
"Hallo, Kak aku pulang duluan ya, nanti sampai rumah aku ceritakan".
"bye".
Tanpa mendengar jawaban dari Nino Tata segera mematikan panggilan.
Kecemasan itu Nampak nyatatertera di raut wajah Tata.
Di sungai.
Jhon terus memancing dan sesekali mengamati Nino yang berada di seberang sungai.
"Apa pria itu pacar Tata dan mengajak Taat berlibur kesini"
"Tapi menggunakan kematian neneknya sebagai alasan, itu tindakan yang kurang baik". Gumam jhon seraya mengamati pelampung pada pancingnya itu.
di sisi lain.
"Pak, bapak pulang dulu lalu ambilkan sepeda saya dan antarkan kesini ya" Tata meminta bantuan pak sopir untuk mengantarkan sepedanya di bawah pohon tempat Tata mengisi daya Tubuh.
cukup lama tata menikmati deru ombak dan semilir angin itu sampai akhirnya pelayan menelfonnya.
"Nona, cepatlah pulang ini sudah waktunya bersiap" Nada lirih dari pelayan.
"emmm" Sahutku malas.
"Mau ngapain lagi sih, lagi males banget ini". Ujar tata mendengus kesal.
Dirumah Kakek
Pelayan sudah siap dengan beberapa barang yang dibawanya. Membuat Tata memgerutkan dahi terheran sekaligus penasaran akan apa yang akan mereka kerjakan.
Tata memasuki kamarnya dengan cueknya. Para pelayan segeraengikutinya terburu buru dari belakang.
"Permisi Nona" Suara lirih itu terdengar jelas dari balik pintu.
"Apa kami boleh masuk?"
"Kami, Berarti banyak dong?" Tata berjalan membuka pintu kamar.
"Ada apa mbak mbak yang cantek?" Tanya Tata malas yang membuat para prlayan tertawa kecil dengan tingkah Tata yanh menempelkan Wajahnya ke daun pintu dengan malasnya.
"Ppft..... , Ini perintah Kakek Nona. Kami diperintahkan untuk mberikan ini". Menyodorkan sejumlah barang hingga Tata kerepotan membawanya.
Tata meletakkan barang barang itu diatas ranjang besarnya. Kebingungan masih tertera nyata di Wajah tata, sebagian pelayan ada yang membantu masuk menghantarkan barang barang lagi.
"Cepatlah, pakai dan bersiap Nona. Acaranya pukul 08.00 malam" Ucap pelayan memberi keterangan lebih rinci pada Tata.
Anggukan tata menyelesaikan tugas pelayan lebih cepat.
"Oke" Jawab Tata cepat.
"Kalian bisa pergi, aku bisa mengurus didiku sendiri" Tata menutup pintu kamarnya perlahan, berjalan dengan malasnya dan merrbahkan diri di sofa.
__ADS_1
Matanya tertuju pada barang barang yang baru saja diterimanaya.
skip
Makan malam, waktu sudah menunjukan pukul 07.30. Tata masih berdandan dengan santainya.
"Cepatlah cucuku". Perintah kakek yang sedari tadi menunggu Tata merias diri.
"Sabar kek, sebentar lagi udah selesai" Sahut tara yang masih sibuk mengenakan anting anting dan set perhiasan.
"Sudah ayok," Tat menggandeng tangan kakeknya, menggiring kakek menuju mobil mewah kakek.
"Kak Nino ikut juga?" Tata bertanya pada kakeknya yang melihat Nino dari kejauhan.
Kakek mengangguk.
"Hmmmh, Oke" Angguk tata.
"Wiihh, cantik sekali" Puji Nino pada Tata dan memeluk Tata.
"Kek, aku besok sudah mulai bekerja lagi". Ijin Nino pada Kakek.
"Baik, ada Tata yang masih menemani kakek". Jawab Kakek ynag masih menggandeng Tata sedari tadi.
"Jaga Kakek baik baik ya Ta". Nino mengusap rambut adiknya itu.
Tata mengangguk cepat.
"Kek kenapa di rumah sakit?"
Tanya Tata yang sangat heran dengan acara makan malam ini.
"Makan malam di rumah sakit? ini seriusan?" Gerutu Tata dalam hati.
Kakek berjalan menuju salah satu ruang vip, masih dengan menggandeng Tata, Taut wajah Tata sangat kebingungan saat itu. Nampaknya hanya dia yang tidak tau menahu soal rencana kakek.
