
Seperti layaknya orang yang tengah di mabuk cinta, Hari-hari berikutnya Mawar dan Fandi semakin tidak bisa menyembunyikan rasa cintanya. Bahkan di sekolah pada saat jam pelajaran Fandi dan Mawar tidak jarang saling melempar senyum dan memberi kode satu sama lain. Seperti halnya hari ini, Dengan isengnya Mawar melempar bulatan kertas kecil yang sudah ia tulis ke arah Pak Fandi dan tepat mengenai kepalanya.
Fandi yang tengah menunduk menulis sesuatu berhenti sejenak menatap kearah depan dan melihat Mawar yang menaik turunkan kedua alisnya, Kemudian mengambil bulatan kertas kecil yang terjatuh di mejanya. Sambil kembali melirik Mawar yang tersenyum padanya. Fandi membuka kertas itu dan tertulis kata "I love you" di sertai emoticon ciu'm dan hati.
Fandi tersenyum menatap Mawar yang kali ini memberinya tanda love melalui ibu jari dan jari telunjuknya.
Melihat kekasih kecilnya itu, Fandi menggelengkan kepalanya dan menulis sesuatu di kertas kecil untuk membalas ungkapan cinta dari Mawar. Setelah itu Fandi meremad-remad kertas itu hingga menjadi bulatan. Setelah itu ia melemparkannya ke arah Mawar.
"Dasar bucin." begitu balasan dari Fandi.
Seolah lupa dengan jam pelajaran yang sedang berlangsung, Mawar kembali melempar bulatan kertas ke arah Fandi yang langsung membukanya "Emang gak mau di bucinin?"
Fandi menggelengkan kepalanya dan kembali membalasnya.
Namun kali ini sasarannya tidak tepat, Kertas tersebut mengenai salah satu siswi yang ada di depan Mawar. Dan sialnya lagi siswi itu memergoki jika Pak Fandi lah yang melemparnya.
"Aah sialll..." batin Fandi yang menjadi tegang melihat siswi itu menatap dirinya kemudian mengambil kertas yang terjatuh di lantai.
__ADS_1
Siswi itu membuka bulatan kertas tersebut dan membulatkan mata ketika membaca isinya. "Siapa yang gak ingin di bucinin sama gadis cantik seperti mu." Kali ini siswi itu menutup mulutnya yang terbuka lebar karena rasa terkejutnya, Kemudian ia menatap Fandi yang langsung mengalihkan pandangannya kesana kemari seperti orang salah tingkah.
"Apa isinya?" lirih siswi di sebelahnya yang langsung merebut kertas itu dan membacanya. Sama halnya dengan siswi sebelumnya, Siswi itu pun terkejut dan menutup mulutnya.
"Jadi Pak Fandi naksir sama kamu?" tanya siswi tersebut.
"Ahh masa sih Pak Fandi naksir sama Aku." sautnya malu-malu mau.
Mawar yang mendengarnya menyesalkan kenapa kertas itu malah jatuh ke tangan mereka dan membuat mereka salah paham.
Melihat Mawar mengerucutkan bibirnya Fandi menggelengkan kepalanya menyesalkan hal yang sama. Namun itu hanya sesaat karena setelah itu Fandi bangkit dari duduknya dan menegur kedua siswi itu.
"A-e... Belum Pak."
"Cepat kerjakan, E... Apa yang kalian pegang?" Fandi merebut kertas itu dan pura-pura membaca isinya.
"Siapa yang menulis ini, Sebaiknya ini tidak di lakukan di jam pelajaran." tegas Fandi yang kemudian merobek kertas tersebut sehingga membuat kedua siswi itu merasa bingung. "Apa Aku salah menduga?" batin siswi itu.
__ADS_1
Melihat Fandi kembali ke mejanya, Mawar menahan tawanya.
"Ahhh kenapa Aku jadi bucin begini, Padahal Aku tinggal bersamanya dan bisa setiap saat mengatakan perasaan ku pada Pak Fandi, Tapi menunggu jam pelajaran selesai kenapa terasa begitu sangat lama." batin Mawar yang terus menahan senyumnya.
Setelah jam pelajaran selesai, Fandi memberi kode pada Mawar untuk mengikutinya.
Mawar yang mengerti maksudnya, Mengangguk dan mengikuti Pak Fandi dari jarak yang tidak terlalu dekat agar tidak di curigai murid lain.
Setelah semua murid mengantri di kantin, Mawar berlari mengejar Fandi yang berjalan ke belakang sekolah. Melihat sekitaran sepi mereka mendekat satu sama lain.
"Gadis nakal tidak sabaran!" ujar Fandi mencubit pipi Mawar dengan gemas.
Mawar memegangi pipinya sambil mencebikan bibirnya dengan manja. Hal itu semakin membuat Fandi gemas dan memberi kecupan singkat padanya.
"Jangan memasang wajah menggemaskan seperti itu, Kamu tau Aku paling tidak tahan melihat itu." ujar Fandi yang kembali mencubit pipinya.
"Iiih cubit-cubit terus! Ntar pipiku tembem." dengan manja Mawar memukul lengan Fandi.
__ADS_1
Usia yang cukup jauh dan kurangnya kasih sayang dari seorang Ayah membuat Mawar begitu manja pada Fandi yang seringkali memperlakukannya seperti anak kecil.
Bersambung...