Lelakiku Introvert

Lelakiku Introvert
47. Lap


__ADS_3

Tengah hari, cuaca lumayan terik. Sinar matahari menyorot tajam bangunan yang tinggi menjulang. Seperti berenang dalam peluh saat berada di sauna. Jhon menahan panas dan keringat yang terus mengucur dengan sendirinya.


"Panas sekali, di ruangan ini tidak ada AC. Kapan mereka semua pergi? Aku bisa mati kepanasan dan kurang oksigen disini. Sangat pengap."


Jhon meniup niup kedalam bajunya, Mengibas ibaskan kausnya sampai akhirnya Jhon melepaskan bajunya. Ruangan itu sama sekali tak berventilasi. Jhon mencoba menelfon Amel.


Sayang, angkat ponselmu. cepat.


Jhon berharap harap cemas, mengharap Amel segera menjawab panggilanya.


***🐱🐱🐈


Amel yang sedang mengikuti makan siang bersama keluarga dan juga Aldo, seketika tersedak melihat ponselnya berdering. Amel sibuk memikirkan cara untuk memgeluarkan suaminya dari dalam gudang.


"Sebentar semuanya aku permisi dulu, ada panggilan dari kantor." Amel memundurkan kursi dan berdiri sambil mengangkat panggilan Jhon.


"Hallo, iya Selly. Katakan sekarang." Amel merekayasa percakapan di hadapan orangtuanya.


"Sayang, Aku sangat kepanasan disini. Kapan mereka akan pulang?" Jhon berbisik pada Amel.


" Sabar sayang, setelah makan siang Aku akan berupaya mengalihkan perhatian mereka."


"Kau pasti sangat lapar ya? kau juga belum mandi. hhh aku sedih sekali mengingatmu ada di dalam sana." Sambung Amel Sembari menghela nafas panjangnya.


"Segeralah cari cara untuk membawa mereka pergi sebelum aku pingsan di ruangan ini." Jhon mulai merengek dalam pembicaraan.


"Baik sayang, iya. sebentar lagi. Aku mencintaimu! Bye."


Amel menutup panggilanya karena sang ibu sudah mengetuk pintu untuk masuk ke kamar Amel. Amel sedikit celingukan kebingungan seperti sedang tertangkap basah. Namun Amel mengalihkan perhatian sang ibu dengan cara memasang raut wajah normal.


"Sayang, Amel. Kami pulang dulu ya nak. Ayahmu masih ada urusan. Nanti kami akan sering sering mengunjungimu di sini." Ucap ibu Amel seraya memeluk Amel.


"Maaf ibu, aku meninggalkan makan siang bersama kalian. Sangat banyak urusan di kantor akhir akhir ini." Amel mengusap punggung sang ibu yang ada di dalam dekapanya.


"Tak apa, ibu paham akan kesibukanmu. Sama seperti Ayahmu juga yang selalu sibuk." Ucap ibu sambil melepaskan pelukan dan sesekali menatap iba putrinya.


"Terimakasih atas pengertianmu ibu. Kau yang terbaik." Amel mengusap lembut tangan ibu yang menggandengnya untuk keluar dari kamar.


Amel menggiring Ibu, Ayah, Nenek dan Aldo samapi kedepan pintu keluar. Ibu merasa sedikit lega karena Amel tak sesedih yang di fikirkanya. Kekhawatiran ibulah yang menuntunnya mendatangi Amel. Mencoba memberi semangat baru untuk putrinya.


"Aku bahagia kau baik baik saja. Jangan putus asa atau terpuruk. Laki laki tak haya Jhon Athaa saja di dunia ini." Nasihat ibu terucap sambil terus berjalan menuju keluar.


"Ibu mertua, ucapanmu setajam silet. Rasanya seperti trmbus krjantung." Jhon mendesah kesal dan bergumam sendiri. Masih di dalam gudang.


Lain dengan sang nenek yang terlalu banyak bicara tapi menunjukkan simpatiknya pada satu satunya cucu yang milikinya.


"Jaga diri baik baik." Ucap Nenek yang berjalan sambil di rangkul oleh Amel.


"Iya Nek." Senyum amel menyembul indah di ujung bibir.

__ADS_1


"Jangan sungkan untuk mencari aku jika kau ingin bahu untuk bersandar." Aldo menawarkan dirinya untuk menemani Amel bahkan jika suatu saat nati amel membutuhkan bahu.


"Cih, kau jual berapa bahumu itu Aldo? Amel awas saja jika kau menanggapinya. Akan aku beri hukuman kau."Jhon menyimak dengan seksama percakapan mereka.


Amel hanya mengangguk ragu atas ucapan Aldo.


"Aldo tutup saja mulutmu sebelum suamiku mengamuk dan memakan kursi kayu yang ada di sana. Eh, emang Jhon itu keturunan rayap? Kalau marah makan makan kayu."


Amel sibuk dengan pergelutan batin di dalam hatinya.


"Jangan ragu hubungi Ayah jika ada yang tidak mengenakan bagimu."


"Pasti Ayah", Amel seketika memeluk sang Ayah penuh kasih.


Amel menghantarkan kepergian orang tuanya sampai mereka benar benar pergi. Amel melambaikan tangan dan memberi senyum terbaik kepada mereka semua.


Amel bergegas berlari menuju ke gudang. Amel membuka pintu dengan tergesa gesa, Di dalam gudang Jhon sudah basah dengan keringat. Jhon segera berlari menuju ke kamar mandi.


