Layunya Bunga Desa

Layunya Bunga Desa
Pertemuan


__ADS_3

Setelah menyelesaikan masalah Lily dan Raka yang sudah mencapai kesepakatan pernikahan, Kini Heru tinggal mencari Mawar. Dan tujuan pertamanya adalah sekolah. Kesibukan dan tidak pernahnya Mawar memintanya untuk datang ke sekolah sekedar pengambilan raport maupun rapat pleno membuat Heru tidak tahu jika hari ini sekolah tengah mengadakan acara kelulusan siswanya.


"Sungguh, Orang tua macam apa Aku ini." batin Heru merutuki dirinya sendiri.


"Karena rasa sakit ku atas penghianatan yang Mona lakukan, Membuatku mencari kesenangan sendiri hingga menelantarkan putri-putri ku." batinnya lagi.


Tak terasa air matanya menetes ketika melihat Mawar naik ke atas panggung untuk menerima piagam karena telah menjadi juara satu. Tangis haru menyelimuti hati Heru mendengar Mawar yang memberikan ucapan terimakasih kepada Ayah dan ibunya meskipun dalam kenyataannya ia tumbuh seorang diri.


Setelah selesai memberikan kata sambutannya Mawar menghelai nafas dalam-dalam di iringi riyuh tepuk tangan dari seluruh orang yang hadir. Kemudian Mawar menatap Pak Fandi yang duduk di kursi paling depan melempar sersenyum tipisnya. Hal itu pun di perhatikan oleh Bu Hana yang hingga kini belum menampakkan taringnya lagi. Mawar yang tanpa sengaja melihat Bu Hana memperhatikannya segera memalingkan wajah dan menjadi begitu terkejut ketika melihat Ayahnya berdiri di belakang kursi wali murid lainnya. Seketika itu juga, Mawar turun dari atas panggung dan berlari memeluk Ayahnya.


Fandi beranjak dari duduknya dan melihat pemandangan itu, Begitupun dengan Bu Hana yang tidak mau ketinggalan.


Sementara yang lainnya melanjutkan Acara.


"Ayah..." tangis Mawar langsung pecah di pelukan Ayahnya memikirkan kesalahan yang sudah ia lakukan.


"Sayang... Maafkan Ayah." sesal Heru sambil mengusap punggung anak perempuan yang sudah begitu lama ia abaikan. Air matanya pun tak mampu ia bendung hingga menetes ke pucuk kepala Mawar.


"Maaf kalau selama ini Ayah terlalu fokus mencari kesenangan sendiri untuk mengobati luka di hati Ayah hingga menelantarkan mu dan juga kakak mu." ucapnya lagi.


Mendengar itu air mata Mawar jatuh semakin deras, Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika Ayahnya tahu kalau ia mengikuti jejak ibu dan juga kakaknya.

__ADS_1


"Mawar..." Heru mengurai pelukannya dan memegang kedua sisi kepala putrinya yang terus menangis hingga sesenggukan.


"Kamu boleh marah pada Ayah, Karena Ayah memang bersalah padamu."


Mawar hanya menggelengkan kepalanya dan kembali memeluk Ayahnya. Sudah begitu lama Mawar tidak merasakan pelukan hangat dari seorang Ayah.


Tidak ada kemarahan sana sekali di hati Mawar pada Ayahnya, Justru Mawar merasa tenang ketika memeluknya.


"Mawar apa kamu begitu marah pada Ayah sehingga kamu tidak mau bicara?"


"Aku tidak marah pada Ayah, Aku hsnya ingin memeluk Ayah seperti ini."


"Kamu belum berubah Mawar." ujar Heru kembali mengurai pelukannya.


"Mawar sudah berubah Ayah, Aku sudah tidak lagi seperti Mawar yang dulu," ucap Mawar mengingat apa yang sudah ia lakukan dengan Fandi.


"E... Sudahlah Mawar, Sekarang katakan bagaimana kabar mu, Dan... Dimana kamu tinggal, Lily bilang kamu tidak tinggal dengannya?"


Mendengar itu Mawar merasa bingung, Ia menoleh ke arah Fandi yang masih melihatnya dari kejauhan. Suara riuh acara membuat Fandi tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Namun Fandi menduga jika pertanyaan Heru menyangkut dengan dirinya.


Karena keyakinannya itu, Fandi melangkah mendekati mereka.

__ADS_1


Tidak juga mau ketinggalan, Bu Hana mengikuti Fandi dan berhenti beberapa langkah dari mereka.


"Selamat siang Pak Heru." sapa Fandi.


"E... Selamat Siang Pak...?"


"Fandi."


"Oh... Ya, Anda yang waktu itu datang ke rumah mencari Mawar kan?"


Fandi mengangguk kecil.


"Jadi Anda menemukan Mawar dimana? E... Maafkan Aku, Aku tidak sempat menanyakan langsung kepada Anda, Karena Aku tanya Lily, Lily bilang Mawar baik-baik saja dan ada di rumah tapi ternyata..."


"Ternyata Lily berbohong?" tanya Fandi memotong pembicaraan.


"Aku menyesal Pak Fandi, Aku terlalu mempercayakan Mawar kepada Lily yang juga masih butuh pengawasan dari ku." sesal Heru.


Namun perkataan itu juga mengusik hati Fandi. Bagaimana tidak selama ini Mawar juga begitu percaya kepadanya. Namun pada akhirnya dialah yang mereguk madu sang bunga.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2