
Berada di rumah kakek sama saja dengan berlibur bagi Tata. Pantai di belakang rumah itulah yang selalu Tata rindukan. Aroma laut itu sanagat menenangkan.
pagi pukul 06:00
Tata berlari keluar kamar siap dengan baju yang besar, lebih besar dari tubuhnya yang mungil itu. Melambaikan tangan pada kakek yang sedang melakukan olahraga ringan di pagi hari bersama perawatnya.
Tata lari pagi mengitari kediaman kakek itu sudah cukup melelahkan baginya. Luas tanah dan bangunan rumah kakek ada 4ha. Kakek berniat memberikanya pada Tata. Tapi tata tetap tidak mau, Tata hanya mau menerima perusahaan dan hotel yang ada di kota dimana tempat dia tinggal bersama ibu dan ayahnya.
Tata berlari pagi masih dengan headset yang menyumpal telinganya. Tata berlari santai menikmati indahnya pagi.
Hingga dia berhenti di sebuah rumah yang di bilang masih dalam kawasan perumahan kakek. Rasa ingin tahu memenihu otak Tata, dia memberanikan diri melihat rumah itu lebih dekat.
Dari jalan nampak sesosok laki laki yang perawakanya tak asing bagi Tata. Tata hanya berdecak heran. Tata mengambil ponselnya dan menggunnakan kamera Tata memperbesar tampilan gambar.
~POV Tata~
"Aku seperti pernah melihat orang itu". mengambil ponsel dan memperbesar tampilan foto.
"Astaga, bisa mati aku. Kenapa dia disini?" Aku berlari kembali kejalan melompati rerumputan.
"Sial orang itu melihatku" Aku berlari bersembunyi di bebatuan besar pinggir pantai itu.
Terdengar suara meneriaki ku yang berlari keluar dari pekarangan rumah yang akan aku lihat tadi.
"Hei siapa itu?" teriak orang itu mengejarku.
"Ashhhh.... kenapa jhon malah disini si?"
"Kenapa juga dia mengejar aku".
"Aduh aku mau sembunyi dimana ini?"
Aku benar benar panik dan tidak bisa berfikir. Kalau dia sampai tau tentang aku yang sebenarnya, bisa jadi dia langsung memecat aku. Aku berbohong padanya tentang semua identitasku.
"Ah tidak aku tidak berbohong hanya aku belum berterus terang saja". Masih berlari hingga di ujung batu itu.
Untung saja aku mengenakan masker dan topi hitam ini. Setidaknya dia tidak tau wajahku. Dia terus mengejarku, dan pilihan terakhirku adalah melompat kelaut atau terbongkar semua.
Ah, aku lebih memilih melompat, setidaknya aku masih jago berenang. Aku melompat dari batu besar yang lumayan tinggi itu.
Aku berenang sekuat tenaga memutar hingga berakhir di dekat rumah kakek.
"Pak ambil sepeda saya disana ya" Tunjukku ke arah aku meninggalkan sepeda.
"Nona habis ngapain, kok basah semua?" pelayan yang melihatku khawatir.
Aku memasuki rumah dengan nafas yang tak beraturan, kaki ku sangat lemas. Nafasku seperti akan habis tanpa sisa.
"Jelek, kamu habis ngapain sih?" Kak nino menghampiriku dan menjumput ujung hoodie ku.
"Aku....hhhh akuhhhh... habis renang". Nafasku masih tersengal sengal menjawab pertanyaanya.
"Sana mandi, bau amis ini" Kak nino mencibirkan mulutnya menandakan dia jijik.
"Masa sih bau, wangi gini". Aku memeluk kak Nino. Meledeknya dan membuatnya kesal adalah kebiasaanku.
__ADS_1
"Wangi kan?"
"Suka kan?"
"sini peluk lagi".
Wajah kesal itu terpampang nyata, mulut manyun kak Nino membuatku lepas tertawa.
"Awas kamu ya". Ancam kak Nino dengan pandangan yang tajam.
saat sarapan.
"Tadi kemana Tata, Kakek telfon kok ga di angkat". Kakek menyantap sarapanya.
"Renang kek". Jawabku cepat.
"Kan bisa telfon balik, kalau sudah selesai renang". tanya kakek seraya memandangku serius.
