Lelakiku Introvert

Lelakiku Introvert
13. kecemasan


__ADS_3

Aku perlahan mulai memahami karakternya. Dia yang selalu ceria dan energik di layar kaca, ternyata ini sisi kepribadian yang selalu di tutupinya.


Selama dalam perjalanan kami hanya terdiam tanpa banyak saling bicara, bahkan aku hanya melihatnya sekilas. Aku tau dia sedang tidak dalam kondisi mood yang bagus saat ini.


sampailah kami di lokasi syuting hari ini.


Semua kru sudah bersiap, kali ini untuk iklan sebuah brand minuman.


Berkali kali take dan selalu dengan hasil yang tidak memuaskan. Suasana amat tidak mengenakkan hingga waktu break tiba.


"ini" Kak yogi meyodorkan sebuah paperbag padaku.


aku hanya mengerutkan dahi seeprti mengirim signal bertanya padanya.


"Buka aja". perintahnya duduk di sebelahku.


Aku membukanya perlahan. Aku sangat bahagia dengan pemberianya itu.


"Makacihh"Ucapku dengan senyum mengembang di pipiku.


"Itu untuk tutup mulut" Kak vito berkata seraya menghampiri kami dan duduk bersama kami.


"Ih iya? murah sekali. Untuk sekelas penyogokan ini terlalu rendah" Keritikku ada pemberian kak yogi.


"Yak.... kau bawel sekali". menyumpal mulutku dengan potongan buah apel.


"Ish... kak". Kesalku padanya.


Aku menatapnya tajam.


"Ssshhhh.... diamlah JA kesini" ucap kak vito sambil memalingkan pandangan ke arah lain.


dan kami pun berpura pura seperti tidak sedang membicarakan apa apa.


"Hai". Sapa JA kepada kami yang tengah makan siang bersama.


Aku bergegas mengambilkan makan siang dan minumnya. Kusuguhkan padanya dengan penuh antusias berharap dia akan memakanya dengan lahap.


Tapi tidak itu semua hanya angan angan kosong. Dia mengabaikan makansiang yang kuberikan dan hanya fokus pada ponselnya.


"Kamu ga makan?" Tanya kak vito pelan.


"Ah, makasih". Jawab kak Jhon pelan.


"Hari ini kenapa ga fokus kerja?" Tanya kak vito seraya meminum cola dingin.

__ADS_1


"Ga papa". Jawabnya datar.


"Ta, make up yok. Sebentar lagi mulai". Suruh kak vito padaku yang tengah makan.


"Make upnya sini aja, sambil selesain makan". Pinta kak yogi padaku.


"Oke Siap". Semangatku sedang berada pada titik terbaiknya setelah mendapat sogokan dari kak Yogi.


Aku meriasnya dengan sangat teliti. Kak yogi sambil terus mengunyah hingga saat terakhir aku merias nya.


"Tolong ayo mulutnya di istirahatkan" Pintaku dengan berdiri dan siap mengoleskan lipscarenya.


"Tunggu dikit lagi". Kak yogi menghabiskan sisa makanan di mulutnya.


"Bisa cepet ga?


"Ih sabar sih" Jawabnya kesal.


Entah mengapa hari ini kak yogi menatapku berbeda dari hari biasanya. Aku bisa merasakan itu, Dia seperti salah tingkah saat aku memergokinya sedang mengamatiku. Tapi aku hanya menepisnya dan sadar posisiku ini apa.


"Jangan tergoda dengan bibir mungilku ini ya!" Ucapnya sebelum aku memakaikan lipscare itu.


"Aku tergoda, huh. Ya pasti enggak lah". Kataku penuh dengan kesombongan.


"Macacieh, udah punya cowok nih berarti". Godanya dengan menyenggol kakiku.


"Kenalin sih," pintanya sok manja.


"Yang kemarin jemput aku di resto itu lho kak," Ucapku sambil menggerak gerakan birbir untuk mengingatkanya meratakan lipscare dengan cara yang mujarab itu.


"Oh, jadi itu pacarmu?". Ungkapnya dengan menatap cermin.


"Bukan, itu kakak sepupuku. Ahahahaha". Aku tertawa melihat kepolosannya yang hampir percaya kata kata ku.


"Gantian sini, bercanda mulu". Kak jhon mematahkan waktu ceria kami. Kak jhon menggeser badan kak yogi yang sedang bercermin, sehingga kak yogi hampir terjatuh.


