Lelakiku Introvert

Lelakiku Introvert
9. aku jadi asistenya


__ADS_3

"telfon agensi aja, biar besok udah off" sambung kak yogi.


menangis merengek seperti anak kecil di kaki ayahnya yang menolak kepergian ayahnya.


iya aku mau. jawabku dengan berat hati.


aku berjalan meninggalkan mereka begitu saja, memasuki kamarku dan menutup pintu rapat rapat. aku duduk bersandar di pintu dengan masih mendengarkan percakapan mereka.


"yeh, main nyelonong ae si bocil" ujar kak yogi.


"maaf kak, bisakah kalian pergi? biarkan Tata mengisi energi". ungkap Tara


"tidur maksudnya?" sahut jhon polos


"iya" tandas tara.


dan terdengar derap kaki mereka telah pergi. aku tidak menangis atau apapun aku hanya kesal dan setumpuk rasa bercampur aduk.


Cekreerkkk....


suara pintu yang kubuka.


"mau kemana ta?" tanya tara khawatir padaku.


"Taman". jawabku singkat


"aku ikut ya". pintanya karena khawatir denganku yang sedari tadi lesu lemas.


aku dan tara pergi ke taman. tara bermain hp, dan aku hanya menyumpal kupingku dengan earphone. menali kencang hoodie ku, dan segenggam coklat untuk menenangkan suasana hatiku ini.


aku putar lagu sekeras kerasnya, bahkan sampai teriakanku pun tak terdengar oleh telingaku sendiri. aku tiduran di tengah tengah lapangan basket dekat taman, tentu setelah ku pastikan tidak ada orang disana kecuali Tara.


Tara menemaniku sambil duduk di bangku dan menikmati cemilanya. ya cemilan kami masih tersisa banyak akibat pesta yang berantakan tadi.


langit malam itu cerah, banyak bintang bertaburan dan bintang disana. aku mencoba memandang bintang bintang itu dengan seksama. keindahan itu sungguh nyata.


2jam aku mengumpulkan energy disana. kurasa cukup dan aku pulang bersama tara.


~POV author~


di dalam mobil jhon dan yogi berbincang serius tentang sesuatu hal.


"terimakasih kak, kau memberi izin dia untuk berpindah kerja denganku" ucap jhon


"santai aja sih, kamu kan udah seperti adek kandungku". jawab yogi memainkan gamenya.


"emang kamu segitu sukanya ya sama si bocil?". tanya yogi


"bukan karena suka kak, tapi karena dia punya kelebihan". tandas jhon

__ADS_1


"lebih tipis dan kecil?" ledek yogi


"ishhh bukan itu, dia itu bisa melihat kesialan yang akan menimpaku" jawab jhon membuat yogi seketika berhenti bermain game dan memasang wajah serius.


"benarkah?" tanya yogi mencoba untuk mencari jawaban yang lebih jelas.


"ingat kemarin, saat kepalanya berdarah?" ujar jhon


"iya, terus?" yogi antusias


"seharusnya kepalaku yang berdarah, tapi dia menyelamatkanku. sebelumnya dia sudah memberiku peringatan, tapi aku mengabaikanya. Dan iya, hal buruk itu benar benar tetjadi atas kecerobohanku". jawab jhon jelas.


"ehmmmm,, begitu. tapi kenapa dia tidak bisa melihat kesialan orang lain? atau ada sesuatu diantara kalian yang terhubung dengan hal ini? yogi seperti berfikir akan sesuatu.


"makanya itu, aku mau cari tau dengan dia bekerja sama aku. itu beneran atau hanya kebetulan atau hanya akal akalanya saja".


pungkas jhon dan menghentikan mobilnya yang sudah sampai di rumah yogi.


"jangan lupa janjimu ya" yogi mengingatkan jhon.


"tentu, besok akan dikirim" jawab jhon dan kembali mengemudi.


bukan dengan tangan kosong jhon meminta agar yogi mau memindah kontrak kerja Tata.


Jhon harus membayar dengan membelikan kakaknya itu jaket tebal dengan harga yang tebal pula. 40jt untuk 1 jaket CENILL.


