Layunya Bunga Desa

Layunya Bunga Desa
Keributan


__ADS_3

Lagi-lagi Mawar menyelinap pergi meninggalkan rumah, Ia menemui Revan yang sebelumnya telah di hubungi melalui pesan singkat. Sama halnya dengan Nawar, Revan juga pergi tanpa sepengetahuan ibunya.


"Kamu yakin ingin ke sana lagi Mawar?" tanya Revan yang telah di ceritakan segalanya.


"Iya, Aku yakin kali ini Pak Fandi sudah berada di rumah."


"Baiklah kalau begitu naiklah."


Mawar mengangguk dan naik di jok belakang.


Dengan laju yang cukup cepat, Revan mengendarai motornya melewati beberapa kota sebelum akhirnya sampai di rumah Fandi.


Baru saja mawar turun dari motor, Mawar melihat Fandi yang sedang ke luar dari rumahnya sehingga Fandi yang merasa terkejut dan tidak siap mencoba melarikan diri.


"Pak Fandiiiiiiii..." teriak Mawar yang langsung mengejarnya. Di ikuti oleh Revan yang turut mengejar Fandi hingga berhasil menangkapnya.


"Mau lari kemana kamu! Dasar pengecut." Revan menarik kerah Fandi membuat guru muda itu tak bisa berkutik.


Mendengar keributan di luar rumah, Ayah dan ibu Fandi berlari keluar untuk melihatnya. Mereka melihat Fandi yang belum begitu jauh dari rumah. Namun kini situasi tidak menguntungkan keluarga Fandi karena para warga mulai berdatangan melihatnya.


Menyadari nama baiknya akan tercemar, Ayah Fandi segera mendekati mereka untuk menolong putra kebanggaannya.


"Lepaskan putra ku! Lepaskan!" tegas Ayah melepaskan cengkraman tangan Revan.

__ADS_1


"Berraninya kamu membuat keributan di rumah ku!"


"Kami tidak akan membuat keributan jika Anda dan putra Anda ini mau bertanggung jawab atas apa yang sudah dilakukannya!"


Mendengar itu para warga mulai berbisik-bisik satu sama lain. Hal itu membuat Ayah sangat malu dan meminta Revan dan juga Mawar menyelesaikannya di dalam. Namun dengan tegas Revan menolak dan ingin di bicarakan di depan warga agar Fandi dan Ayahnya tidak menyangkal lagi.


Fandi yang melihat kecemasan di wajah Ayah dan ibunya mulai membuka suaranya.


"Mawar... Masuklah kita bicara di dalam."


"Mawar, Jangan terima tawarannya, Di dalam mereka akan menolak mu." ujar Revan.


"Tutup mulut mu Revan! Jangan ikut campur!" tegas Fandi.


"Melindungi dari apa Mawar, Aku bukan orang jahat, Orang tua ku juga tidak jahat!"


Mawar terdiam karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama tidak bertemu Fandi justru membentaknya di depan banyak warga yang masih menyaksikan mereka.


"Ayah ku memang benar, Aku harus berpikir ulang untuk menikahi anak kecil seperti mu!"


"Apa kau bilang?" Revan kembali manarik kerah kemeja Fandi dan membuat Ayah Fandi kembali membela putranya. Perkelahian pun tidak dapat di hindari sampai perkelahian mereka terhenti ketika Mawar jatuh pingsan.


"Mawaaarrr..." Revan langsung melepaskan Fandi dan mengangkat kepala mawar ke pangkuannya, Ia mengguncang-guncang tubuh Mawar untuk menyadarkannya. Namun Mawar tidak juga sadarkan diri sehingga membuat Revan panik.

__ADS_1


"Seseorang ambilkan minyak angin atau apapun!" teriak Revan kepada warga.


Melihat itu Fandi menjadi khawatir dan mulai mendekati Mawar. Namun Ayah dan Revan secara bersamaan menghentikan Fandi.


"Jangan berrani mendekati Mawar, Jika sesuatu terjadi kepadanya, Maka Aku tidak akan mengampuni mu!" tegas Revan yang kemudian melunakan hatinya ketika seorang warga memberikan minyak angin.


Revan mengusapkan minyak angin ke beberapa bagian tubuh Mawar, Kemudian menghidupkannya di hidung. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya Mawar membuka matanya.


"Sebenernya apa yang terjadi Mas?" tanya warga yang memberikan minyak angin.


"Perlu Anda dan warga ketahui jika orang yang terlihat terhormat ini sedang mencoba lari dari tanggung jawabnya." tegas Revan menatap tajam Fandi dan juga Ayahnya.


"Berrani sekali kamu mengatakan itu di depan warga!"


"Kenapa tidak, Aku mengatakan sebuah kenyataan! Kenyataan yang orang tidak akan pernah menyangka jika orang terpandang seperti kalian telah me..."


"CUKUP!!!"


"Sudah cukup kamu mempermalukan ku di depan warga, Sekarang siapapun peegilah dan panggil kepala desa, Kita selesaikan masalah ini sekarang juga!" teriak Ayah yang kemudian bergegas masuk.


Fandi hanya diam menatap Mawar sesaat dan menyusul masuk Ayahnya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2