
"Mawar... Kok diam saja?" ucap Pak Muhsin yang belum juga mendapat jawaban dari Mawar.
"E... Tidak Pak, Terimakasih. Nah itu dia angkotnya sudah datang, Mawar duluan ya Pak." tanpa menunggu jawaban Pak Muhsin, Mawar berlari menghentikan angkot.
Dengan rasa kecewa Pak Muhsin meninggalkan sekolah, Sementara Fandi yang melihat kepala sekolah telah pergi, Bergegas mengejar Mawar yang menggunakan angkot.
"Mawaaar.... Mawaaar..." teriak Fandi yang sudah berada di sebelah angkot yang Mawar naiki.
Mendengar suara Pak Fandi, Mawar menoleh keluar pintu.
"Pak Fandi..."
"Keluar Mawar... Bang... Berhenti!" triak Fandi menggedor angkot yang sedang berjalan.
Supir angkot pun menoleh ke arah Fandi dan mengira ingin menodongnya sehingga Supir angkot tancap gas menambah kecepatannya.
"Mawar! Woy..." Fandi kembali mengejar angkot tersebut.
Sementara Mawar yang berada di dalam angkot coba menjelaskan jika Fandi bukanlah orang jahat.
"Dia itu guru saya Bang!" pekik Mawar karena suara bising angkot yang mengganggu komunikasinya.
"Apa?"
"Dia itu guru saya, Berhentiii..." Mawar menggedor-gedor pintu supaya si Supir menghentikan angkotnya.
"Berhenti Bang... Itu gurunya," ucap salah seorang wanita yang duduk tepat di belakang supir.
"Gurunya?" tanya supir memastikan.
"Iya." jawab Mawar berbarengan dengan wanita itu.
"Oh... Ngomong dong dari tadi, Kirain begal," ucap Si Supir sembari menghentikan angkotnya.
__ADS_1
"Emangnya ada tampang begal apa?" dengan kesal Mawar memberikan uang dan turun dari angkot tersebut.
Di luar Fandi baru sampai dan ingin turun dari motornya untuk menegur Supir angkot. Namun angkot itu langsung pergi sehingga Fandi tidak jadi meluapkan kekesalannya.
"Abang supirnya ngira Pak Fandi begal." ujar Mawar mendekati Fandi.
"Tau tuh, Ngeselin banget, Masa ganteng-ganteng gini di kira begal."
Mawar tersenyum melihat Fandi kesal namun masih saja membanggakan ketampanannya.
"Malah tertawa lagi." dengan gemas Fandi mencubit hidung Mawar.
"Aww..." Mawar meringis memegangi hidungnya.
"Oh ya, Tadi Pak Muhsin nanya apa, Apa dia mengajakmu pergi?"
"Nggak, Cuma nawarin tumpangan."
"Untung kamu tidak mau dan nemilih naik angkot, Jika kamu mau menerima tawarannya ntah kemana aki-aki tua itu membawa mu."
"Mawar apa kamu terlalu polos atau pura-pura tidak tahu? Kamu tidak lihat sikapnya selama ini terhadap mu?"
"Ya sikapnya memang gitu sih..."
"Ya memang gitu, Seolah tidak cukup sudah memiliki dua istri, Masih saja mencoba mengganggu mu."
Melihat raut wajah Fandi yang kesal, Mawar tersenyum menggodanya. "Pak Fandi cemburu yah?" tanya Mawar menaik turunkan kedua alisnya.
"Ya, Kamu ini baru beberapa jam jadi kekasih ku, Masa mau jalan sama tu aki-aki."
Mendengar itu, Mawar berbunga bukan main, Dengan ragu-ragu Mawar memeluk Fandi dari belakang dan menyandarkan sebelah wajahnya ke punggung Fandi.
Fandi yang akan menaiki motornya kembali meletakkan helmnya dan berputar badan sehingga pelukan Mawar terlepas.
__ADS_1
Melihat Mawar yang menunduk malu, Lagi-lagi Fandi menggoda Mawar.
"Main peluk-peluk aja di jalan, Gak sabaran banget."
"idiiih apaan sih..." ucap Mawar mencubit perut Fandi karena malu.
"Ya udah peluknya ntar lagi di rumah, Sekarang naik."
Mereka pun langsung pulang menuju rumah. Tapi sebelum itu mereka menyempatkan mampir ke sebuah warung makan untuk di bawa pulang.
"Biar gak perlu masak." ujar Fandi menunjukan kantong plastik yang sudah berisi dua bungkus nasi.
Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan.
Begitu sampai rumah mereka membersihkan diri dan makan malam bersama.
"Pak Fandi malam ini gak kasih private?"
"Apa kamu ingin Aku pergi?"
"Bukan begitu, Mawar nanya aja."
"Malam ini Aku tidak ingin kemanapun, Ini malam pertama jadian kita jadi Aku ingin menghabiskan malam ini bersama mu." Fandi terhenyak menyadari apa yang baru saja ia utarakan.
"Ini menggelikan sekali, Kenapa Aku jadi kaya bocah yang baru jatuh cinta." batin Fandi.
"A-e... Maksud ku... Aku menghawatirkan mu, Aku tidak ingin jika baji'ngan itu datang kembali." ujar Fandi meralat ucapannya.
Mawar hanya tersenyum menganggukkan kepala melihat Fandi yang terlihat gugup.
"Seharusnya dia yang merasa gugup, Kenapa juga jadi Aku." batin Fandi menatap Mawar yang terlihat begitu santai.
Bersambung...
__ADS_1
Terimakasih buat yang sudah like, Komen, Kasih suport, Doa maupun tips. Dan yang paling spesial yang sudah kasih 20 kopi, Jadi melek nih, Biasanya habis magrib Author sudah molor 🤣