
Amel berangkat melanjutkan pekerjaanya tanpa berfikir sesuatu yang negatif. Sedangkan Jhon juga melanjutkan pekerjaanya meski dengan kekesalan yang masih menumpuk. Disaat Helly sudah siap dengan baling baling yang berputar kencang. Saat hendak memasuki Helly tiba tiba dada Amel terasa sesak.
Amel sempat berhenti sesaat dan memegangi dadanya. Selly membantunya dengan memapahnya menaiki tangga Helly. Kekhawatiran mulai nampak di raut wajah Selly. Amel mencoba menepis kekhawatiran itu dengan berpura pura terbatuk batuk.
"Uhuk uhuk" Amel pura pura batuk untuk menghilangkan rasa sesaknya.
"Anda kenapa Nyonya? apakah anda sakit?" Selly yang mulai khawatir masih setia berdiri di sebelah Amel.
" Aku baik baik saja, hanya entah kenapa dadaku sedikit sesak." Keluh Amel sesaat.
Semua penumpang telah berada di dalam Helly, total Ada 8 orang di dalamnya. Satu pilot, satu kopilot dan enam penumpang termasuk Amel dan Selly.
Selama dalam perjalanan Amel hanya terdiam entah kegundahan apa yang ada di benaknya. Sementara Selly mencoba seramah mungkin kepada penumpang yang lain yang tidak lain adalah sesama pemilik saham di kantor pusat.
" Maaf, aku yang menggantikan menjawab setiap pertanyan anda pak. Nyonya Amel butuh isirahat, Dia sedang tidak enak badan. Tapi berhubung rapat ini begitu penting, jadi Dia memaksakan untuk berangkat." Ucap Selly menjelaskan sikap Amel yang sangat kentara tidak mengenakkan untuk di lihat.
" Tidak apa apa, kami bisa memakluminya. Dia mungkin memang sangat lelah karena dia juga baru bergabung jadi mungkin masih butuh banyak waktu untuk mempelajari dan menyesuaikan diri dengan jadwal padat dan agenda dadakan." Jawab pak Harun mewakili dari penumpang yang lain.
Sementara Amel terlelap sesaat hingga saat dia terbangun dan berteriak karena mimpi buruk. Penumpang yang lain kaget dengan teriakan Amel, sontak memandang ke arah amel. Keringat dingin membasahi kening Amel.
"Nyonya, bangunlah. Nyonya ada apa? Nyonya kenapa?" Selly membangunkan Amel dengan mengguncang guncang lengan Amel perlahan.
Amel membuka mata dan sontak terkejut sambil menutup mulutnya dengan tanganya. Mata Amel seketika mengelurakan buliran bening dari sudutnya.
"Aku tidak apa apa, hanya mimpi buruk." Ucap Amel sembari merapikan rambutnya.
"Pak Harun, sudah menelfon dan mengabari istri bapak?" Tanya Amel tiba tiba.
" Sudah tadi." Jawab pak Harun dengan tersenyum pada Amel.
"Telfonlah lagi pak, dan beritahukan padanya posisi kita sekarang." Ucap Amel serius.
"Hemm, tidak buruk. Memang akhir akhir ini dia sangat manja.Jadi tidak ada salahnya jika aku menelfonya lagi." Pak Harun menurutinya dan menelfon istrinya.
"Selly kabari kak Nino, dan hidupkan GPS di ponselmu." Ucap Amel serius pada Selly.
"Baik Nyonya." Selly menuruti tanpa membantah perintah Bos cantiknya itu.
Sementara itu Amel sendiri hanya mengirim pesan singkat pada Jhon.
Sayang, Maafkan aku π.
Isi pesan yang singkat kepada Jhon.
__ADS_1
Serta satu pesan singkat untuk sang Ayah.
Ayah, aku mencintaimu. Jaga ibu, nenek dan suamiku ya. Love you my Supper Dadπ
Amel tau meskipun Ayah sedang marah kepada Jhon karena termakan berita di media sosial. Tapi sesungguhnya Ayah sudah memaafkan Jhon jauh sebelum Amel menerangkan semuanya kepada Ayah.
Pak Harun masih berbincang hangat dengan istrinya. Bau sesuatu terbakar sangat terasa di dalam Helly. Sang pilot sudah terlihat sedikit gusar dan gugup dengan mencoba mencari sumber bau.
ππππ
Di sisi lain, Jhon masih berlatih koreo dengan gigihnya. Sambil sesekali meluapkan kekesalan dengan melakukan gerakan yang over power. Tanpa sengaja ataukah memang ini suatu pertanda dada Jhon tiba tiba merasakan sesak. Nafas Jhon seperti tersendat dan berhenti sesaat.
Jhon menepuk nepuk dadanya dan mencoba menarik nafas dalam dalam. Kak Vito yang mengamati Jhon sedari tadi langsung berlari menghambur dan menghampiri Jhon.
"Kau kenapa? sakit" Tanya Kak Vito khawatir.
"Dadaku sesak, aku susah bernafas." Jhon memegangi dadanya.
