Layunya Bunga Desa

Layunya Bunga Desa
Bunga Desa


__ADS_3

Melihat Mawar tidak bisa lagi berkutik, Raka membuka pintu dengan sangat perlahan untuk melihat situasi di luar. Setelah merasa aman, Raka keluar dan menutup kembali pintu kamar mandi.


"Huffttt... Untung saja dia percaya pada ku, Jika tidak pasti dia sudah berteriak." gumam Raka yang memang tidak memiliki rekaman apapun tentang Lily.


"Raka... Kamu disini?" tanya Lily yang baru datang.


"Oh... Iya, Aku ingin ke kamar mandi tapi ada Mawar di dalam."


"Mawar? Bagaimana kamu tau jika Mawar yang di dalam?"


"A-e... Tentu saja Aku tau, Aku kan ketuk dan tanya siapa di dalam."


"Oh iya, Bodoh sekali Aku, Hehe..."


"Sudahlah kita tunggu di sana." ujar Raka yang kemudian merangkul Lily dan mengajaknya kembali ke ruang tamu.


Pagi Harinya, Mawar yang sudah bersiap ke sekolah kembali harus menyaksikan kemesraan Lily dan Raka di meja makan. Hal itu membuat Mawar risih dan mengurungkan niatnya untuk sarapan.


"Aku berangkat dulu kak." ujar Mawar.


"Kamu gak sarapan dulu?" tanya Lily.


Mawar hanya diam melihat Raka yang menatapnya penuh arti.


Melihat Mawar diam, Lily menoleh sesuai pandangan yang tertuju pada Raka. Menimbulkan rasa kecurigaan di hatinya.


"Mawar... Raka...?"


Keduanya tersentak dan saling mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


"Ada apa dengan kalian?"


"Tidak ada sayang, Ayolah lanjutkan sarapannya," ucap Raka merayu.


"Mawar?"


"Aku berangkat sekarang," ucap Mawar yang langsung melengos pergi.


Seperti biasanya. Sepanjang jalan perkampungan para pria akan menatap Mawar dengan penuh damba. Mawar memang hanya menggunakan kendaraan umum sehingga ia harus berjalan cukup jauh untuk menemukan angkutan umum yang menuju ke sekolahnya. Hal itu membuat dirinya harus melewati berbagai macam tingkah pria yang selalu menggodanya dengan berbagai macam sebutannya. Seperti halnya hari ini, Mawar yang melihat sekelompok pria tengah berbincang di depan warung sembako harus menundukkan kepalanya karena godaan dari mereka.


Ada yang hanya sekedar bersiul, Memanggilnya cantik, Sayang dan sebagainya.


Setiap hari Mawar harus melewati itu semua baik setiap ia mau berangkat maupun pulang sekolah, Tak jarang juga Mawar harus menghadapi tangan-tangan nakal yang hanya sekedar ingin mencolek tubuhnya.


Masih tidak cukup sampai di situ, Di sekolah pun Mawar harus menghadapi situasi yang tidak jauh berbeda, Bukan hanya para murid yang mendambakannya bahkan para guru pun tak sedikit yang menyukainya sehingga dengan mudah ia bisa mendapat nilai tinggi dan membuat murid lain iri terutama murid perempuan. Situasi yang membuat dirinya di jauhi murid perempuan dan membuatnya terkadang merasa tertekan atas anugerah kecantikan yang ia miliki.


Sebuah kecantikan yang di dambakan setiap wanita tidak lantas membuat dirinya bangga dan sombong. Mawar selalu rendah hati dan menundukkan pandangannya ketika para pria ramai-ramai menggodanya.


Setelah jam pelajaran selesai, Beberapa murid perempuan mendekati Mawar. "Eh Mawar, Pak Fandi mau ketemu dengan mu tuh."


"Ketemu? Untuk apa, Dan kenapa beliau tidak menemuiku secara langsung dan malah menyuruh kalian?"


"Mana kita tau, Pergilah dan tanya kenapa Pak Fandi menyuruh kami."


Mawar menarik nafas dalam-dalam dan beranjak dari duduknya.


"Dimana Pak Fandi ingin bertemu?" tanya Mawar.


"Perpus."

__ADS_1


Tanpa bertanya lagi, Mawar meninggalkan kelas dan menuju perpus. Namun ketika ia melewati sebuah gudang, Tiba-tiba seseorang mendorongnya masuk dan langsung menguncinya dari luar.


"Hey! Bhrakkk Bhrakkk Bhrakkk...!!!" Mawar terus menggedor-gedor pintu dan berusaha membukanya. Namun belum juga pintu terbuka, Mawar di kagetkan oleh suara pria yang memanggil namanya.


"Mawar..."


Mawar menoleh ke belakang dan terkejut melihat Indra.


Indra adalah teman kelas Mawar yang sudah menyatakan cintanya beberapa kali kepada Mawar. Namun selalu di tolaknya dengan alasan ingin fokus belajar. Indra bukan satu-satunya pria yang di tolak cintanya oleh Mawar, Dari teman sekolah, Tetangga desa hingga dari desa lain yang mendambakan Mawar tidak ada satupun yang di terima cintanya oleh Mawar. Hal itu tak jarang membuat para pria sakit hati dan menilai jika mawar terlalu sombong akan kecantikannya.


"Indra... Apa yang kamu lakukan di sini, Dan... Siapa yang mengunci kita?"


"Aku tidak tau Mawar, Yang Aku tau Aku mencintaimu, Tapi kamu tidak pernah mau tau akan hal itu!"


"Aku sudah mengatakan alasannya."


"Itu bukan alasan sebenarnya, Karena yang sebenarnya adalah kamu terlalu sombong! Kamu menolak ku pasti karena Pak Fandi kan?" dengan penuh emosi Indra menggebrak pintu yang tepat berada di belakang Mawar hingga membuatnya kaget.


"Jawab Mawar!"


"Apa yang kamu katakan, Pak Fandi adalah wali kelas kita, Bagaimana mungkin Aku memiliki hubungan dengan nya,"


"Kenapa tidak, Pak Fandi ganteng, Masih muda dan belum punya istri."


"Tapi seperti yang sering ku katakan pada mu, Bahkan pada yang lainnya jika Aku tidak ingin berpacaran maupun menerima cinta siapa pun."


"Hmh! Tapi bagaimana jika Aku memaksa?"


"Apa yang ingin kamu lakukan?" Mawar mulai merasa takut melihat tatapan mata Indra yang memerah.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2