
"Kau mencoba menggertakku" Tata berdiri dan melemparkan ponselnya.
"itu, adalah benda yang selama ini mampu membuatku tertidur dan tetap tenang tanpa tanpa tangisan. Kau tau!" Teriak Tata meluapkan emosinya.
"Kenapa, apa yang terjadi padamu?" Jhon mencoba mendekati Tata.
"Apa yang terjadi padaku? Hahahahaha kau masih mengkhawatirkan aku? Menurutmu aku mampu menanggung beban ini seorang diri?" Tata menyeka air matanya
"Semua ini terlalu cepat dan menyakitkan bagiku. Kenapa...... Kenapa aku harus jatuh cinta padamu?" Tata menangis histeris..
"Memilikimu sesaat dan harus merelakanmu untuk yang lain disaat aku sangat mencintaimu, kau pikir ini mudah dan menyenangkan?" Tata berjongkok lemas menahan isak tangisnya.
"Maafkan aku Sayang, aku tak mengira akan jadi seperti ini." Jhon memegang pundak Tata namum Tata menghindarinya.
"Dia telah berselingkuh darimu Jhon!" Ucap Tata masih dengan isak tangis.
"Tapi dia sedang mengandung Anakku Tata kumohon kau mengertilah, jangan sakiti dirimu sendiri dan lupakanlah aku." Ucap jhon masih bersaha memeluk Tata.
Tata tak menolak pelukan Jhon, Namun Tata masih terisak.
"Kau yakin itu bayimu? bukan bayi dari laki laki selingkuhanya?"
Jhon terdiam mendengar ucapan Tata, tanganya menegepal dan giginya menggertak seperti sedang menahan emosi yang akan diluapkannya.
"Tata aku sangat ingat, aku juga pernah melakukan hal itu dengan sadar pada Elsa." ungkap Jhon
"Ya, aku sangat ingat itu bahkan dipagi hari pun. kalian masih mengumbar kemesraan di depan mataku, meskipun aku saat itu hanyalah sorang asistenmu. Tapi aku juga sangat paham tentang apa yang telah kalian lakukan bersama."
"Jika kau ragu kalau yang di kandung Elsa bukan bayiku, Lantas kenapa kau menceraikanku sesuka hatimu?" Jhon menatap Elsa serius.
"Karena aku sangat mencintaimu, Aku tak ingin hidupmu dan karirmu berantakan karena aku. Bila harus sakit cukup aku saja yang sakit." Tata menangis terisak isak mengacak rambutnya.
Jhon terdiam, sedang Tata berdiri mengambil obat yang di genggam Jhon dan berjalan menuju kamar mandi.
Tata melepaskan baju yang di kenakanya dan membenamkan dirinya di dalam bathup. Jhon cukup lama terdian dan memikirkan kata kata Tata, hingga kemudian memutuskan untuk menyusul Tata.
Jhon bergegas merengkuh tubuh Tata yang sengaja dia benamkan sendiri didalam bathup, Hanya untuk menghilangkan bekas tangisan dan sembab dimatanya.
Jhon lupa jika Tata sangat pandai berenang dan menyelam, kepanikan memenuhi isi kepala Jhon sehingga tak bisa mengingat dengan jelas apa keahlian mantan istrinya itu.
"Sebesar itukah kau mencintaiku?" Tanya Jhon memeluk Tata yang sudah tak berbusana.
"iya" jawab Tata lirih.
Mendengar jawaban dari Tata membuat Jhon semakin merasakan cinta yang besar yang sudah di lewatkanya. Rasa bersalah itu kini bersanding sejajar dengan penyesalan.
"Maafkan, maafkan aku sayang."
__ADS_1
Jhon merengkuh kepala Tata sehingga kening mereka saling berhadapan.
Malam itu merupakan malam yang tak terlupakan bagi mereka berdua. Jhon memagut lembut bibir Tata, meraba setiap jengkal tubuh Tata yang tak berbusana. Tata sungguh sungguh meluapkan seluruh kerinduanya dan seluruh tenaga yang dimilikinya untuk malam yang indah itu. Bibir Tata tak henti hentinya ******* bibir Jhon, memanjakanya dengan sentuhan lembut dan nafsu yang semakin membuncah semakin membuat mereka tidak terkendali.
****
pagi hari
"Aku yang pertama bagimu? Tanya jhon yang melihat Tata mulai membuka mata.
"Emmmm, Kau pikir ini bisa berdarah dan robek 2 kali? Kau yang menghancurkan segelnya." Ucap Tata masih dengan mata tertutup dan suara beratnya.
Jhon terkekeh mendengar jawaban Tata sekaligus merasa bangga bahwa dialah orang pertama yang memiliki kehormatan dan kesempatan emas itu.
"Jangan tertawa ini masih sakit." Tata menarik selimut dan membelakangi Jhon.
"Terimakasih untuk semalam." Ucap Jhon dengan mengecup pundak Tata lembut.