Memasuki ruang vip itu Ada seorang anak yang dengan setia memegangi tangan ibunya. Pria itu menoleh seketika Tata dan Kakek memasuki ruangan itu.
Tata sangat terkejut, Tata hanya bisa menunduk dan pasrah. Bagaimanapun dia berlari dan menghindar, Takdir tetap mempertamukan mereka.
Pria itu adalah Jhon Athaa, Idol yang sangat di gandrungi Tata.
"Apakah benar dia yang akan di jodohkan denganku?" Batin Tata masih tak percaya dengan apa yang ada di hadapanya saat ini.
"Kenalkan ini Emma, Emma ini Tata satu satunya cucu perempuanku yang aku ceritakan padamu" Kakek memperkenalkan Tata pada wanita itu.
Sedangkan jhon, sedari tadi masih tak bisa mengalihkan pandangan dari Tata.
"Benarkah dia Tata asisten dan makeup artisku yang bekerja denganku"
"Dia sangat berbeda, Dia cantik. Tubuhnya tak sekecil yang kukira".
"Dia cucu kandung kakek? Orang kaya yang sering berkunjung kerumah kami".
__ADS_1
"Yang sudah ku anggap Kakek sendiri".
Rentetan pertanyaan masih menumpuk di benak Jhon, yang hanya bisa duduk dan terus memegangi tangan ibunya yang tergolek lemah.
"Aku Emma, ibunya Jhon". Tangan lemah nan dingin itu menjabat tangan Tata.
Tata sontak menjadi pucat, keringat dingin membasahi keningnya. Wajahnya panik sangat panik hingga Jhon bertanya pada Tata.
"Apa yang kamu lihat Ta?" Jhon bertanya pada Tata yang justru membuat Tata semakin pucat dan gemetar.
"Kakek tau tentang apa yang dilihat Tata, itu sama dengan apa yang sedang kakek saksikan".
Nino memapah Tata yang kemudian duduk di sofa, menenangkan Tata dan memberinya air. Wajah pucat Tata belum juga pergi, nafas Tata masih tak beraturan.
Serasa seperti enggan menerima kenyataan jika Tata mampu melihat kilasan seseorang.
suara ketukan pintu memecah kepanikan di ruanagan itu.
"Masuklah" Ucap kakek perlahan.
"Mari kita mulai pernikahan ini" Emma mengawali perbincangan dengan menatap lemah putranya.
Jhon hanya bisa mengagguk pasrah dengan permintaan terakhir ibunya.
"Abaikan Elsa, dan fokus saja pada ibu". Jhon menguatkan dirinya sendiri.
"Tata, Kamu bersedia?"
Tata mengangguk cepat dan menghampiri Jhon yang masih setia di samping ibunya.
"Bu, kami sudah saling kenal sebelumnya aku akan berusaha menjaganya dan menemaninya". Tata tak berpikir panjang tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Cepat pak, waktunya tak lama" Perintah kakek pada penghulu. Janji suci telah di ikrarkan.
"Sah..." Ucap para saksi bersamaan.
Tangis Tata pecah seketika, dalam sekejap Tata sudah menjadi istri Jhon Athaa.
"Peluk ibumu, waktunya tak banyak". Ucap Tata pada Jhon untuk segera mendekap erat ibunya untuk tetakhir kalinya.
Dan, benar saja hal itu terjadi. Suara melengking dari monitor itu berbunyi meanandakan ibu telah pergi.
Tata tak kuasa menahan kesedihanya, dalam sekejap Dia menjadi menantu dan harus merelakan ibu mertuanya pergi untuk selama lamanya.
Jhon menangis sejadi jadinya.
"Ibu, Ibu, Maafkan aku. Aku belum bisa membahagiakanmu". Tangis jhon memeluk dan menggoyang goyangkan tubuh ibunya.
Para perawat datang dan menutup wajah Emma dengan selimut.
"Waktu kematian 08. 55". Perawat mencatat waktu dan tanggal kematian Emma.
Tata hanya bisa memeluk suaminya yang terus saja ingin membuka selimut yang menutup wajah ibunya.
__ADS_1
Penyesalan itu nampak jelas di wajah Jhon yang terus meronta dan memanggil manggil nama ibunya.
"Sudah, biarkan ibu bahagia dan tenang disana". Tata masih menitikan air mata saat mencoba menenangkan suaminya. Memeluk jhon erat dan mengusap rambut jhon yang terus memanggil ibunya.