Lelakiku Introvert

Lelakiku Introvert
38. Buku Tamu


__ADS_3

Masih terngiang ngiang di telinga Jhon perihal kejutan yang dibicarakan oleh Tata. Berkecamuk didalam benaknya, tentang kejutan yang Tata siapkan dan mengenai kehamilan Elsa yang harus di selidiki kebenaranya oleh Jhon.


"Saat bersamaku kami baru melakukanya sekali dan itu pun 3 bulan yang lalu. Aku harus menemui Dika, bertanya tentang ini padanya."


Jhon memutuskan untuk bertemu dengan Dika teman saat masa kuliah dulu, mereka satu universitas tapi beda jurusan sering bertemu dan menjadi teman lantaran memiliki hobi yang sama yaitu musik dan seni.


Dika adalah seorang dokter spesialis kandungan yang pasti sudah sangat paham betul tentang kehamilan seseorang. Jhon memutuskan untuk menemui Dika di klinik praktiknya.


"Ada apa kesini? apa ada masalah dengan perutmu?" Tanya Dika pada Jhon yang terlihat bingung untuk memulai percakapan.


"Em, tidak. Aku ingin bertanya tentang kehamilan." Jawab jhon gugup.


"Kehamilan?" Dika memberikan minuman dingin pada Jhon.


Jhon mengangguk pelan dan memijat keningnya.


"Oke katakan apa yang mengganjal di pikiranmu." Ujar Dika sambil menenggak minuman dingin.


"Aku,, em pacarku hamil." Jhon menunduk dan nampak kesusahan untuk mengutarakan pertanyaan yang mengganjal.


"Katakan apa masalahnya? Aku bukan peramal." Seru Dika yang melihat Jhon semakin bingung tentang hal yang akan di tanyakanya.


Jhon kemudian menceritakan semua dari awal. Dika menyimak semua cerita Jhon dan menarik kesimpulan yang cukup membuat Jhon menjadi semakin memikirkan Elsa.


"Aku akan menjelaskan dengan bahasa yang mudah kau pahami." ucap Dika santai.


"Jika kau hanya melakukan itu sekali dan sekarang dia sudah menyatakan kalau dia hamil, cara tergampang untuk tau itu adalah anakmu atau bukan hanya dengan mengetahui usia kehamilan pacarmu itu." Imbuh Dika.


"Apakah dia masih perawan saat bersamamu?" Tanya Dika serius


Jhon mendengus dan menggeleng.


"Hmm, bukan aku menambah keraguanmu. Tapi jika kau hanya sekali, kemungkinannya sangat kecil untuk membuatnya hamil. Terlebih lagi jika bukan pada masa suburnya, jika bukan pada masa suburnya wanita tak akan mudah untuk dibuahi." Ucap Dika santai.


"Benarkah seperti itu?" Jhon meyakinkan dirinya sendiri.


"Iya jika kau mencampurinya 3 bulan lalu paling tidak bila dia hamil saat ini, maka usia kehamilannya tidak akan lebih dari 2bulan." Ucap Dika dan menatap Jhon serius.


Jhon menutup mukanya dengan kedua tanganya seraya menunduk dan menghela nafas panjang. Dika yang melihat Jhon tersenyum kecil, seperti ada kelucuan di dalamnya. Kebodohan temannya itu menjadi bahan tertawaan Dika.


"Kenapa tertawa?" Tanya Jhon kesal dan menatap Dika.


"Kau sangat polos kawan, bisa bisanya kau bermain tanpa pengaman. Aku heran padamu, kau terlihat sudah besar tapi nyatanya kau masih seperti bayi." Dika tertawa lepas di hadapan Jhon.


Jhon yang kesal lalu melempar bantal kearah Dika.


"Itu yang pertama bagiku, jadi aku belum berpengalaman." Cletuk Jhon semakin membuat Dika tertawa geli.


"Astaga, kau ini. Sungguh membuatku geli. Kau artis, aktor, penyanyi, banyak gadis yang menggilaimu. Lalu kau baru melakukanya kemarin dan dia langsung berkata hamil?" Dika menggelengkan kepala seperti tak percaya pada apa yang telah terjadi pada Jhon.


Jhon hanya diam dan tak menaggapi ledekan Dika. Dika terus aja berekspresi seperti meledek Jhon.


