelulusan Pak Fandi janji pada ibunya jika ia akan langsung pulang.
"Bagaimana jika Pak Fandi langsung pulang tanpa memberitahu ku?" batin Mawar yang mulai merasa gelisah.
Kegelisahannya berlanjut hingga pagi hari. Mawar yang tidak tahan lagi pergi tanpa sepengetahuan Ayahnya. Meskipun Lily memergokinya dan coba menghentikannya. Namun Mawar mengabaikan itu dan segera pergi ke rumah Fandi menggunakan kendaraan umum.
Sepanjang perjalanan Mawar merasa semakin resah seakan akan terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan. Dan benar saja begitu sampai rumah Fandi, Rumah itu nampak kosong dan sepi membuat Mawar mulai nenangis dan menggedor-gedor pintunya.
"Pak Fandiii... Bhraakk... Bhraakk... Bhraakk...!!!" tidak juga ada jawaban, Dengan paniknya Mawar berlari kesana kemari mengintai dari semua jendela rumah berharap Fandi masih berada di dalam. Namun setelah cukup lama Mawar meneriakkan namanya tidak ada satu pun jawaban yang Mawar harapkan hingga membuat Mawar semakin histeris memanggi nama Fandi.
"Pak Fandiiiiiiii..."
"Mawarrr..."
Mawar terkejut mendengar suara Ayahnya. Ia menoleh ke belakang dan melihat Ayahnya datang bersama Lily kakaknya. Melihat itu Mawar yang terduduk di tanah, Segera mengusap air matanya dan kembali berdiri menahan sesak di hatinya.
__ADS_1
"Mawar... Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Heru melihat kesana kemari seperti mencari keberadaan seseorang.
Mawar yang sedari tadi menahan air matanya tak bisa lagi membendung air matanya yang kembali membasahi pipinya.
"Ayaaah..." Mawar menjatuhkan tubuhnya di pundak Ayahnya. Ia seakan kehilangan harapan dengan perginya Fandi yang telah mengh*sap madunya.
"Mawar ada apa Sayang katakan pada Ayah, Dan untuk apa kamu mencari Pak Fandi?"
"Mawar, Apa Pak Fandi sudah melakukan sesuatu kepada mu?" tanya Lily yang bertanya sesuai pengalamannya.
Mendengar itu Mawar terkejut dan kembali berdiri dengan benar, Menghapus air matanya dan membelakangi mereka.
"Mawar..." ucap Heru lembut.
"Mawar apa yang di katakan Kakak mu benar jika Pak Fandi telah melakukan sesuatu padamu?" tanya Heru penuh penekanan.
Mawar yang merasa telah kehilangan madu bersama dengan perginya Fandi, Tak dapat lagi menyembunyikan apa yang terjadi. Mawar mengangguk dengan tangisa dan berjuta penyesalan di hatinya.
Ia begitu menyesal karena membiarkan kedua putrinya yang tengah tumbuh mekar tanpa pengawasannya.
"Putrikuuu... Seharusnya kejadian seperti ini sudah ku antisipasi sejak lama." batin Heru menatap kedua putri cantiknya yang kini layu karena keegoisannya.
"Permisi..."
Suara itu mengagetkan Heru dan juga Mawar serta Lily.
mereka menoleh melihat wanita paruh baya menggendong seorang anak kecil.
__ADS_1
"Maaf... Saya yang punya rumah itu" jelas wanita itu sambil menunjuk rumahnya yang memang jarak rumah satu ke rumah lainnya cukup jauh-jauh.
"Saya kesini karena mendengar teriakkan orang memanggil nama Pak Fandi."
"E... Iya kami kesini untuk bertemu dengan nya, Apa ibu melihatnya?"
"Sewaktu saya mengejar anak saya yang berari ke jalan, Saya memang melihat Pak Fandi pergi."
"Apa ibu yakin?" tanya Heru memastikan.
"Sangat yakin Pak, Bahkan Pak Fandi sempet menghentikan motornya dan menganggukkan kepala dengan sangat ramah." jelasnya lagi.
Mendengar itu Mawar semakin ingin menjerit saat itu juga.
"E... Kira-kira Pak Fandi pergi kemana ya Bu?"
"Mungkin pulang ke rumahnya soalnya saya lihat Pak Fandi bawa ransel besar."
"Rumahnya? Bukankah ini rumahnya?"
"Rumah ini hanya rumah ngontrak yang di tinggali sendiri, Biasa kalau libur begini Pak Fandi akan pulang ke rumah orang tuanya." jelas wanita itu mengakhiri ceritanya.
Mendengar itu Heru terenyuh melihat Mawar yang terus menangis.
Belum juga masalah Lily terselesaikan, Kini masalah baru menghampiri Mawar yang tidak jauh beda dengan Lily.
Memikirkan itu Heru tersentak.
__ADS_1
"Bagaimana jika Mawar hamil seperti Lily?" batin Heru yang menjadi begitu khawatir.
Bersambung...