Aku spontan memegang pundak kak yogi agar tak terjatuh kebawah. Kak yogi melihatku dengan tatapan nanar seperti ingin berucap sasuatu.


"Hati hati kak, kalau jatuh kasian". kataku sambil membantu kak Yogi berdiri.


"Makasih ya cil". Ucapnya sembari tersenyum.


"Kasihan waredrop nya nanti ngebersihinya susah. apalagi kena bekas kopi gini". Karena ada kopi yang masih separuh di letakkan di samping bawah kursi itu.


"Ishh.... kirain kasihan sama aku. Taunya sama tim waredrop". Kak yogi manyun

__ADS_1


Ekspresinya yang seperti itu membuatku tertawa lepas.


"Maaf kak, canda". senyumku mengiringi permohonan maafku yang sukses membuat pria berambut pirang itu membalas senyumku.


Aku merias kak Jhon tanpa banyak bertanya, sampai dia bertanya padaku akan satu hal.


"Cil jawab jujur". ucapnya yang sukses membuatku tetkejut srkaligus merinding apa yang dia tanyakan ini pasti akan berujung pada hal serius.


"Apa" Jawabku santai.


"Ada hal baru apa yang kamu lihat tentangku?"Aku sontak merasa seperti dia tau akan bayangan tentang dirinya yang aku lihat tempo hari.


"Aku melihatmu berpenampilan berantakan, badanmu sedikit kurus, dan kau mentatoo tangan mu". Ucapku yang berhenti meriasnya dan duduk tepat di depanya karena perbincangan serius ini.


"Saat itu yang kurasa kau sakit kak, kau merasakan sakit yang hebat. Tapi aku tidak tau itu apa, ragamu baik baik saja. Tetapi..."


"Tapi apa?" Menepuk tanganku perlahan karena aku larut dalam kilasan bayangan yang aku saksian.


"Jiwamu, Jiwamu sedih, sendiri dan merana". Aku menunduk mengelap airmataku yang tiba tiba jatuh tanpa aku harapkan. Seolah aku kembali merasakan betapa sakit yang dia rasakan saat itu.


"Kenapa kamu nangis". Memandangku dengan tajam dan mengerutkan dahinya, seperti ingin mendapat jawaban yang benar benar aku simpan rapi.


"Entahlah, tapi aku seperti bisa merasakan sakitmu juga". Jawabku seraya berdiri dan hendak meriasnya lagi.


"Apa ada masalah yang menimpamu kak?" Aku kembali mengoleskan krim kewajah tampan itu.


Kak jhon hanya mendesah, seperti dia mengartikan bahwa ada beban berat yang sedang jatuh menimpanya.


Raut wajah itu, sangat sangat redup akan binar kebahagiaan. sangat murung, tapi aku juga tak mengerti akan apa yang dialaminya tadi malam.


Kemarin aku melihatnya sangat bahagia, dan semalam. Tapi pagi ini pancaran kebahagiaan itu sudah lenyap tertelan suramnya kemurungan.


"Ibuku, Ibuku menjodohkanku". Kata kata itu membuatku menjadi beku sesaat dan tak tau harus berkomentar apa untuk menepis kesedihanya.


Bagaimana tidak, dia sangat terlihat bahagia kemarin bersama Elsa. Pasti dia akan lebih hancur lagi saat tau Elsa menikamnya dari belakang.


"Apa ibu mu tak tau tentang pacarmu?" Tanyaku perlahan


"Ibu tau tapi dia sama sekali tak menyukai Elsa. Menurut ibu, Elsa hanya memanfaatkanku". Kak jhon menunduk lesu.


"Pertahankan apa yang menurutmu itu berharga kak, Tapi tetaplah jadi putra yang baik untuk Ibumu. Hidupnya tak akan bisa tetulang 2 kali untuk mendapatkan putra sepertimu". Ujarku sambil merapikan alat alat make up.


"Terimakasih, aku tak mengira kau akan sebijak ini. Aku merasa sedikit lega". Ucapnya dan tersenyum kepadaku.


Melihat senyumnya kembali hatiku pun menjadi sedikit lega. Entah mengapa hatiku seperti ikut merasan setiap centi perubahan aura pada dirinya.

__ADS_1


Dan akupun tak tau ini apa.


__ADS_2