
"tinggalkan aku sendiri". pintanya membuatku pergi seraya menutup pintu perlahan.
Ada apa dengan dia?
biarkan sajalah, biarkan dia menenangkan diri dan mengumpulkan energy. Cletukku dalam hati, seraya berjalan keluar rumah besar itu.
Sebelumnya....
Terimakasih kakak Yogi yang tampan! Pujiku pada kak Yogi yang mentraktirku makan malam.
"hemmmm" jawabnya singkat.
"Aku masih tidak habis fikir dengan apa yang dilakukan Elsa, tega sekali dia menghianati Jhon". Kak vito mengomel.
"apa kita harus memberi tahu Jhon?". Kak yogi bimbang.
"Kita tidak punya bukti kuat." Ucap kak vito.
"Kuat ini sangat kuat". menunjukkan foto kepada kakvito.
"Wah, sungguh kau sangat berbakat menjadi detektif ". memngacungkan kedua jempol.
"sekarang?". kak yogi ragu.
"Tidak jangan kita tunggu waktu yang tepat dulu". Jelas kak vito.
Aku hanya mengacuhkan mereka dengan makan dan menyumpal telingaku dengan earphone. Sesungguhnya hanya earphone yang mengganjal tanpa lagu yang ku putar.
Aku hanya ingin mereka leluasa bicara tanpa takut terganggu olehku. Sejujurnya aku mendengar semuanya, termHaiasuk salah satu diantara mereka kentut akupun tau.
Sampai acara makanku selesai aku hanya berdiam. Aku sangat malas untuk membahas Elsa.
"Cil, jangan beritahu apapun pada JA soal ini" Kak Yogi memberitahuku untuk menjaga rahasia ini.
Angguku malas.
Eh itu lihat, Ada Elsa dan kak Jhon. Tunjukku pada mereka yang sedang berjalan memasuki restoran.
"Cih wanita sialan itu!" Ketus kak Yogi atas ketidak sukaanya pada Elsa.
"Ayo kita pergi saja". pinta kak vito.
Kami bergegas pergi meninggalkan meja kami. Belum sempat kaki kami melangkah jauh, terdengar suara seorang wanita memanggil Kak yogi.
"Yogi" seru suara wanita itu.
Aku sangat akrab dengn suara itu, suara lembut nan manja itu. Itu suara elsa, batinku.
Kak yogi menoleh dan Jhon memanggilnya. Raut wajah kak Yogi seketika berubah menjadi sangat dingin. Aku memutarkan badan dan akan melanjutkan langkahku untuk menunggu mereka di mobil saja.
Tanganku serasa dingin saat tangan itu meraih tanganku. Aku sangat terkejut dan tak paham dengan situasi yang sedang terjadi.
__ADS_1
Kak apasih tarik tarik tanganku? Protesku pada kak Yogi.
"Sudah diam, ikut aku saja". Jawabnya dingin. Aku terdiam bergidik ngeri dengan tatapanya itu.
Kami bertegur sapa dengan mereka, tetapi tidak seperti biasanya.
"Hai, lagi pada kumpul?" Tanya jhon mengwali perbincangan.
"iya". sahut kak vito.
"Kamu katanya ga bisa ikut acara makan malam Ta?" Tanya jhon padaku yang hanya menunduk bingung dengan keadaan yang sedang terjadi.
"iya, dia tidak bisa ikut acara makan malam karena ada acara denganku". Jawaban kak yogi seketika membuatku serasa ingin berteriak kencang dan menegurnya. Apa maksudnya.
seketika keadaan menjadi hening hingga saat ada sesorang yang memanggil namaku.
"Amelita sabina, benarkah itu kamu?" Tanya suara itu perlahan. Aku sangat menghapal suara lembut itu, suara yang sangat aku rindukan untuk beberapa waktu yang lama.
Aku berlari melompat dan sangat girang.
Aaaaaa...... benarkah itu kakak?" Teriakku dengan berlari dan menghampiri lelaki gagah dan tampan itu.
Seperti bayi kecil aku didekapnya erat, sangat erat. Senyum bahagiaku mengembang sempurna. Sampai aku lupa dengan suasana dingin yang terjadi di dalam restoran itu.
Kakak, kapan kesini? kok ga kasih tau adek? Tanyaku pada pria tampan itu.
