
Beberapa waktu kemudian keadaan menjadi senyap, tangan ibu masih mengepal dengan raut kemarahan yang masih memuncak.
Pov Tata
Aku memberanikan diri untuk membuka suara, nafasku masih terisak isak dan aku masih terbata bata. Badanku sedikit gemetar bercampur aduk semua rasa takut dan ragu.
"A...Aku yang memaksa kakek untuk menjodohkan kami bu, Saat aku tau pria pilihan kakek adalah dia. Aku meminta Kakek untuk menjodohkanku dengannya bu."
"Dan, kenapa kami bisa terburu buru menikah. Itu semua di luar rencana kami bu, Awalnya Kami hanya akan bertunangan saja. Tapi keadaan ibu Jhon semakin memburuk dan kami melakukan Pernikahan di saat saat terakhir ibu Emma. Hanya satu keinginannya yaitu melihat putranya menikah dan hidup bahagia dengan wanita pilihanya."
"Ku mohon, ibu mengertilah. Semua ini bukan kesalahan atau paksaan ibu. Seiring kebersamaan kami aku mulai menyadari kalau aku mencintainya sebagai suamiku bu."
Aku berupaya sebisaku untuk meyakinkan ibu. Nenek memegangi tangan ibu dan menenangkan ibu.
"Sudah, kita selesaikan baik baik di dalam." Ucap nenek sambil membawa masuk ibu dan meninggalkan kami yang masih berada di taman.
"Apa yang kau katakan?" Jhon membalikan badanku yang ada di hadapanya. Dia menatapku lekat, Aku semakin tak kuasa menahan tangis saat melihat dari dekat Suamiku yang meringis menahan sakit karena ulah ibuku.
Jhon sangat tau jika aku berbohong, aku tak pernah tau jika pria yang di maksud Kakek adalah Jhon Athaa aktor idola sekaligus penyanyi tervavoritku.
"Kenapa kau berbohong?" Tanya nya lagi sambil mengusap air mataku.
Bibirku kelu dan keringat dingin keluar begitu saja di keningku. Dia sangat memperhatikanku, Dia mengecup keningku karena Dia tau aku belum mampu menjelaskan ini padanya.
Kami saling memapah berjalan menuju kamarku, tepat disebelah kamarku berjejer banyak medali yang ibu dan aku dapatkan selama kami bersekolah maupun mengikuti olympiade.
"Pantas saja kau ahli berenang, kau bisa membelah bata dengan satu jari." Ucap Suamiku yang membantuku berjalan memasuki kamarku.
"Jangan puji aku, aku ga suka pujian." Jawabku terus saja berjalan tertatih menuju kamar.
Kamar yang sudah lama tak terpakai, namun tetap terjaga kebersihannya. Nenek yang setiap hari merapikan meski aku tak ada berharap aku akan pulang secara tiba tiba dan memberikan kejutan untuknya.
Kubuka pintu itu perlahan, Aku merasa malu, sangat malu di kamarku yang sudah lebih bisa
dibilang sebagai Ruang Album gambar Jhon Athaa. Disetiap jengkal, disetiap sudut, semua penuh dengan gambar wajahnya.
Jhon berdecak heran setelah memasuki kamarku, matanya terus saja menatap satu persatu gambar yang menempel di dinding kamarku.
Aku hanya berdiri bersandar dipintu, menatap wajah yang dulu selalu ku inginkan siang dan malam, ingin menyentuh, mengusap, membelai lembut dan memeluknya. Dan sekarang semua itu sudah terwujud nyata di depan mata, Tapi kenapa aku masih saja merasa aneh dan sedikit tak percaya akan ketulusannya.
"Kenapa kau tidak membalas pukulan ibu?" Tanyaku membuyarkan perhatianya pada gambar gambar wajahnya yang terpajang di dinding kamarku.
"Hei, aku ini pria sejati. Aku ga mungkin akan memukul ibu mertuaku sendiri." Jawabnya yang terkekeh melihatku menanyakan hal bodoh.
