
"Aku akan tidur disini malam ini"
Tata hanya terdiam memikirkan bahwa mungkin seharusnya memang seperti itulah pernikahan. Suami istri menghabiskan sisa hidup bersama, Tertawa dan menangis bersama.
Tata mengangguk.
"Kemarilah"
Tata memanggil Jhon untuk lebih mendekat dengannya.
"Apa?" Tanya Jhon yang sudah berada disebelahnya dan menatap Wajah Tata teduh.
Tata memeluk Jhon erat, Tata seperti sudah pasrah akan jalanya takdir. Menerima dan memahami perasan masing masing. Kondisi dan pekerjaan yang mengharuskan mereka berbeda tujuan.
Nampak kebingungan yang nyata di wajah Jhon menerima pelukan yang begitu hangat dari istrinya. Pertama Jhon mendapat pelukan itu saat kematian mendiang ibunya, dan sekarang dia mendapatkanya lagi. Mebuat Jhon semakin bertanya tanya.
"Apakah dia sedang sedih sekarang?" Jhon menerka nerka dalam benaknya.
"Ada apa? hemm, apa yang sedang kau fikirkan?" Jhon mengusap perlahan punggung Tata, mencoba memberi kenyamanan untuk istrinya.
Tata mendesah dan menutup muka dengan kedua tanganya, seperti menahan butiran air mata yang akan terjatuh beruntun. menggelengkan kepalanya berkali kali, seperti tidak meyakini apa yang sudah terjadi.
Tata enggan bercerita, ini cukup menguras tenaga. Tata memilih untuk tidur lelap malam ini dan mengumpulkan segenap daya. Hal ini membuat Jhon semakin penasaran dan cemas akan apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku istrimu, bolehkah aku tidur di dekapanmu malam ini? Aku ingin mengisi penuh tenagaku untuk esok hari."
Tata menarik narik kecil baju Jhon, merajuk manja seperti balita yang meminta sesuatu pada ibunya.
"Iya, baiklah. sini" Jhon merentangkan kedua tangannya lebar lebar sebagi tanda Dia menerima istrinya dengan senang hati.
kamar itu menjadi hening seketika, Tata lebih memilih tertidur meski sebenarnya angnya masih melayang layang memikirkan suatu hal yang susah untuk dijelaskan.
Malam telah terlewati dengan tenang tanpa keributan. Pagi ini, Tata enggan untuk merias, luka di kakinya membuatnya sulit untuk bergerak.
Jhon sudah selesai mandi dan kembali mengunjungi kamar Tata untuk merias dirinya.
"Kali ini harus hati hati"
Jhon mendengarkan nasihat istrinya yang dari semalam lebih banyak terdiam daripada membicarakan sesuatu hal yang tidak penting.
"Aku tidak mau menjadi janda sia sia". Ucap Tata sembari memakaikan lipscare pada suaminya.
"Apa, itu berarti kalau kau sudah mau menerima pernikahan kita?"
Jhon menunggu antusias jawaban yang akan dia peroleh dari istrinya. Matanya sangat berbinar dengan senyum yang masih tertahan di bibir manisnya itu.
__ADS_1
"Iya, ku pikir ini sudah saatnya bagiku untuk menerimamu" ucap Tata menunduk malu.
Kebahagiaan itu memenuhi dada Jhon, Entah mengapa tapi Jhon benar benar menunjukan kebahagiaanya. Terlepas dari kenyataan bahwa Jhon masih memiliki hubungan dengan Elsa.
"Benarkah? kau yakin?" Jhon memastikan keputusan yang telah diucapkan istrinya itu.
"Yakin! atau kau mau aku berubah fikiran lagi?"
Tata memasang senyum termanisnya untuk disuguhkan pada suaminya itu. Energy mereka benar benar terisi penuh sekarang. Jhon memeluk Tata erat mendekap penuh hangat dan menghujani Tata dengan ciuman yang mendarat bertubi tubi di wajah Tata.
"Sudah, nanti ada yang lihat". Tata mengelak beekali kali supaya ciuman itu meleset.
Kekecewaan nampak pada wajah Jhon. Belum puas dengan apa yang di dapatkanya Jhon mencium bibir Tata sekilas, Tapi tidak sia sia karena Tata pun suka dan membalas dengan antusias.
"Hentikan, lihat wajahku penuh dengan lips caremu." Tata bercermin dan membersihkan bekas bekas lips care itu.
"Aku take dulu oke!"
"emmm" Tata mengangguk dan membereskan alat alatnya.
Belum selesai dengan itu, Yogi datang dengan wajah manyunnya.
"kenapa?"
"Take ku udah selesai, dan aku pingin pulang tapi ga boleh!" Yogi mengadukan kekesalanya pada Tata yang tidak tau asal usul masalah Yogi.
Pertanyaan Yogi memecah perhatian tara dan berhenti melakukan aktifitasnya. Tata melihat ke arah Yogi dengan seksama, Wajah Tata yang teduh kala itu semakin menambah ketertarikan Yogi pada Tata.