"Astaga, akhirnya keluar juga. Sudah seperti bom yang siap meledak saja dari tadi." Jhon mengelus perutnya keluar dari kamar mandi.


Jhon bertelanjang dada karena masih basah dengan keringat. Jhon duduk di sofa sebelah Amel. Jhon merebahkan tubuhnya dan berbaring di atas sofa. Paha Amel menjadi bantalnya.


"Apa mereka benar benar sudah pergi?" Jhon mengusap usap paha Istrinya lembut.


"Ehem..." Amel mengangguk.


"Tak apa, anggap saja kita sedang main petak umpet." Jhon mencoba tersenyum.


ting.... tung.....


Suara bel pintu terdengar.


"Biar Aku saja yang buka." Jhon berdiri dan melihat siapa yang ada di balik pintu.


Seketika Jhon berlari lagi memasuki gudang. Amel kebingungan dan terkejut berlari mengikuti suaminya. Amel yang gugup mengunci pintu gudang dengan tergesa gesa. Jhon sangat terkejut dengan kedatangan ibu mertuanya.


"Ibu, ada apa? kenapa kembali lagi?" Amel berdiri membuka pintu dengan wajah heranya.


"Apakah ada yang tertinggal?" Amel mengekori di belakang ibunya.


"Ponsel, ponsel ibu tertinggal. Ibu mengecasnya tadi.


Ibu berjalan menuju ke arah ponselnya yang masih di casnya. Ibu melirik kain putuh yang tergeletak di lantai depan pintu gudang.


Aduh, itu kaus Jhon kenapa ada di ditu sih?


Amel dengan tiba tiba mengalihkan perhatian ibunga dengan sikap konyolnya. Kaus putih itu adalah kaus kesayangan Jhon. Harga lumayan mahal dan kesayangan membuat kaus itu berarti untuk Jhon.


"Oh ku kira apa bu, Aku sedang mengepel lantai tadi saat ibu kemari. Makanya aku sedikit ngos ngosan." Amel melanjutkan menggosok lantai dengan kaus putih mahal itu.

__ADS_1


Di dalam kamar Jhon clingukan dan meraba badanya. Jhon teringat tadi saat berlari ke kamar mandi kaus itu terjatuh dari pundaknya.


Astaga selinku sekarang menjadi lap pel. Apa jadinya rupa dia nanti. Jhon menepuk jidatnya sambil berkomat kamit di dalam gudang.


Maafkan aku sayang, kaus kesayanganmu sekarang menjadi lap pel.


Amel menunduk dan membatin sambil terus menggosok gosok lantai dengan kaus putih yang masih beraromakan khas tubuh suaminya.


Rasa sesal juga menumpuk di ubun ubun Amel. Kaus yang mahal itu sekarang menjadi benda tak berharga. Kaus yang dulu pernah Amel pakai saat tercebur ke kolam renang. Kaus itu memiliki banyak cerita dan sekarang kaus itu juga menjadi bagian dari cerita cinta mereka.


"Yang bersih kalau ngepel, lihat itu ada bekas tumpahan minuman sepertinya. Dan sini.." Ibu tiba tiba meraih lap pel Amel dan mengelap kompor bekas mereka masak tadi siang.


Cipratan minyak, Cabai dan kunyit yang menempel di dinding dan kompor dengan cepatnya hilang seketika. Ibu mengelap bersih semuanya.


"Kamu pakai cairan pembersih apa? baunya enak, ibu suka." Cletuk ibu masih memegang dan sedikit mencium kain putih itu.


*Itu bau parfum sumiku ibu, bukan cairan pembersih. Mana ada cairan pembersih baunya semerbak wangi begitu. Yang ada semua wanita akan berburu. Astaga aku sudah ga kebayang lagi bagaimana ekspresi suamiku nanti. Aku harus gimana?


Jangan sampai ibu membuka dan mengetahui jika itu adalah kaus laki laki*.


Amel segera merebut kain itu dari tangan ibunya. Ibu mengernyitkan dahinya heran.


"Sudah biar aku saja yang membersihkan. Ibu ambil saja ponsel ibu. Ibu suka bau cairan pembersih ini?"


"Aku akan membelikanya." Amel tersenyum pada ibu.


"Baiklah, baiklah. Ibu pulang ya." Ibu mencium pipi Amel dan berjalan keluar.


Amel menggiring ibu keluar sampai ke parkiran.


"Aku akan kirimkan kerumah besok bu, cairan pembersihnya." Amel menatap manis wajah ibunya dengan senyum tipisnya.


"Baik, ibu tunggu." Ibu masuk kedalam mobil dan melambai pada Amel.


"Dada." Amel membalas lambaian ibu.


***


Amel membuka pintu gudang dan menunduk lesu. Jhon seketika berlari mencari kaus kesayanganya dengan harap harap cemas.


"Selinku, kamu jadi seperti ini. Tidak!!" Jhon menatap kecewa kaus kesayangnya.


"Maaf, ga ada cara lain. Dari pada ketahuann ibu jika kamu ada di ruangan ini."


"Sini biar aku cuci." Amel mencoba membersihkan kekacaun di kaus putih itu.


"Astaga, ini ini . ini noda cabai, minyak, kunyit. Gimana bisa ilang?" Jhon merengek seperpti balita.


"Sayang, nanti kita beli lagi aja." Rayu Amel sambil memeluk Jhon.

__ADS_1


__ADS_2