"Bagaimana jika setelah ini aku hamil?" cletuk Tata membuat Jhon gelagapan.
"Ini adalah masa suburku." sambung Tata semakin membuat jhon menelan ludah kasar.
Jhon tak mampu menjawab pertanyaan dari Tata. Hanya diam dan memeluk tubuh Tata erat.
"Aku akan menikahimu lagi" Jawab Jhon masih dengan menghujani ciuman pada Tata.
Ucapan Tata sangat membuat suasana hati Jhon menjadi semakin tak karuan.
"Jangan takut, jika kau rindu aku maka carilah aku. Aku tak akan meolak permintaanmu." sambung Tata.
"Hentikan, jika kau benar hamil maka aku akan segera menceraikan Elsa." Jawab Jhon tanpa berfikir panjang.
"Ahahahahaha, tenanglah. Aku hanya bercanda, tidak mungkin hanya sekali berhubungan aku langsung hamil. Butuh beberapa kali baru bisa mencapai kehamilan. Terkecuali jika bertepatan dengan masa subur." jelas Tata.
Jhon bernafas lega dan kembali menciumi leher Tata.
****
Yogi sedang asik menikmati camilan tiba tiba merasakan yang aneh ditubuhnya. Ruam ruam merah dikulitnya dan mulai terasa gatal. Yogi memngecek kemasan dari camilan yang dimakannya.
"Astaga, ini ada udangnya." menggaruk garuk leher dan lengan yang mulai gatal.
Yogi bergegas mengambil kunci mobil dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Selama dalam perjalanan dia terus saja menggaruk garuk.
Setibanya di rumah sakit masih dengan masker, topi, dan kacamata hitam. Yogi mengantre untuk memeriksakan keadaanya. Mendengar namanya dipanggil Yogi merasuki ruangan masih dengan menggaruk garuk ruam dikulitnya.
"Bapak Yogi" Sebut dokter cantik yang memeriksa Yogi.
__ADS_1
"Iya dok" Jawab Yogi masih dengan menggaruk ruamnya.
Sang dokter melihat lebih dalam pada Yogi yang masih mengenakan topi dan masker.
"Ohh, kau rupanya?" Ucap si Dokter masih dengan pena di tanganya.
Yogi mengangkat pandangannya dan membuka topi dan maskernya.
"Kamu Ra? Kukira siapa. Syukurlah bisa sedikit lega aku."
"Sakit apa kamu?" Tanya Tara.
"Ini" membuka kerah bajunya.
Tara berdiri lalu menarik kursi untuk duduk berhadapan dengan Yogi.
"Mana coba aku lihat." Tara memegang dan meraba leher Yogi.
Yogi merasa sedikit geli dengan sentuhan jari jemari Tara.
"Parah ya ra?" Tanya Yogi tentang sakitnya.
"Belum selesai periksa ini, cuman dileher aja atau ada dimana lagi?" Tanya Tara untuk memperjelas hasil diagnosanya nanti.
"Ini ni, disini juga." Yogi membuka kancing bajunya dan memperlihatkan dadanya.
Tara menundukan pandangan setelah memeriksa Yogi tanganya bergetar dan dadanya berdebar, Ada rasa malu saat melihat bagian dada Yogi. Membuat Tara sedikit kurang fokus pada tugasnya sebagai dokter.
"Sial, ternyata dia lebih dari yang ku bayangkan." Batin Tara memuji dada bidang Yogi.
"Ra" Panggil yogi meruntuhkan lamunan Tara.
"Emmmm, Iya. Belum seberapa parah. Jangan di garuk terus ya, hindari makanan makanan yang menyebabkan bertambah parah alergimu." ucap Tara sambil menulis resep.
"Coba dibuka lengan bajumu, sepertinya kau menggaruk sampai lecet." Tara memperhatikan lengan baju Yogi yang ternoda bercak darah.
"Masa sih?" Yogi menggulung lengan bajunya.
Tara mengobati luka lecet di lengan Yogi dengan lembut dan perlahan, membuat Yogi melihat Tara sekilas dan menjadi salah tingkah ketika Tara menyelesaikan pekerjaanya.
"Sayangi Tubuhmu, jangan memakan sesuatu yang membuat tubuhmu menderita oke. Ingat Tubuhmu Adalah.." Tara belum menyelesaikan ucapanya namun sudah di lanjutkan oleh Yogi.
"Asetmu" Sambung Yogi melanjutkan ucapan Tara.
"Makasih ya ibu Dokter." Ucap Yogi sambil memakai Topi dan masker.
"Ini nomorku hubungi saja jika ada keluhan lain, hari ini aku yang menjadi dokter jaga." Pesan Tara sembari memberikan nomor Hpnya pada Yogi.
__ADS_1
Yogi mengenggam kartu nama yang diberikan Tara lalu memasukanya kedalan saku baju. Senyum kecil menyeringai di ujung bibir Yogi.