
Pesta berakhir malam hari pukul 11 malam. Para tamu undangan sudah membubarkan diri. Elsa dan Jhon menginap di kamar yang sama malam itu. Amel hanya bisa memandang miris pacarnya bersama wanita lain. Ingin rasanya Amel berteriak kepada semua tamu undangan bahwa yang ada di perut Elsa bukanlah keturunan Jhon.
"Kalau aku tidak mempertimbangkan masa depan dan pendapatan Jhon. Sudah ku ghibah kamu kemana mana Elsa."
"Kalau ga karena aku terlanjur cinta, ogah banget aku berbagi pisang sama kamu. Eh iya, aku harus tanya Jhon apa dia masih suka mencari keringat bersama Elsa."
"Aku harus cari tau."
Amel berjalan bergegas memasuki kamarnya, memikirkan cara untuk menemui Jhon. Penasaran dan cemburu membumbung menjadi satu membuat kepulan asap tinggi yang keluar dari atas kepala.
Badan Amel terasa panas, darahnya seakan mendidih karena cemburu. Hal konyol lalu terbersit di otak Amel.
"Selly, segera ke kamar saya." Amel memanggil Selly lewat panggilan ponsel.
****
"Sayang, sudah lama kita tidak melakukanya lagi" Elsa meraba raba dada Jhon.
Lelaki mana yang tidak merasakan rangsangan jika wanita cantik di depanya meraba dan mendesah pasrah. Jhon berusaha sekuat mungkin untuk menahan respon dari senjata pusakanya agar tak teraba oleh Elsa.
Jhon menghindar dengan segera berpaling dan menengguk air putih yang ada di meja. Otak Jhon sangat berusaha keras mengendalikan semua hasratnya. Jijik, rasa Jijik yang ada di Otaknya berjalan kontra dengan respon benda pusaka.
Mengingat Elsa juga pasti sudah melakukan hal itu berkali kali bersama pria lain.
Benar saja tangan Elsa dengan terampil meraba benda keras itu, Jhon mendorong Elsa perlahan dan berlari membuka pintu.
Dep....
Lampu seluruh resort tiba tiba mati. Ini Kesempatan bagus untuk Jhon untuk kabur dari Elsa.
"Terimakasih Tuhan, aku bisa kabur dari singa betina ini. Kok serasa akan dinperkosa gini Aku. Astaga harus cari alasan apa aku?"
Jhon masih berdiri di dekat pintu. Karena gelap, Elsa masih diam tak berkutik di ranjang besar.
"Kau jangan bergerak nanti jika menabrak sesauatu kasihan perutmu. Aku akan keluar sebentar menemui pelayan meminta lampu emergency." Alasan Jhon terlihat bodoh.
"Resort sebesar ini kenapa tidak punya generator?" Elsa menepis Alasan Jhon.
"Mungkin sedang gangguan atau korslet. Kau tunggu saja Aku keluar." Jhon meyakinkan Elsa agar tetap diam di ranjang.
"Ambilkan Ponselku di tasku yang ada di sofa." Minta Elsa pada Jhon.
"Terlalu gelap Aku tidak bisa melihatnya." Jawab Jhon yang malas menuruti perintah Elsa.
"Yaudah, sini hp mu." ucap Elsa.
"Habis baterai." Jawab Jhon mematahkan harapan Elsa.
🐣🐤🐥
"Bagus Selly, sekarang kamu hubungi Jhon suruh dia menemui aku di kamar 025" Perintah Amel sambil berjalan keluar kamar besarnya.
"Baik Nona." Ucap Selly mengikuti di belakang Amel. Tiba tiba Amel berhenti mendadak dan Selly menabraknya.
"Hhh untung saja Selly hanya menabrak punggungku. Jika dia menabrak dadaku bisa mental dia. Air bag ku ini kan lumayan besar."
Amel berbalik dan menambah perintah kepada Selly.
"Ingat, nanti jika Jhon hendak masuk ke kamar pesananku. Kamu minta kunci mobilnya dan bawa mobilnya berjalan jalan kemanapun kamu suka oke. Kembalilah besok pagi, terserah kamu mau sama siapa. Pagi pukul lima harus sudah disini."
Selly hanya mengangguk angguk entah ingat atau lupa dengan banyaknya pesan dari bos cantiknya itu.
"Bawa mobil, jalan jalan, semalaman? Dia kira aku tidak lelah. Aku harus sama siapa? oh pekerjaan telah memperbudak manusia. Aku belum lancar mengemudi lagi. Jangankan mobil, sepeda saja aku sering jatuh."
"Baik Nona" Jawab Selly menuruti pesan Amel.