Aku melempar pulpen secara tiba tiba dan cepat tepat kearahnya, dan dia dengan sigap menangkap pulpen itu dengan cepat.
"Apa maksudnya ini?" Menanyakan tindakanku yang tiba tiba melempar pulpen ke arahnya.
"Bela dirimu cukup bagus, tapi kau tidak mau melawan?" Tanyaku yang penasaran akan tindakanya yang seolah pasrah dengan hantaman yang di lontarkan ibu bertubi tubi.
"Kau tau aku bisa bela diri?" Tanyanya yang polos itu membuatku tertawa.
"Penggemar bodoh mana yang tidak tau tentang seluk beluk bakat, dan kemampuan idolanya."
__ADS_1
Ucapku sembari berjalan perlahan dan mencoba untuk duduk di ranjang. Jhon dengan sigap membantuku.
Dia duduk tepat disebelahku sekilas menatapku dan menundukkan kepalanya.
"Aku menganggap ibu, sebagai ibuku sendiri. Jadi aku tak akan sanggup memukulnya meski dia memukulku. Aku harus banyak berterimakasih padanya, karena selama ini dia telah menjaga separuh nafasku disini." Jhon mengelus pipiku lembut.
Ucapanya sungguh membuataku melayang jauh tinggi di awang awang.
"Benarkah ini?"
"Tuluskah ucapanya ini?"
Dertt..... Dertt....
Ponselnya berdering, tapi dia hanya melihatnya sekilas dan kemudian mematikan Ponselnya.
"Kenapa dimatikan?" Tanyaku penuh penasaran.
"Elsa." Jawabnya singkat sembari membuka bajunya tepat disampingku.
Dadaku berdebar hebat melihat sebagian dari tubuhnya yang bidang dan kekar itu. Aku menunduk dan teramat malu untuk melihatnya lagi meski sebenarnya batinku meronta ronta untuk menyaksikanya lagi, dan lagi.
Tok... Tok... Tok...
Ceglek...
Nenek membuka pintu kamar dan membuatku terkejut. Nenek yang melihat setengah badan Jhon terbuka dan separuhnya lagi berada di dalam selimut yang sama di sebelahku langsung menutup pintu kembali dengan cepat.
"Silahkan kalian lanjutkan lagi." Sambung Nenek sembari berjalan berlalu pergi dari depan pintu kamarku.
Kami saling menatap aneh dan sekejap kami tertawa bersama. Kami mengerti apa yang ada dinpikiran Nenek kala melihat kami berdua dalam posisi yang seperti itu.
"Astaga, Nenek pasti berfikir kita yang tidak tidak." Ujar Jhon sambil menahan tawanya.
"Iya, aku tadi lupa mengunci pintu." Kataku sembari mencoba turun akan mengambil Es yang dibawakan oleh nenek.
"Mau kemana?" Jhon bertanya dan memegang tanganku.
"Aku mau mengambil es, untuk mengompres luka Lebammu." Jawabku pelan.
"Sudah kau duduk saja disini, kakimu juga sakit kan. Biar aku yang mengambilnya." Jawabnya sambil membenarkan selimutku kembali.
"Apa kau juga selalu bersikap manis seperti ini pada Elsa?"
Pertanyaanku seperti memberi hentakan besar padanya, Dia menghentikan langkahnya seketika saat mendengar pertanyaan yang ku berikan. Dia melihatku sekilas dengan senyum kecil menyeringai diujung bibirnya.
"Bodoh, disaat hanya berdua kenapa harus menghabiskan tenaga untuk membahas wanita lain. Kau sangat bodoh Tata." Batinku memprotes kebodohan yang telah kulakukan.
"Apa dia akan marah?"
"Pasti dia akan marah" Ucapku pesimis dalam hati, aku mengalihkan kegelisahanku dengan mencoba membuka pesan yang menumpuk dinponselku.