"ga bisa lah, kan renang". Jawabku sambil mengunyah apel.
"Kakek, ponselnya Tata juga ikut renang". Sahut kak Nino menyelesaikan sesi tanya jawab soal ponsel yang berenang.
"Hahahahahaha, kenapa bisa?" Kakek tak henti hentinya tertawa.
Aku berdiri dan mengambil barang bukti. headset yang masih menancap di ponsel yang sudah tak berdering lagi.
"Ini buktinya". Menyodorkan pada kakek yang membuatnya semakin terpingkal pingkal atas kebodohanku ini.
"Antarkan adikmu nanti berbelanja". Suruh kakek pada Kak nino yang hanya di jawab dengan anggukan.
Di Mall.
"Tata, kakak tunggu disini aja ya"
"Palingan kamu cuma 10 menit" kak nino memainkan ponselnya.
Aku mengangguk, karena aku memang tak suka berlama lama berputar putar di mall. menurutku itu sangat melelahkan terlebih jika mall dalam kondisi ramai. Aku lebih memilih untuk mengurungkan niat.
Dan ya 10 menit aku sudah selesai.
"Nomormu sudah kau pasang lagi?" Tanya kak Nino penasaran dengan level kecerdasanku ini.
"Pergi yuk, Mancing aja kita". Ajaku pada kakak yang merupakan sekutu ku itu.
"Oke". Dia sangat bersemangat jika sudah membahas tentang hobinya yang mendarah daging itu.
"Pak, antarkan peralatan memancingku ya ke sungai xxxxx. Dan baju ganti".
"Jangan bilang kakek". Pinta kak Nino pada supir pribadinya.
" Pilih hp apa kamu"
"Astaga masih aja hp jelek yang di pilih"
"Kamu mau beli sama yang punya mall juga bisa Tataku yanh cantik. Kenapa hp butut lagi yang di beli?". Gerutunya tak puas dengan pilihanku.
__ADS_1
"Biarin ah, ga enak kalau pakek yang amahal kak".
"Nanti temenku, bosku, bisa curiga". Jawabku singkat.
"Ayo ahh, cepetan" Aku menarik tangan manusia jangkung itu.
sampailah kita di sungai. Supir pribadi kak Nino sudah menunggu dari tadi. Aku dengan senangnya melepas sepatu dan bermain air disana.
"Tadi aja di mall banyak orang, Lemes, Lesu".
"Giliran di sungai sepi, girangnya minta ampun". Keluh kak Nino melihat tingkahku.
"Gapapa sih kak, emang bawanya gini". Jawabku yang malas berdebat dengan dia.
Saat aku sedang asyik bermain air tiba tiba ponselku berdering.
"Hallo," sapaku
"Kau dimana?" tanya suara di ujung panggilan itu.
"Aku di rumah kak, aku meminta ijin. untuk acara pemakaman neneku" Bohongku.
"Benarkah? bukanya kamu sedang bermain air?" Jawabnya membuatku terhenyak kaget.
Seketika aku clingukan mencari dari berbagai sudut. Bagaimana dia tau posisiku dan apa yang sedang aku lakukan.
Aku masih menengok kanan kiri dan mengamati sekitar.
" Apa yang kamu cari?" suara itu kali ini benar benar membuatku takut.
"Aku disini disebrang sungai" Ungkapnya membuatku terkejut sangat terkejut. Badanku seketika membeku.
Aku mengakhiri panggilan itu. Panik dan gugup itu yang kurasakan, harus bilang apa?
"Hanya seorang makeup artis liburan sampai keluar negri, Aduhh harus bagaimana?" Aku benar benar kehabisan akal.
"Jangan kesini jangan kesini...." Pintaku seraya berdoa dalam hati.
"Kenapa sih Ta, merem merem gitu". Kak nino menghampiriku.
"Pak, antarkan aku pulang". Masuk mobil dan mengajak pak supir untuk mengantarku pulang.
"Cepetan pak, kebut dikit".
Mobil melaju kencang.
"Hhhhhh" Desahku setidaknya aku tidak harus bertemu dengan Jhon.
"Jhon, kenapa dia disini?"
"Menempati rumah di pekaran kakek".
"Atau jangan jangan dia......?"
Benakku sibuk memikirkan Jhon.
__ADS_1