Kak Vito berlari kembali mencari ponselnya di dalam tas dan mencoba menghubungi tenaga medis. Belum sampai panggilan itu tersambung Jhon sudah ambruk tergeletak dilantai. Kak Vito semakin khawtir dan panik.
Ambulan datang menjempu Jhon. Jhon sudah di rebahkan di atas mobil ambulan, mobil belum sempat melaju Jhon sudah sadarkan diri.
"Aku kenapa? aku dimana?" Ucap Jhon tiba tiba.
Kak Vito yang sangat terkejut sambil memegangi dadanya.
"Enggak sekalian tanya Aku siapa gitu." Ketus kak Vito kesal.
"Hahaha, nercanda Kak. Mungkin aku hanya sedikit lelah." Kata Jhon sembari duduk di ranjang dan menggedor bangku sopir.
"Pak, tidak jadi sakitnya aku sudah sembuh." Ucap Jhon pada sopir ambulance.
"Ah, anda hanya mengerjai kami ya?" Ucap sopir ketus.
"Tidak pak, aku benar benar pingsan tadi. tapi tiba tiba sadar karena seperti ada suar istri yang memanggilku." Ucap Jhon keceplosan di drpan kak Vito.
"Istri, istri nikah aja belum!" Ucap Kak Vito sambil berlalu pergi.
Amel, kenapa tiba tiba Aku mendengar suaranya sangat keras memanggilku? Apa dia sangat sangat merindukanku? Atau dia sungguh menyesal dengan yang tadi terjadi.
Ah, sayang. Amel maafkan aku. Aku hanya ingin sedikit merajuk padamu. Batin Jhon sambil mengusap wajahnya dan turun dari Ambulance.
Berita hari ini.
__ADS_1
Telah terjadi sebuah kecelakaan Hellycopter dengan 8 orang penumpang beserta pilot di dalamnya. Hasil pencarian tim SAR baru saja menemukan 2 korban tewas yakni pilot dan satu orang yang belum teridentifikasi. Tim SAR dan pihak kepolisian masih berjibaku dalam pencarian tersebut. Di ketahui Helly tersebut adalah Helly pribadi milik seorang pengusaha ***cantik dan kaya raya Amelita Sabina.
Sekian sekilas berita update kali ini***.
Siaran berita tengah ramai di siarkan dan di perbincangkan. Jhon masih sibuk dengan latihan dan gladi resiknya. Hingga saat ponselnya yang terus berdering berpuluh puluh kali di dalam tasnya akhirnya di angkatnya.
"Jhon... Amel.... Amel..." Ucap Tara terbata bata karena menahan tangis.
"Ada apa Tara, tolong bicara yang jelas. Aku sedang sibuk. Cepatlah!" Ucap Jhon sedikit memaksa Tara.
" Sekarang buka video yang ku kirim padamu. Lihatlah!" Seru Tara dengan tangis yang tak terbendung lagi.
Tara tidak tau kenapa bisa hal itu terjadi pada sahabat baiknya. Hal yang tidak di harapkan bahkan untuk orang suci sekalipun. Tara terus saja menangis di sudut ruangan kerjanya. Hingga sesorang tiba tiba datang dan memeluknya erat sambil mengusap lembut punggung Tara.
"Jangan menangis lagi, polisi dan tim SAR pasti akan menemukan mereka. Kita harus melapor sekarang." Ucap Yogi yang berusaha menegarkan Tara.
" Iya kau benar." Tara mengusap air matanya.
π₯π₯π₯π₯π₯
Jhon masih berdiri mematung menyaksikan berita di ponselnya. Matanya terus meneteskan airmata dan bibirnya kelu tak mampu berkata. Penyesalan itu kini rasanya benar benar bisa membunuhnya. Jhon bahkan tak membalas pelukan istrinya sesaat sebelum kepergianya.
"AMEL......!" Teriak Jhon lantang dan berlutut. Kakinya sudah lemas dan tak mampu lagi menopang tubuhnya.
Tangan Jhon memasukkan ponsel kedalam saku jaketnya dan menemukan suatu benda asing di dalamnya. Diambilnya benda itu kemudian di bacanya dengan seksama. sepucuk surat dan sebuah benda putih biru yang bergaris dua.
"***Untuk calon Papaku.
ini adalah bukti kehadiranku. Sabarlah menungguku dan selalu sayangi Mamaku ya"
Calon anakmuπ***
Sebuah testpack yang bergaris dua, menunjukkan satu hal positif akan kehamilan. Rasa bersalah Jhon kian menumpuk di dalam benak dan dadanya. Nafasnya semakin berat tak kuasa menahan tangis dan sedih yang sangat berliat lipat.
*Amel, kau hamil. Dan sekarang harus begini?
π¦π¦π¦π¦*
Hai Hai Hai Readersku yang setia. Plis donk kasih jempolnya atau hati merahnya untuk karya ini. Tolong vote aku ya, untuk terus semangat dalam berkarya.
komen dan nyinyir kalian sangat aku butuhkan tau!
Jangan hanya diam saja, plissss ajak aku berinteraksi.
__ADS_1
Capek juga tau nulis tapi ga dapat respon. jadi males bet deh