Lelakiku Introvert

Lelakiku Introvert
52. Andini Aurelli


__ADS_3

Cantik, putih, mungil. Bulu mata yang belum memanjang, Alis yang belum tumbuh dan rambut kepala yang halus. Matanya cantik berwana Coklat, bibirnya mungil dengan lesung pipi hanya di sebelah kanan.


Tangis pertamanya pecah, seperti berlatih vocal dengan mengeluarkan nada nada merdu. Berat tubuhnya 3.5 dengan panjang 50cm.


Namanya cantik secantik yang punya. Lahir di pagi hari diiringi suara kicau burung menyambut mentari.


🐣🐣🐣🐢🐣🐣🐣


"Bu Miyah, apa belum ada laporan tentang orang yang mencariku lagi?" Tanya Amel yang sedang menyusui Andini..


"Belum, sebaiknya kita jangan terlalu mengekspose mu sampai ingatanmu benar benar pulih. Ibu masih sangat takut mengingat kejadian kemarin" Ibu Miyah duduk sambil menghela nafas panjang.


"Laki laki tua bangka itu bisa bisanya ingin memilikimu padahal sudah beristri. Nafsu bejatnya hampir menhmghancurkan hidupmu."


"Dia mengaku sebagai suamimu dengan semua dokumen yang di palsukan. Hhh sudah jangan ingat lagi. Yang terpenting sekarang kita harus merawat Andini." Ucap Ibu Miyah sambil mencium pucuk kepala Andini.


"Iya ibu" Mengelus kepala bayi mungilnya.


"Akhir akhir ini aku sering memimpikan sosok pria tampan dengan rambut bergelombang (gondrong), Kulitnya putih, dan tanganya bertato sampai kelengan."


"Tapi siapa dia?" Ucap Amel dengan pandangan kosong.


"Sudah Dea, sudah kita fokus pada putrimu saja. Jangan terburu buru menikah. Aku takut jika suatu daat ingatanmu kembali maka itu akan membuat rumit hubungan dan hidupmu jika kau gegabah mengambil tindakan saat ini." Nasihat ibu Miyah sambil melipat selimut dan membereskan barang barang sebelum bergegas pulag.


🐇🐇🐇🌻🌻🌻


"Ayo kak, cepetan!" Menoleh pada yogi yang berjalan malas ke arahnya.


"iya, sabar!" Berjalan santai.


Jhon dan Yogi menyewa perahu dan awaknya untuk menyebrang ke pulau terdekat dengan lokasi jatuhnya Helly yang di tumpangi Amel terakhir kali.


Berbekal foto Amel Jhon bertekad mencari sendiri Istrinya penuh semangat dan keyakinan. Satu persatu pulau disinggahai untuk mengorek informasi keberadaan Amel. Namun sayang, hasilnya masih Nihil juga.


Yogi memutuskan untuk berhenti dalam masa pencarian karena memikirkan keadaan Tara yang tengah hamil. Belum lagi serentetan pekerjaan yang sering terabaikan dan terbengkalai begitu saja.


"Pulanglah kak, kau urus saja Tara." ucap Jhon yang duduk menatap hampa lautan.


"mmm, Aku juga sudah sangat merindukanya. tidak terasa sudah dua bulan kita mencari dan baru sepuluh pulau yang kita singgahi." jaeab Yogi.

__ADS_1


"Iya, masih ada 99 pulau lagi."Cletuk Jhon sambil melamun dantanganya merrmas remas pasir.


tik...tuk...


Bunyi botol kaca yang terbentur batuan karang.


"Lihat botol yang mengapung itu, hanya orang bodoh yang melakukan hal semacam itu di era milanial ini." Jhon Memicingkan pandanganya.


Bagi orang orang yang jauh dari jangkauan internet, mungkin itu adalah permainan asik yang tak membutuhkan bayak tenaga. Atau bisa juga sebagai alat meminta pertolongan saat terdesak." Ucap Yogi menatap laut lepas.


"Alat meminta pertolongan?" tanya Jhon memastikan.