__ADS_1
Jhon tengah berlari menjauh dari kamarnya dan tak sengaja bertemu Selly. Selly lantas menyampaikan semua pesan Nonanya. Kunci mobil pun dimintanya, Jhon yang masih tak mengerti masih mengangguk menurut saja. Diserahkanya kunci mobil secara suka rela tanpa terpaksa.
Selly lalu berencana mencari Nino yang bisa membantunya. Bak Dewa penolong bagi Selly, Nino meng iyakan kemauan Selly, mengahantarkan Selly meginap di penginapan kecil di pinggir desa yang cukup jauh dari Resort.
Sepanjang perjalanan Selly menceritakan semuanya pada Nino. Nino mengangguk paham.
"Dasar mafia, mau menculik calon suami orang dan menghilangkan jejaknya"
Nino terawa terkekeh menangkap arti dari tindakan Amel adiknya. Selly nampak kelelahan yang sedari tadi menguap dan mengucek ucek matanya yang mengantuk. Selly memesan penginapan, dan sayangnya hanya tersedia satu kamar dengan ranjang kecil.
" Kau tidur di dalam dan Aku biar tidur di mobil." Ucap Nino yang mengerti akan ketakutan Selly jika harus tidur sekamar dengan Nino.
Selly hanya mengerutkan dahinya, merasa tak sepenuhnya yakin jika Nino bisa tidur di dalam mobil dalam cuaca yang dingin. Malam itu terasa sangat dingin karena hujan telah mengguyur deras sebelum pesta usai.
"Yakin?" Selly menatap Nino.
"Iya" Mengangguk sambil tersenyum.
Selly masuk kedalam penginapan lalu kembali lagi. Membuat Nino yang tengah memutar musik kaget melihat Selly dengan tumpukan selimut tebal yang di bawanya.
"Kenapa dia membawa selimut selimut itu kesini? Apa maksudnya?"
Nino masih tertegun tak mengerti.
"Ini, untuk mu dan ini untuk ku." Selly membagi selimut yang dibawanya sembari menutup pintu.
"Kenapa enggak tidur di sana sih, malah kesini bawa bawa selimut." Nino masih tak paham dengan tindakan Selly.
"Aku tau kamu itu punya Alergi udara dingin, Kamu bisa bersin seharian jika terkena udara dingin. Aku sangat ingat itu." Selly membentangkan selimut dan menutup sepatuh badan Nino dengan selimut.
"Ah, dia perhatian sekali. Manis sekali, kejadian kecil itu dia masih sangat jelas mengingatnya."
Nino tersenyum mengingat kejadian lalu sembari mencoba memejamkan matanya.
🌸🌸🌸🌺🌺🌺💮💮
Sura pintu terbuka, seperti serigala hidung Amel mengendus bau yang sangat akrab di hidungnya akhir akhir ini. Bau tubuh Jhon menjadi sangat akrab dan sering dirindukan Amel belakangan ini.Jhon masuk dengan meraba raba sekitar mencoba menebak benda benda sekitarnya. Terasa benda padat dan kenyal yang di pegangnya. Sorot lampu dari ponsel menyilaukan penglihatan Jhon yang kemudian melepas sentuhanya pada benda padat nan kenyal itu.
"Hemhhh, kesempatan deh gelap gini main raba raba aja. Dikira uang kertas mungkin aku ya, Dilihat, Diraba,Ditrawang."
"Kenapa sih? Menyuruhku kesini. Mobilku kenapa juga di minta Selly." Jhon mengucek matanya yang silau terkena sorot lampu.
Kecemburuan masih saja bertengger pada Jhon. Melihat ada pria lain bersama wanitanya membuat Jhon bermuram durja.
"Aku..., Aku ingin bertanya." Ucap Amel lirih.
Amel lalu menghidupkan ponselnya sebelum jadi mengajukan pertanyaan.
"Selly, kau sudah aman?"
"Iya Nona"
"Hidupkan listriknya sekarang."
"Baik"
Perintah Amel mengakhiri percakapan. Jhon masih berdiri di tempat yang sama. Amel mengarahkan ponselnya yang bercahaya kewajah pacarnya yang masih ngambek.
"Cepat jelaskan sebelum aku berubah wujud menjadi HULK karena menahan cemburu!"
Pekik Jhon dalam hati.
"Kamu kenapa manyun gitu huh? ada apa?" Amel masih menyorot wajah cemberut Jhon dengan Ponsel.
"Ada apa - Ada apa, pikir aja sendiri!" Ucap Jhon kesal.
__ADS_1
Lampu kembali menyala dan wajah cemberut itu nampak semakin jelas dan menggemaskan dimata Amel.
"Kok dia yang ngambek ya? *pikir aja sendiri * itukan kata kata kami kaum wanita. kenapa dia yang mengatakannya, Apa benar dia semarah ini? Apa salahku?"