"Baru mulai kerasa lebih nyeri dari kemarin, mungkin pengaruh obat bius yang sudah habis"
Tata melihat perban di kakinya dan meniup luka itu perlahan.
Derrrrttt...... Derrrtttt.....
Suara dering ponsel.
Wajah tara terlihat tegang dengan melihat ponselnya berdering, tertera sebuah nama Ibu di ujung panggilan itu. Tangan Tata sedikit gemetar, Tata hanya bisa menolak panggilan itu. Berkali kali memanggil namun Tata tetap mengabaikanya.
Yogi penasaran, mengapa Tata mengabaikan panggilan ibunya sendiri. Yogi memberanikan diri untuk bertanya.
"Kenapa ga di angkat Ta?"
"Ga apa apa kok, nanti aja kalau udah ga di jam kerja." Tata berbohong.
Tata melamun, bingung harus berucap apa pada sang ibu. Nampaknya hari ini Tata akan mendapat masalah besar, Perasaan Tata tak bisa dibohongi lagi. Raut kegusaran menghinggapi Tata semenjak panggilan ponsel ibu di abaikan.
__ADS_1
"Yaudah"
Yogi hanya mencoba mempercayai ucapan Tata, dan mengalihkan perhatian dengan bermain ponsel.
Panggilan terhenti dan sudah tidak berdering lagi. Tidak ada perbincangan yang berarti diAntara Tata dan Yogi. Sampai Yogi tertidur di sofa dengan Ponsel yang masih menyala. Sedang Tata tertidur dengan wajahnya yang terlihat lelah.
Ceglek.....
Suara pintu terbuka beriringan dengan derap langkah kaki seseorang.
Jhon yang memasuki kamar Tata seketika berhenti melihat ada Yogi yang tengah tertidur pulas. Sementara Tata mulai sedikit membuka mata dan mencoba bangun dari tidurnya.
Jhon melihat kearah Tata dan seperti bertanya tanpa suara sembari menunjuk Yogi yang tengah terlelap.
"Kenapa dia disini?"
Jhon menghampiri Tata dan mengusap lembut kepala Tata, membuat Tata menghindarkan diri dari sentuhan Jhon.
"Kenapa?" Ucap jhon perlahan.
"Nanti dia lihat." Jawab Tata perlahan seperti berbisik dan menunjuk ke arah Yogi. Wajah Jhon nampak seperti sedang kesal dan menghampiri Yogi.
"Kak, bangun sudah selesai, semua sedang bersiap pulang." Ucap Jhon mencoba membangunkan Yogi, jhon menggoyang goyangkan tubuh Yogi yang yengah tertidur di sofa.
"Oahhmmm iya kah? sehhhh.... akhirnya." Yogi mergangkan tubuhnya, beberapa kali dia menguap menandakan masih ada kantuk yang dirasanya.
Tata berpura pura tertidur saat Yogi terbangun, dengan niatan supaya tidak ada pertanyaan lagi untuknya. Namun semua itu salah Yogi justru menghampiri Tata dan mengusap kepala Tata tepat di bekas luka saat dulu Tata tertimpa stik lampu.
"Dulu, di kepala ini. dan sekarang kakimu. Sebegitu perhatian dan baik kamu pada Bosmu."
Yogi memandang tajam kearah Jhon. Jhon sontak memandang kearah Yogi yang dengan lembutnya masih saja mengusap kepala Tata. Terseringai senyum kecil saat Yogi menatap Jhon.
"Sepertinya aku mulai menyukai gadis kecil ini." Ucapan Yogi seketika membuat Jhon terbakar hangus oleh api cemburu, Bagaimana tidak ada pria lain yang denhan sadar dan sengaja mengusap lembut penuh perasaan kepala istrinya.
"apa?"
"Iya, aku mulai menyukai Tata. Kamu tidak masalah kan?" Yogi secara terang terangan meminta ijin kepada Jhon selaku bos Tata. Tapi tidak dengan posisi lain sebagai suami sah Tata.
Jhon tidak menjawab dan hanya terdiam mematung. Lidahnya kelu, Jhon mulai memahami dan mencintai istrinya. Tetapi harus menutupi statusnya hanya lantaran pekerjaan.
"Tanyakan dan urus itu langsung dengannya" Jawab Jhon yang kemudian terduduk di sofa, karena lemas dan bingung dengan apa yang harus dilakukanya.
"Baiklah, aku akan mencari waktu yang tepat." Yogi berjalan dan mengjampiri Jhon yang tengah duduk di sofa. Menepuk pundak Jhon perlahan.
"Kamu bertanggung jawab atas luka dikakinya"
__ADS_1
"Hanya luka kecil" Jawab jhon tanpa melihat wajah Yogi.
"Apa, kecil? dia mendapat 6 jahotan untuk itu. Akupun tak menyangka dia tanpa mengeluh menerima jahitan itu, Kakinya robek. bukan lecet!" Jawab Yogi yang kecewa dengan kebodohan Jhon itu.