
Mona yang menyambut kepulangan Barra langsung melepaskan jasnya. Kemudian ia mencoba melepaskan dasi dan juga kancing kemejanya. Dengan agresif Mona menci'umi leher dan dada Barra. Namun segera di tolak oleh Barra.
"Kenapa Barra?"
"Aku lagi capek," ucap Barra yang kemudian duduk sembari melepaskan sepatunya.
"Barra! Ini suda yang ke sekian kalinya kamu menolak ku, Ada apa dengan mu?!"
"Sudah ku bilang Aku capek, Apa karena usia mu yang semakin tua sehingga pendengaran mu juga berkurang?!"
"Barra!"
"Arghhh sudahlah! Malas berdebat dengan mu." Barra meninggalkan Mona dan masuk ke kamar mandi dengan membanting pintu.
Mona hanya bisa menangis terduduk di ranjang sambil menjambak rambutnya dengan frustrasi.
Sementara Heru tengah merasa resah memikirkan putri-putrinya yang sudah lama tidak ia temui, Terutama Mawar, Sejak ia mengantarkan Mawar pulang, Hinggi kini Heru tidak lagi mendengar kabarnya.
"Aku tidak bisa duduk diam seperti ini, Aku harus memastikan putriku baik-baik saja," ucap Heru yang kemudian mengambil kunci motornya.
"Mau kemana Mas?" tanya Mursidah ketika mereka nyaris bertabrakan.
"Ida, Aku ingin melihat anak-anak sebentar, Boleh ya?"
"Memangnya mereka tidak ada telpon apa? Mas kan bisa tanya kabar mereka lewat telpon, Lagian kalau mereka merasa susah, Pasti mereka akan menghubungi Mas, Tapi nyatanya tidak kan, Mereka tidak pernah menghubungi Mas karena setiap bulan kita sudah mencukupi kebutuhannya."
"Hanya Lily yang memegang ponsel, Dan setisp kali Aku hubungi, Jarang sekali dia mau mengangkat, Jadi Aku ingin melihat keadaan mereka langsung biar tenang, Yah... Mas mohon."
"Ya sudah tapi jangan lama-lama," Mursidah mengerucutkan bibirnya dengan manja.
"Iya Mas janji gak akan lama." Heru mengecup kepala Mursidah sesaat dan pergi meninggalkan rumah.
__ADS_1
Di tempat lain Fandi yang telah menyelesaikan masakannya, Menatanya di atas nampan. Kemudian ia membawanya ke kamar Mawar.
Meskipun ia sedikit kerepotan untuk mengetuk pintu karena nampan di tangannya, Namun Fandi berusaha dengan sedikit mengangkat lututnya untuk menahan nampan tersebut tidak terjatuh.
Tok... Tok... Tok...
"Mawar..."
Tok... Tok... Tok...
"Mawar... Cepat buka pintunya, Panas niiih..."
Mendengar itu, Mawar segera menghapus air matanya dan berlari membuka pintu.
Ckleekkk...
"Pak Fandi..."
Fandi meletakkan nampan di atas ranjang dan bersiap menyantapnya. Namun ia mengurungkannya karena melihat Mawar yang masih saja berdiri di depan pintu.
"Mawar kamu tidak ingin makan?"
Mawar hanya menggeleng pelan dan tetap berdiri di sana.
Melihat itu, Fandi mulai memahami sikap Mawar. Kemudian ia beranjak bangun dan mendekati Mawar.
"Apa kamu takut pada ku?"
Mawar hanya diam menatap Fandi, Seolah ingin mencari jawaban yang sama.
"Kamu sudah menemukan jawabannya?" Fandi terus menatap Mawar yang juga terus menatapnya. Membiarkan Mawar mencari jawaban dari pertanyaannya.
__ADS_1
Pelan namun pasti, Mawar menggelengkan kepalanya.
"Apa selama kamu sekolah, Selama kamu tinggal bersama ku Aku pernah macam-macam kepada mu?"
Mawar kembali menggelengkan kepalanya.
"Jika tidak maka jangan samakan Aku dengan mereka." tegas Fandi yang kemudian kembali duduk.
"Aku sudah lapar sekali, Apa kamu tidak bisa membiarkan ku makan?"
"Makan saja, Kenapa bertanya pada ku?"
"Apa kamu ingin Aku menyuapi mu lagi?"
"A-e... Tidak-tidak."
"Kalau tidak cepat duduk kenari kita makan bersama."
Karena tidak ingin Fandi kembali menyuapinya dengan paksa, Mawar pun duduk di depan Fandi dan mulai menyantap makanan yang Fandi masak.
"Hmmm... Rasanya enak juga." batin Mawar sembari menikmati makanan yang tengah ia nikmati di dalam mulutnya. Kemudian Mawar menatap Fandi yang fokus memakan makanannya dengan lahap tanpa menoleh kepadanya.
"Beruntung banget yang kelak jadi istrinya Pak Fandi, Sudah ganteng, Baik, Pinter masak lagi." batin Mawar lagi sembari mengulas senyum.
Fandi yang melirik kearah Mawar seketika berhenti mengunyah melihat Mawar yang tersenyum termangu tanpa memakan makanannya. Membuat Fandi terdesak karena salah tingkah.
"Uhuuk... Uhuuk..."
"Pak Fandi... Minum..." Seketika mereka berdua terdiam dan menatap satu sama lain ketika tangan mereka bersentuhan saat ingin mengambil gelas yang sama.
Seolah menjadi obat, Fandi tidak lagi batuk-batuk. Hanya debaran jantung yang berdegup kencang karena sentuhan tangan itu.
__ADS_1
Bersambung...