
kak vito datang menghampiriku,
"rias JA lagi ya. MUA nya belum sembuh". kata kak vito.
"ok, tapi bayaranya nambah kan?" ucapku
"oke, gampang lah itu". jawab kak vito.
JA sudah menungguku di ruang rias, aku menghampiri dan meriasnya.
tidak ada yang berkurang sedikitpun dari getaran yang kurasakan ini, tetap sama pada posisinya dan tetap pada porsinya.
"kamu tuh serba bisa ya". ucap jhon yang mengajakku bicara.
"iya" aku hanya membalas dengan anggukan dan senyuman.
saat merias belum selesai Jhon sudah tertidur lehernya meliuk ke kanan dan kiri.
aku membuka koper make up ku. ku keluarkan bantal leher kesayanganku.
kupakaikan pada Jhon, dia terbangun sesaat dan tersenyum melihat aku memakaikan bantal padanya.
"terimakasih" ucapnya sambil menutup mata dan tertidur lagi.
"sama sama" jawabku dan melanjutkan pekerjaanku.
"iya, hanya dia yang diberi bantal. aku tidak".
ucap yogi yang mengagetkanku yang dia tiba tiba duduk di dekatku.
yogi duduk di sofa yang berada di samping meja riasku.
"kakak mau juga?" tanyaku
"tentu, leherku pun lelah". jawab yogi.
"apa kakak? lalu kau memanggilku dengan nama saja?" tanya jhon mengagetkanku.
"iya, iya baiklah akan kupanggil kalian berdua kakak. dan ini untukmu".ku keluarkan bantal cadanganku dan memberikanya pada kak yogi.
"pakaikan" pintanya dengan muka yang cool itu. aku memakaikanya pada kak yogi dan dia sibuk dengan gamenya.
"diam jangan bergerak, sebentar lagi selesai" pintaku pada jhon.
"tambah waktu lebih lama sedikit, aku masih ingin tidur 30 menit lagi" kata jhon.
aku menoleh pada kak yogi yang tersenyum kecil seolah tau makna dari arti kata kata jhon barusan.
"turuti saja, biarkan dia mengisi daya" ucap kak yogi.
__ADS_1
apa maksudnya mengisi daya ataukah mungkin jhon itu sebenarnya sama introvertnya denganku. yang berkumpul dan mambaur hanya demi bertahan hidup.
memang tak terelakkan manusia itu mahkluk sosial.
setengah jam berlalu, aku membangunkan kak jhon.
"kak, bangun. sudah saatnya take". ucapku sambil menggoyang goyangkan pundaknya.
jhon mulai membuka mata, mergangkan badanya yang usai tertidur pulas. kemudian dia melepas bantal dari lehernya, dan memakaikanya padaku.
aku kaget tak menyangka sama sekali.
"pakai dan tidurlah! nanti kita akan lembur". ucapnya.
aku hanya mengangguk, dan ya aku tertidur di pojokan ruang rias dengan menutup kepalaku dengan jaket hitamku.
aku benar benar harus mengisi dayaku secara maksimal.
hingga pukul 11 malam waktunya kami istirahat. aku masih tetap tertidur dengan posisi duduk di pojok ruangan itu hanya beralaskan koran.
"bangun, ini minumlah!" suara kak vito membangunkan ku.
aku menerima kopi pemberian kak vito meski masih dengan mata setengah tertutup.
aku hanya meletakkan kopi itu didekatku dan kembali tidur. saat akan kembali bermimpi, suara keras membangunkanku.
kak vito terjatuh dari kursi malasnya, dan dia meringis kesakitan. aku melihat itu dari posisiku yang sama, karena kak vito hanya berjarak sejengkal dari kakiku.
"auhhhh.... sakit." kata kak vito sambil mengelus elus pantatnya.
"ga apa apa kan kursinya" kata kak yogi
"harusnya sih enggak, kan dia membal". jawab JA.
aku tersenyum melihat kedua orang itu meledek kak vito. rupanya ini keakraban mereka di balik layar kaca seperti kakak dan adik sungguhan.
tapi terkadang saat di layar kaca ada kecanggungan atau sensasi yang sengaja di hadirkan untuk menjadi tranding topick, atau bahkan mendongkrak popularitas.
