Layunya Bunga Desa

Layunya Bunga Desa
Pencarian


__ADS_3

Revan yang selama ini cukup dekat dengan Mawar mengajak Mawar bicara, Bertanya kabar dan keadaannya. Sejak pertemuan terakhirnya waktu Mawar datang bersama Pak Fandi, Mereka memang tidak lagi bertemu maupun bertanya kabar melalui ponselnya.


"Sekarang bagaimana kabarmu Mawar, Apa yang terjadi dengan mu, Kenapa kamu terlihat begitu sedih?"


Pertanyaan Revan tidak di jawab oleh Mawar, Ia tidak sanggup menceritakan hal yang begitu pribadi kepada saudara tirinya. Apalagi Revan seorang laki-laki.


"Baiklah jika sekarang kamu belum bisa menceritakan semua masalah mu, Tapi perlu kamu ingat, Kapan pun kamu membutuhkan ku, Aku siap membantu mu."


Mawar menganggukkan kepala dan memaksakan senyumnya.


"Nawar..."


Mendengar suara ibunya, Mawar menoleh menatap Mona yang sudah berdiri tak jauh darinya.


"Ibu..." Kedatangan Mona cukup membuat terkejut karena selama ini Mawar tidak pernah mendapat kasih sayang dari ibunya. Apalagi saat terakhir bertemu saat ia akan di lecehkan Barra, Bukannya membelanya justru Mona menuduhnya karena rasa cemburunya.


Namun Mawar tetaplah Mawar meskipun di sakiti, Ia tidak akan tega melihat orang lain menderita, Seperti halnya kepada Lily, Mawar juga tidak tega melihat ibunya yang menangis penuh lebam di wajahnya.


"Mawar..." Mona langsung memeluk Mawar dan menciuminya berkali-kali. Ia meminta maaf atas kesalahannya selama ini, Terlebih ia pernah menuduh Mawar karena cinta butanya pada Barra yang kini mencampakkan dirinya.


"Maafkan ibu nak... Maafkan ibu..."


"Sudahlah ibu, Semua sudah berlalu, Bahkan Aku hampir lupa akan kejadian itu."


"Ibu memang bodoh, Demi laki-laki seperti Barra ibu sampai tega menuduh mu dan menelantarkan kalian, Sekarang dimana Lilyana ibu juga ingin minta maaf padanya."

__ADS_1


"Kak Lily ada di dalam."


"Baiklah ibu kedalam dulu yah..."


Mawar menganggukkan kepalanya dan mempersilahkan masuk. Kini Mawar kembali merenungi nasibnya, Memikirkan bagaimana bisa Fandi meninggalkannya setelah berjanji tidak akan pernah meninggalkannya.


Sementara di luar rumah, Heru masih berdebat dengan Mursidah. Keputusannya sudah bulat, Ia tidak akan kembali ke rumah Mursidah tanpa anak-anaknya, Begitupula sebaliknya, Jika Mursidah ingin terus bersamanya maka Mursidah lah yang harus mengikuti dirinya dari tempat tinggal maupun aturan dalam rumah tangga.


"Sekarang pulanglah, Kamu boleh memikirkan keputusan apa yang harus kamu ambil."


Setelah mengatakan itu, Heru masuk ke dalam.


Ia melihat Mona tengah memeluk putri-putrinya sembari menangis dan terus meminta maaf, Sementara Revan yang melihat Ayah tirinya masuk, Beranjak bangun dan keluar menemui ibunya.


"Ada apa ibu?"


•••


Keesokan harinya semua orang berkumpul di meja makan kecuali Mawar. Setelah cukup lama menunggu, Mawar tidak juga keluar dari kamarnya. Karena merasa khawatir, Heru pun beranjak dari duduknya dan pergi ke kamarnya.


"Mawar... Tok... Tok..."


Berkali-kali Heru mengetuk pintu dan memanghil namanya. Namun Mawar tidak juga menjawab panggilannya, Membuat Heru semakin khawatir dan membuka pintunya yang ternyata tida di kunci.


Ckleekkk...

__ADS_1


Heru langsung masuk dan menjadi terkejut ketika tak melihat Mawar di kamarnya. Ia pun segera berlari keluar hingga membuat Lily dan Mona ikut panik.


"Ada apa Heru, Kena kamu terlihat khawatir?"


"Mawar..."


"Mawar kenapa Ayah?" tanya Lily.


"Nawar tidak ada di kamarnya."


"Apa!? Lalu kemana Mawar pergi sepagi ini?" tanya Mona khawatir.


"Aku tidak tahu, Lily... Apa kamu tahu rumah orang tuanya Pak Fandi?"


"Tidak pak cuma tau nama desanya aja."


"Apa mungkin Mawar pergi ke sana?"


Dugaan Heru memang benar, Dengan menaiki kendaraan umum dari angkot, Metromini hingga ojeg akhirnya Mawar sampai di depan rumah orang tua Pak Fandi. Ia menggali informasi dari sosial media milik Pak Fandi dan memeriksa seluruh komentar yang terdapat di postingannya, Satu persatu Mawar periksa hingga ia merasa ada satu komen yang menunjukan jika mereka begitu dekat, Dengan keyakinan itu, Mawar nengirim pesan, Mengajaknya bicara sebentar, Kemudian neminta alamat orang tua Fandi. Dengan alasan yang meyakinkan akhirnya orang tersebut memberitahu Mawar alamat rumah orang Tua Fandi. Semula Mawar cukup kesulitan mencari alamatnya hingga harus beberapa kali bertanya ke beberapa warga setempat. Namun akhirnya setelah seharian mencari, Kini Mawar telah sampai di rumah yang cukup megah di bandingkan rumah warga di sekitarnya.


Dengan mengumpulkan keberaniannya, Mawar melangkah mendekati pintu dan mengetuknya.


"Tok... Tok... Tok..."


Setelah menunggu sekitar lima menit, Akhirnya pintu itu terbuka.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2