~PAGI. POV Jhon~


ting tung


aku berjalan membuka pintu, dan ya bocah kecil itu sudah datang dengan sekoper perlengkapanya di tambah tas slempangnya.


aku sebenarnya kasihan melihatnya seperti itu, lebih mirip keong emas yang membawa rumahnya kemana mana.


"pesan makanan sana, aku mau sarapan" suruhku pada Tata.


"o" jawabnya


"ihh ga ikhlas gitu kerja sama aku". tegurku menghampirinya yang masih manyun.


"ikhlaskok kak, ikhlas banget sampek rasanya pengen salto sekarang". jawabnya membuatku tertawa.


"yaudah sana gih buruan". kataku


"apanya nih, saltonya atau pesen makanya?" tanyanya polos


"saltonya, ya mkannya donk! ya kali liat lalet salto. ahahahahha". ejekku dan meninggalkanya.


bibirnya semakin manyun. entah kenapa tidak ada kecanggungan antara aku dan Tara, kami mudah akrab. Padahal tara itu jarang bicara, sekali bicara nyeletuk bikin aku ketawa.

__ADS_1


~***POV Tata**~


makan mulu makan mulu, pagi pagi udah sibuk makan. makan roti minum susu kan udah sih bisa*. keluhku kesal


aku males pesan, dan akhirnya aku buatkan kak jhon sarapan nasi goreng, salad sayuran, telur dadar dan segelas jus wortel.


"eh banyak banget pesenya?" tanyanya heran


"ga jadi pesen". jawabku melihat jadwal kerja kak jhon.


"terus ini" menyisir rambutnya yang basah dengan jari panjangnya.


"aku masak, kakak yang tampan". sahutku kesal.


dia makan dengan lahapnya, nawarin aku pun tidak. padahal aku juga merasakan lapar yang luar biasa.


"ayo sambil make up, keringin dulu rambutku pakai handuk. waktu kita ga banyak". pintanya dengan menelan makanan.


aku malas berdebat, perasanku masih dongkol dengan permintaanya semalam yang mengharuskanku jadi asistenya dan make upnya. Mungkin siang ini aku akan menjadi amoeba dan membelah diri, biar tak terasa berat pekerjaanku ini.


ku keringkan rambutnya, dia lahap memakan makanan yang ku buat sambil membaca dan memahami naskah.


enak kak? tanyaku, membersihkan wajahnya dengan perlahan.


"enak, kamu mau? ehh lupa udah habis" meringis dan melahap satu sendok nasi yang masih tersisa di piring itu.


astaga, kalau enggak tampan udah aku banting nih. batinku menjerit jerit tak terima.


jusnya kenapa ga di minum? tanyaku berharap bakalan dikasih minuman, ya lumayan lah ya sarapan juss.


"eh iya"


glek.... glek... glek... dia menenggaknya habis tak bersisa barang setetes pun.


terus aku ga dikasih apa apa? oh tuhan, dasar kelinci rakus ini!keluhku dalam hati hanya aku dan tuhan yang tau.


"kak, ini seriusan jadwal kakak seharian ini?" tanyaku lesu.


"iyalah" memakai jacket yang membuatnya semakin uwawww banget deh.



kakak ga capek? aku yang semakin penasaran.


"capek lah banget, tapi ya kitakan harus membaur untuk bertahan hidup"jawabnya membuatku terkejut.


sejak dia menjawab pertanyaanku yang terakhir itu aku jadi bayak bertanya dalam benakku sendiri. Hanya orang orang intovert yang punya pemikiran seperti itu.


iya, kami sebenarnya sangat malas untuk berkerumun. riuh ramai dan sesak lautan manusia bisa membuat kami hilang daya. Bahkan terkadang kami bisa merasa pusing luar biasa dan emosi tidak terkontrol jika berada dalam situasi ramai yang tak terkendali.

__ADS_1


aku memang fansnya, tapi untuk melihat konsernya aku memilih melihat via online dan sendirian di rumah. Aku ingin melihat dan langsung berinteraksi, namun apa dayaku penolakan keras juga ada pada diriku sendiri. Diriku sangat sangat membenci keriuhan.


"tinggalkan aku sendiri". pintanya membuatku pergi seraya menutup pintu perlahan.


__ADS_2