"hei kecil, bangun jangan tidur terus benarkan make up ku". kata kak yogi memintaku untuk meriasnya lagi.
"setelah hyeong, lalu aku ya" pinta JA sambil memakan cemilanya.
aku hanya mengangguk. sampai saat aku merias JA, ada yang aneh yang aku lihat di cermin.
berbanding terbalik dengan Tara yang bisa melihat keberuntungan di masa depan. Aku justru hanya bisa melihat kesialan yang akan menimpa sesorang tanpa sengaja, dan tidak setiap aku pergunakan hal itu ada.
Bahkan sampai sekarang pun aku masih tidak bisa menggunakannya dengan tepat. Pantulan yang aku lihat di cermin, terlihat jelas Jhon dengan kepala yang tergores mengeluarkan darah.
sedang yang aslinya jhon sedang asyik dengan hpnya.
__ADS_1
tanpa sadar mulutku ini mengingatkanya.
"setelah ini berhati hatilah dengan kepalamu kak". aku selesai dan merapikan rambut jhon.
sesi pengambilan gambar berlangsung lagi, semua lancar hingga kami pulang.
"huft, syukurlah tidak ada hal buruk terjadi." gumamku dalam hati, sambil membereskan alat alat tempurku.
"kapalaku baik baik saja kan" ucap jhon dan menghampiriku.
belum selesai kakinya melangkah untuk menghampiriku, kaki jhon tersandung kabel dan lampu sorot itu ambruk.
aku berlari dan mendorong jhon yang terjatuh sedang kepalaku sudah mengeluarkan darah. tim dan kru panik melihat darah keluar dari kepalaku.
jhon menutup luka dan menghambat darahku agar tak terus mengalir dengan bantal leher yang ada di sofa. dia segera memapahku keluar ruang rias.
"alat alat make up ku kak," kataku pada jhon.
tapi jhon hanya diam saja dan terus membawaku, terlihat jelas kepanikan di wajahnya.
sampai kami tiba di rumah sakit, dia sangat sangat panik. ini bukan luka fatal, hanya luka ringan mungkin hanya butuh beberapa jahitan tapi kenapa dia seheboh ini sih. aku masih heran sama kak jhon.
"eh, esmeraldah kamu kenapa?" tanya tara.
"huh, kepalamu berdarah". tara mulai khawatir.
aku masih diam saja sambil menutup luka di kepalaku dengan bantal tidurku.
tara menjahit kepalaku tidak banyak hanya 4 jahitan kulit kepalaku robek.
dan benar ini tidak fatal. aku selesai dan tara mengantarkanku kembali pada Jhon. aku memperkenalkan tara pada jhon, terlihat kegembiraan meluap di wajah tara karena dapat menyentuh tangan jhon. sementara jhon, tetap pada kekhawatiran yang sama.
"aku antar kamu pulang" kata jhon.
"aku bisa sendiri kak". jawabku
"tidak baik anak kecil pulang malam malam sendirian." kata jhon.
"TUHAN, sadarkan dia aku ini sudah 20 tahun. memang wajahku saja yang masih seperti bayi". ucapku kesal
"kita kembali dulu mengambil alat alat make up ku kak." pintaku pada jhon.
"tidak usah kak vito sudah ku suruh untuk memberes kan nya". jawabnya sambil tetap focus mengemudi.
"bisa kita kontrak untuk kau supaya menjadi MUA ku saja?" pinta jhon mengagetkanku.
sontak aku terperangah dan tak dapat berkata kata. "apa ini apa dia gila, aku masih ada kontrak 2th dengan kak yogi. dan ini baru berjalan 1bulan". gumamku dalam kalbu
aku masih jauh dari kata sempurna untuk mengontrol emosi. aku masih suka senyum senyum sendiri saat merias jhon yang sedang tidur. atau berkhayal tak jelas saat jhon sedang take gambar. kalau aku kerja sama dia, alhasil mungkin aku akan berkahir di RumahSakit Jiwa.
__ADS_1