"Malam ini aku tidur disini ya." ucap Jhon pada Dika yang masih memasang muka meledek.


"Ah, tidak tidak tidak bisa. Maafkan aku tapi malam ini Sofy akan datang jadi kau cepatlah pualang." Ucap Dika sambil menarik tangan Jhon yang bermaksud untuk mengusir Jhon.


Jhon merengek seperti anak kecil, dan Dika terus mnyuruhnya keluar.

__ADS_1


"Kapanpun boleh, asal jangan bersamaan dengan jadwal Sofy oke." Dika membujuk Jhon.


"Apakah kamu masih temanku?" Tanya Jhon kesal.


Dika hanya mengangguk sambil terus mendorong Jhon keluar. Perdebatan kedua pria itu lebih mirip seperti perdebatan anak TK yang saling tarik menarik dan merengek.


Jhon kembali ke Hotel dan masih merenungkan tentang peluang kehamilan yang sangat minim jika hanya satu kali. Kecurigaanya muncul mengingat Elsa yang pernah ketahuan betselingkuh di belakanganya. Tiba tiba hatinya seperti terpanggil dan mengingat Tata.


"Aku dan Tata melakukanya berkali kali, bagaimana bila dia juga positif hamil? meski dia tak menuntut tanggung jawabku, tapi yang ada di rahimnya adalan murni darah dagingku."


Mengingat semua yang sudah dilakukanya bersama Tata membuatnya semakin mengingat dan merindukan Tata. Aroma tubuhnya, cerianya, manjanya, dan semuanya.


Jhon menghubungi Tata, tapi tak mendapat jawaban. Di sisi lain Tata tengah sibuk mempersiapkan segala sesuatu hingga melupakan makan, dan ponselnya.


"Selly, tolong ambilkan ponselku sedari tadi terus berdering."


"baik" Jawab Selly mengambilkan ponsel Tata.


"Makasih" Tata melihat bayak panggilan tak terjawab dari nomor tak dikenal.


Tak kunjung mengangkat panggilanya membuat Jhon tergerak untuk mengirim pesan.


"Sayang, angkat telfonku ini nomor baruku" Isi pesan Jhon.


Tata sengaja membiarkan agar Jhon juga membiasakan diri tanpanya bila memang nanti Dia menikahi Elsa. Mengingat hal itu Tata menjadi bimbang dan meraba perutnya yang rata. Mengingat kembali masa masa indah nan pelik mereka berdua.


" Bagaimana jika aku benar benar hamil?"


"Aku bisa membesarkanya sendiri, uangku cukup untuk menafkahi anak ini." Batin Tata memberontak. Tata menutup wajahnya dengan kedua tanganya.


"Benar kau bisa?" Tata meragukan kemampuan Selly.


"Iya bu, anda jagan meragukan keahlianku." Ujar Selly meyakinkan bosnya.


" Ya sudah jika kau bertekad. Aku tidur dulu ya." Ucap Tata.


Tata berjalan sendiri menyusuri tepi pantai bertelanjang kaki, seperti mencoba mengusir penat. Ponsel Tata berdering lagi dan kali ini dari Yogi.


"Hallo" Jawab Tata.


"Cil, lagi dimana?" Tanya Yogi penasaran.


"Aku sedang sibuk mempersiapkan pesta peresmian besok. Kenapa?"


"Oh, jadi benar itu kau? berbaliklah aku di belakangmu." Ujar Yogi yang lantas mematikan panggilanya.


Yogi lalu berjalan menghampiri Tata yang masih berdiri menjinjing flat shooes nya. Rambutnya tergelung menunjukan lehernya yang putih nan menawan. Yogi sejenak melihat Tata terkesima, Yogi lantas memberi senyum terbaiknya.


"Kok Kakak di sini?" Tanya Tata heran.


"Kan kamu yang kirim pesan ke Aku untuk menjadi tamu pertama di pestamu." Ucap Yogi polos.


"Ya enggak sekarang juga kali ah" Tata tertawa lepas.


"Ketawa aja terus, sekalian mau nyantai sebentar aku Ta selagi jadwalku kosong." Jawab Yogi menghentikan Tawa Tata.


Mata Tata terbelalak ketika melihat kearah belakang Yogi seperti keheranan kedua kali.