"Mau kasih kejutan kamu dek, mau mampir cari makan dulu. Eh kebetulan kamu disini". Jawabnya sembari mengelus rambutku.
"Aku juga". Jawab pria tampan itu.
Hingga aku tersadar mereka masih memperhatikanku dari dalam resto. Aku meminta ijin untuk pergi terlebih dulu bersama kakak ku.
Kak yogi maaf aku pergi dulu ya. Ijinku pada kak yogi.
Dia hanya membalas dengan menepuk bahuku dan mengangguk. Kemudian mengibas ibaskan kecil tanganya seperti mengusir kucing kecil.
Dikira aku kucung kali ah. aku pergi tanpaambil pusing dengan badai es yang terjadi disana.
Ayok kak. Aku merangkul pinggang pria jangkung itu.
kami pergi bersama. dan pulang ke rumahku.
"Itu tadi siapa dek?" Tanyanya sambil memakan masakanku yang sangat dia rindukan.
Itu tadi ada bosku, beserta pacarnya, dan managernya. jawabku mengeringkan rambut sehabis mandi.
"Ku kira ada pacarmu diantara mereka itu tadi". Ujarnya dengan menonton tv.
"Hahahahha apa? Kakak tidak tau kalau mereka itu tadi aktor dan penyanyi?". Jawabku dengan tertawa keras.
__ADS_1
"huhh,, benarkah? hesshh, seeprtinya aku kurang up to date". mengerutkan dahi berfikir keras.
Katakan apa maksud dan tujuan anda datang kesini tuan? ledekku sambil menggeser kakinya yang menggantung di antara sofa dan meja.
"Kakek, kasihani dia. Terimalah dia". Pintanya melihatku dengan mata penuh memelas.
hehmmhhpft.... ga mempan! hentikan muka yang memelas itu kak. Berusaha menahan tawaku.
"Ya, kau tak kasihan dengan usahku berakting sempurna ini?" ungkapnya yang mulai kesal.
Cihhh, ga berasa sama sekali rengekanmu itu. Sombongku yang meninggi dan merangkul lengan pria jangkung ini.
"Pulanglah, dan jenguk kakek sekali saja. Ada yang ingin kakek berikan padamu." Ungkapnya sembari mengelus kepalaku.
Nanti jika aku sudah siap kak, jangan paksa aku. ucapku memohon padanya
"Ingat, kita tak akan pernah tau kapan batas waktunya. Pikirkan itu ya!" memelukku.
Baiklah akan ku pikirkan, Aku pergi kekamar dan tidur.
SKiP.......
Pagi tiba aku bergegas berangkat untuk jadwal yang padat hari ini. Setumpuk pekerjaan telah menanti, iringan indah harmony di pagi hari.
Bell pintu kak Jhon sudah ku pencet berulang kali tapi tidak ada respon. Aku memutuskan untuk menunggu dan terus menghubunginya.
Setelah lebih dari 30 menit baru pintu terbuka, Rautnya sama sekali tidak mengenakkan. Dia hanya diam dengan rambut yang berantakan.
Kak, segeralah waktu kita tak banyak. Kak vito dan kru sudah menunggu di lokasi. Aku menyiapkan sepatu, baju dan segala kebutuhannya untuk ke lokasi.
Dia tak menjawab perkataanku, Dia hanya pergi memasuki kamarnya dan membanting pintu.
Apa maksudnya coba? Keluhku kesal setengah mati.
Salah apa aku? Tanya pada diriku sendiri.
Ku ketuk pintu kamarnya, dan tidak ada respon. Aku terus mengajaknya bicara,
Kak sudah belum? Tanyaku selesai menata barang barangnya di mobil.
Kak, aku mengetuk pintu dan memanggil manggilnya.
"tinggalkan aku sendiri". pintanya membuatku pergi seraya menutup pintu perlahan.
Aku benar benar tak mengerti akan keinginan Kak jhon. Tapi ya sudahlah bodo amat, bukan urusanku.
Serahlah, kena denda juga dia. Yang rugi dia. Ocehku kesal dalam hati.
Aku menunggu di mobil, Kak jhon memasuki mobil dengan bad mood.
Entahlah apa ini, tapi melihat dia yang seperti itu membuatku ikut kesal. Sepertinya aku terbawa aura negatifnya.
__ADS_1
Mukaku ikut cemberut, selera humorku hilang. Makan pun aku tak bernafsu.
Apa ini?