" Kenapa kok marah, huh? Amel memeluk Jhon erat dan menatap lekat sembari memasang senyum manis dengan mata membulat, Wajah menggoda andalan Amel telah di keluarkan.
"Tadi yang meluk kamu di panggung siapa?" Tanya Jhon membuat Amel mulai tertawa bahagia.
"Aaahhh... dia cemburu. Oh baiklah kita mulai permainan ini sayang"
Amel memiliki rencana yang konyol. Untuk mengerjai Jhon, Amel cekikikan menahan tawa dan mengangguk anggukan kepalanya.
"Dia Aldo, Dia sainganmu sayang. Kandidat baru yang di tunjuk oleh mantan ibu mertuamu untuk menjadi suamiku." Ucap Amel memulai kejahilanya.
Jhon merasa seperti mendapat tamparan keras mendengar itu. Jantungnya semakin kuat memompa darah hingga ke ubun ubun. Giginya mulai menggertak dan nafasnya mulai terengah engah.
"Astaga, slah nih aku salah sumpah. siap siap ah kalu tiba tiba ngajak aku duel. Marah besar ini Dia."
Amel memperhatikan perubahan pada wajah dan nafas lelakinya itu. Merasa terancam dan khawatir akan keselamatanya Amel lantas mengeluarkan jurus jitu sebelum Gunung api itu menyemburkan laharnya.
"Lakukan sesukamu!" Jhon dengan amarahnya memutar badan dan hendak keluar membuka pintu.
Amel kelabakan dan bingung, semua terjadi di luar rencana.
"Eh kok gini, harusnya kan dia terus nanya akunya mau apa enggak. Ini kok langsung terserah Aku. Dasar si introvert!! Eh aku dulu juga sama." Amel mengatai diri sendiri.
Amel berlari mendahului langkah Jhon, dan memeluknya erat. Merasa tak ingin kehilangan untuk kedua kalinya, hingga menitikan airmata. Suara yang mulai parau menandakan tangisnya telah dimulai.
"Maaf, aku hanya ingin mngerjaimu. Aldo adalah teman satu tim saat kami bertanding bela diri dulu. Dan ibu menyukainya karena kejujuran dan keberanianya."
"Jangan pergi, aku tak mau kehilangan Lelakiku lagi."
Jhon mengusap lembut kepala amel dengan tawa yang menggelegar Seperti guntur di saat badai. Amel terkejut mendengar tawa itu sontak melihat Jhon penuh dengan kebingungan.
"Apa dia mulai gila, tadi marah dan sekarang tertawa tiba tiba."
Amel melepas pelukan dan menatap bingung Lelakinya. Jhon kembali memeluk Amel erat, dan mencium bibir mungil Amel sekilas.
"Eh, dia beneran udah enggak marah. Apa maksudnya Dia ini?"
"Akhirnya kau bilang juga"
" Aku tak mau kehilanganmu." Jhon menirukan dengan nada menye menye. Membuat Amel menjadi jengkel dan menghempaskan badanya ke sofa, melepas gelungan rambut dan membuatnya tergerai asal.
"Kan aku yang mau ngeprank, kok malah aku yang kena! Buaya kok di cicakin." Gerutu Amel dalam hati.
"Hei, marah ya." Ucap Jhon santai dan mulai duduk menempel bersandar di sofa dekat Amel sambil mencium pundak Amel dan memeluknya.
"Tau enggak kenapa Aku menyuruh kamu kesini?"
"Enggak"
"Aku tiba tiba sebal sama kamu dan Elsa." Celoteh Amel dengan bibir yang masih mengerucut.
"Oh"
"Oh aja? Aku sangat sebal ya. Apa lagi Aku tadi tiba tiba mengingat jika harus berbagi Toya sakti dengannya." Ucap Amel keceplosan.
"Ihh ini mulut swasta banget ya, kenapa remnya ga pakem? kampasnya abis kali ini. Segal bilang begitu ke Dia, Pasti besar kepala nanti orang ini." Amel berkomat kamit menyesali perkataanya.
"Oh jadi gitu. Aku hanya sekali menyentuhnya sayangku. Itupun dulu sebelum kamu menjadi Istriku."
"Tapi kalau kamu kasih celah ke dia terus sih ya kayaknya...." Belum selesai dengan ucapanya Amel langsung menindih Jhon dan menguncinya dengan ilmu bela diri.
"Berani kamu biarin Dia nyentuh kamu, hem" Amel mengepalkan tanganya tepat di depan hidung Jhon.
__ADS_1
"Mungkin aku akan segera menceraikanya jika dia sudah melahirkan." Ucap Jhon.
"Kamu tidak akan menceraikanya." Jawab Amel yang langsung berdiri dengan wajah serius.