Jhon menghampiriku, dia tiba tiba merebut ponselku dan hanya menaruhnya begitu saja di atas meja. menatapku lekat dan menggenggam tanganku lembut.
__ADS_1
"Jangan bicarakan orang lain diantara kita saat kita bersama oke."
"Mengenai sikapku yang manis terhadap pasanganku, itu semua kudapatkan dari mendiang ibuku. Dia mendidikku untuk bersikap baik pada yang baik."
Jawabnya sembari mengusap lembut jari jemariku yang ada di genggamanya.
Bahu, punggung dan pundaknya memar kemerahan dan sepertinya akan membiru. Ibu sengaja menjadikanya samsak latihan kali ini.
"Maafkan ibuku ya." Ucapku sambil terua mengompres memar memar dikulit putihnya.
Aku yang hanya menunduk, merasa sangat bersalah atas apa yang terjadi padanya kali ini.
"Aku sudah memaafkanya sayang. sudah jangan di bahas lagi, setelah ini mungkin kemarahan ibu akan mereda." Ucapnya membuatku sedikit tenang dan bernafas lega.
Waktu sudah malam, tidak ada yang mandi diantara kita berdua. Aku yang kesusahan berjalan merasa sangat malu jika harus dipapah oleh jhon, sedang Jhon merasa tidak enak jika harus keluar kesana kemari karena ini lingkungan baru untuknya.
Pov Author
"Ta, ayo makan malam." Nenek meninta Tata untuk makan bersama dan mengajak serta suamiya.
"Iya nek. Kami akan turun." Sahut Tata dari dalam kamarnya.
Di meja makan.
Canggung sangat canggung suasana saat itu, Tanpa ada perbincangan antara aku, ibu dan Jhon. Hanya Nenek yang berbicang ramah dengan Tata dan Jhon.
"Ayah pulang." Kata Ayah yang baru masuk rumah memecah keheningan.
Ibu lalu berdiri dan menyambut kedatangan Ayah, mencium tangan Ayah dengan hangat. Dan ayah mencium kening ibu lembut, kemudian ibu membawa tas dan jas Ayah masuk kekamar.
"Hai, putri Ayah. Apa kabarmu nak?" Ayah menyapa hangat Tata dan memeluk Tata erat mengusap usap lembut punggung putrinya dan beberapa kali mencium kening putri kesayangannya itu.
"Aku baik Ayah, Ayah sehatkan?" Tanya Tata yang merindukan sang Ayah.
"Kenapa dengan kakimu?" Tanya Ayah khawatir dengan putrinya.
Melihat kehangatan itu membuat Jhon seperti ingin memeluk Ayah juga, sudah sangat lama tidak pernah ada sosok Ayah yang hangat dalam hidup Jhon.
"Tidak apa apa Ayah, aku kan kuat. Ayah kenalkan ini suamiku Jhon."
"Jhon ini Ayah." Tata merangkul lengan Jhon dan tersenyum manis dihadapan Ayah.
" Wah, terkabul sudah keinginan Ayah untuk memiliki soerang putra yang tampan. Wah hebat sekali putri Ayah mencari suami." Ayah memeluk bangga Jhon dan mengusap punggung Jhon beberapa kali sambil berbisik pada Jhon.
"Kakek sudah memberitahu Ayah, kau tenang saja. Ibumu memang sedikit keras, sedikitlah mengalah pada ibu ya. Ayah mendukung kalian." Bisik ayah pada Jhon.
Seketika Jhon menjadi sangat bersemangat dan bahagia, wajahnya seketika merona.
Tata menyaksikan keakraban Ayah dan menantu itu membuatnya iri.
"Sudah sudah, mari kita makan. Nanti keburu dingin makananya." Ucap Nenek mengajak kami untuk kembali melanjutkan makan.
Ibu turun dengan wajah yang lesu dan bibir yang manyun
__ADS_1