"Hemmm iya" Jawab Yogi asal.


"Jangan jangan Amel juga melakukan hal semacam itu?" Ucap Jhon sambil menatap heran Yogi.


Untuk beberapa saat Jhon dan Yogi saling tatap. Seperti berbicara melalui mata. Mengartikan sesuatu hanya dari pergerakan alis yang naik turun atau dengan bertemunya bulu mata saat berkedip.


"Itu!."


Jhon dan yogi berlari bersama dan menceburkan diri ke laut untuk mengejar botol itu yang hanyut lagi terbawa deburan ombak.


Sementara Yogi langsung merebahkan dirinya ke tepian pantai dan bernafas tersengal sengal.


"Coba baca." Ucap Yogi keras.


***Mereka memanggilku Dea.


Tapi aku tak tau siapa aku.


Tuhan, terimkasih telah kau hadirkan putri kecil di dalam hidupku ini.


Bibir mungil yang cantik itu sama sekali tak seperti bibirku. Apakah kau mewarisi kecantikan dari ketampanan Ayahmu?


Entahlah, Siapa Ayahmu dan siapa aku?


Silky sand, 08 08 2020***


Isi surat itu seketika membuat Jhon bergetar dan Air matanya mengalir deras. Kakinya serasa lemas Nafasnya bederu cepat.

__ADS_1


"A...amel...." Jhon menangis.


"Apa? kau mendapat petunjuk?" Yogi bergegas berlari menghampiri Jhon dan merebut kertas usang itu.


"Ini belum lama ditulis." Ucap Yogi.


"Berarti tidak.jauh dari sini." Imbuhnya yakin.


"Hallo kak, kau tau dimana letak pulau atau tempat yang bernama silky sand?" Tanya Jhon melalui sambungan jarak jauh.


"Sebentar aku cari,"


"Oh, tidak ada. Apa kau menemukan petunjuk?" Tanya Nino.


"Iya, tolong gali informasi tentang pulau atau pantai yang bernama Silky sand".


"ah baiklah, sebaiknya kau pulang dulu beristirahat sambil menunggu hasil dariku." Jawab Nino.


"tidak kak, aku sangat yakin dia masih hidup dan aku ingin segera menemukanya. Aku yakin surat ini adalah tulisan tanganya." Jawab Jhon sambil memegang surat botol.


🍂🍂🍂


"Andini Aurelli, Namamu cantik nak. Meski ibumu yang lupa ingatan ini tak tau artinya sma sekali. Tapi ibu hanya ingin nama itu yang tersemat padamu." Amel mengecup kening bayi mungil itu.


Di tempat Lain.


[Hallo sayang, kamu dimana? Kalian jadi pulang hari ini?] Tara cemas.


[Iya sayang, kami akan pulang dan beristirahat dulu. Kami hanya menemukan surat botol yang secara tak sengaja entah ini kebetulan atau takdir] Jaeab Yogi menghilangkan kecemasan Tara istrinya.


[Benarkah? Ahh.... aku benar benar bahagia] Ucap Tara sambil menyeka airmata kebahagiaan.


[Cepatlah pulang aku merindukanmu] sambung Tara.


[Hmmm jaga baik baik bayi kita. Love you] Yogi menutup panggilan.


"Kau beruntung disaat istrimu hamil kau ada di sampingnya. Aku aku semakin kecewa pada diriku sendiri yang tak berada di samping istri dan anakku dimasa sulit mereka." Jhon menunduk lesu dan berbicara lirih.


"Ini sudah bagian dari takdir hidup kita Jhon. Setidaknya kita sekarang mengetahui kabar mereka Jhon. Mereka anak dan istrimu selamat. Dia perempuan, siapa kira kira namanya." Ucapan Yogi menegarkan perasaan Jhon.

__ADS_1


"Kau benar kak, sudah terlalu banyak keluhan yang menghambat langkah dan semangatku." Kata Jhon sambil mematap tulisan Amel di secarik surat botol.


__ADS_2