__ADS_1


Jari Tata menunjuk ke satu arah dengan wajah yang ketakutan.


"I....itu apa itu....?" Ucap Tata membuat Yogi ketakutan dengan ekspresi dan sikap Tata.


Yogi seketika membalik badanya dan melihat sesosok perempuan berambut panjang di belakangnya yang tiba tiba memegang pundaknya dengan menunduk menutupi wajahnya dengan rambut. Yogi berteriak histeris.


"Aa.......!!!!"


"Hahahahahhahaha" Tawa Tata dan Tara bersamaan.


Yogi membuka matanya dan melihat jika yang menakutinya itu Tara, dengan refleknya Yogi lantas merangkul Tara dan mengempit kepala Tara di ketiaknya.


"Aahhhh..... sial kau menakuti ku huh? Rasakan ini!!" Yogi membalas dendam seketika.


"Ampun gi, Ampun ah." Tara berusaha melepaskan kepalanya dan berhasil.


Tara yang berhasil melepsakan kepalanya dari jeratan ketiak Yogi kemudian merapikan rambutnya dan menggelungnya. Tara terlihat cantik sekali malam ini, Rambutnya yang terkena semilir angin pantai semakin menambah kecantikanya.


"Kalian sudah semakin akrab?" Tanya Tata pada sahabat dan temanya yang terdengar memanggil nama panggilan saja.


"Oh, kami? Gara gara aku alergi kemarin cil, trus berobat eh dia yang nanganin." Jawab Yogi singkat.


"em gitu." Tata mengangguk.


"Ra, kamu kok ga bilang bilang mau kesini?" Tata penasaran dengan kedatangan Tara tanpa memberitahunya terlebih dulu.


"Aku, kesini....." Tara nampak gugup menjawabnya, Tara memegang lehernya dan mengusap usapnya.


"Sama aku tadi bareng kita." Jawab Yogi.


Tata yang semakin heran mengerutkan dahinya menatap Yogi dan Tara bergantian dengan sorot mata yang penuh tanya.


"Karena kamu bilang kan ke Yogi untuk datang menjadi tamu pertama di pestamu, Dia leceplosan dan aku ikut aku sengaja ambil cuti." Jawab Tara sembari tersenyum lebar dan merangkul Tata.


"Iya kah? jadi kalian ingin mendapatkan hadiah utamanya?" Tata bertanya serius.


Dengan antusias Yogi dan Tara mengangguk bersamaan, membuat Tata tertawa melihatnya. Tata berinisiatif untu mengerjai kedua orang itu.


"Oke, untuk menyatakan jika kalian adalah tamu pertama. Kalian harus menulis nama kalian di urutan paling teratas di buku tamu yang ada di sana."


Tata menunjuk Selly yang sedang sibuk menata meja dan lampu lampu untuk pesta bersama para EO.


"Aku dulu" Tara mulai berlari


"Tidak, aku dulu." Cegah Yogi pada Tara yang ada di depannya.


Tata tersenyum melihat sikap keduaborang dewasa yang nampak seperti bayi itu. Saling berebut dan menghalangi langkah satu sama lain. Tak pelak mereka juga saling menarik baju satu sama lain.


Saat berebut dengan Tara, Yogi nenarik baju Tara sehingga posisi Tara berbalik dan berputar kearah Yogi. Sial kaki Tara terjerat oleh rok panjangnya dan jatuh menimpa yogi tanpa sengaja. Mereka saling jatuh bertindihan dengan Tara berada di atas Yogi, Bibir mereka terantuk dan menempel menjadi satu bergandengan lembut.


Yogi dan Tara saling bertatapan dalam moment itu, ada kecanggungan dan malu. Dengan segera Tara melepaskan diri dan bangun dari atas Yogi. Tara terlihat canggung dan salah tingkah yang kemudian pergi tanpa menulis namanya dibuku tamu.


"Di... Dia menciumku? ciuman pertamaku." Yogi mematung tak bergeming sambil membatin hal yang menimpanya.


Tata bertepuk tangan dari kejauhan dengan wajah meledek karena menyaksikan hal langka tadi. Yogi semakin malu dan hanya bisa berdiri lalu merapikan bajunya dan menuliskan namanya di buku tamu.


"Astaga ciuman pertamaku dengan Yogi?"

__ADS_1


__ADS_2