
kekhawatiran terus saja menyelimuti Tata. menutup wajahnya dengan kedua tanganya dan sembari menggigit gigit kecil bibirnya. Jhon yang melihat itu hanya tersenyum kecil.
"Apa yang kau khawatirkan?" membelai rambut Tata perlahan.
"Ibu, aku khawatir kau dengan ibu tak sepadan." mengikat rambut dengan raut wajah yang tetap khawatir.
" Tenang, kita bisa bicarakan ini baik baik dengan ibu."
Jhon berjalan dan mengambil sepatu ruby, mengemas barang barang secara rapi. Senyuman senyuman kecil selalu ia berikan untuk sang istri.
Tata hanya memperhatikan suaminya itu sembari tersenyum kecil.
"Kau tidak tau apa yang menunggumu disana, boleh jadi setelah kita kesana akan terjadi perpisahan diantara kita." Batin Tata gelisah.
Ibu Tata, seorang ibu rumah tangga biasa yang mendidik anaknya dengan tegas dan tanpa manja. Mewajibkan ilmu bela diri untuk putrinya Tata, bagaimana tidak ibu adalah mantan altlet bela diri begitu banya penghargaan yang diperolehnya. Dan sampai sekarangpun masih bergelut dalam bidang ilmu bela diri. Ibu membuka kursus bela diri di rumah, sedangkan Ayah. Ayah adalah pria pendiam yang hanya memikirkan bisnis, nisnis dan bisnis.
"Alasan kenapa Ayah bisa bersama ibu sampai detik ini adalah karena Ayah terlalu cuek terhadap pasangan, sedang ibu bukan tipe wanita manja yang selalu mengharap keromantisan atau sekedar bantuan untuk melakukan hal hal kecil. Ibu adalah wanita mandiri dan tegas, sangat cocok dengan Ayah lelaki yang tak punya banyak waktu untuk memanjakan wanitanya." Tata membatin dalam lamunannya sendiri.
"Seharusnya aku tak perlu sekhawatir ini, mengingat suamiku juga ahli dalam bela diri." Tata bicara pada diri sendiri.
"Sayang, ayo!" Jhon mengulurkan tangannya untuk menggandeng istrinya, namun Tata menepisnya.
"Aku bisa jalan sendiri sayang, Tak enak bila nanti ada yang melihatmu. Akan berdampak buruk pada karirmu"
Tata berusaha berdiri sendiri tertatih dengan kaki yang menahan sakit.
"Pakai ini saat kita keluar." Tata memakaikan kacamata hitam dan masker beserta topi, Hanya orang terdekat yang mampu mengenali penampilan Jhon.
Mereka berjalan agak berjauhan, tanpa terjadi obrolan. Seperti orang asing yang tak pernah bertemu sebelumnya.
Selama dalam perjalanan, Tata hanya tertidur di samping suaminya. menggenggem erat tangan Jhon, dan beberapa kali mencium tangan suaminya.
Jhon mengerutkan dahi atas sikap manja istrinya itu, seperti ada yang aneh. Tapi Jhon juga tak mau berfikir buruk, Jhon hanya mampu menepis pikiran buruk itu dan mengganti dengan senyuman.
"Tidurlah, kita butuh banyak tenaga untuk menghadapi ibu nanti." Tata mencium tangan suaminya lagi. Jhon hanya membalas dengan anggukan dan senyuman.
Sesuai permintaan taxi yang mereka gunakan berjalan tanpa terburu buru. Jhon menginginkan waktu yang lama dan sangat lama untuk berduaan dengan istrinya. Jhon hanya merasa akan banyak waktunya yang dia habiskan sendiri tanpa ditemani istrinya lagi.
Jhon lebih memilih untuk tidur daripada harus memikirkan hal hal buruk.
__ADS_1
sampailah di rumah ibu.
Wajah gugup itu nampak pekat pada Tata. Khawatiran, kecemasan semua berkumpul menjadi satu membentuk satu kombinasi yang epic.
Terlihat di halaman depan rumah ibu sedangengajarkan beladiri kepada murid muridnya.
"Kak!" Sapa boy murid kesayangan ibu.
"Hai" sahut Tata dengan berjalan dibantu suaminya, masih dengan kaki yang di perban dan berjalan pincang.
Tarlihat ibu sedang berjalan memasuki rumah tanpa menyambut kedatangan mereka. Wajah ibu sangat dingin ketika melihat kedatangan Putri dan menantunya itu.
"Cie kakak sudah punya pacar ya?" Tanya Boy mendekat padaku dan membantu membawakan barang barangku.
" Pasti kakak sangat pandai dalam bela diri ya, sehingga tante memberi ijin kalian untuk pacaran." ucap Boy menggoda Jhon yang hanya tersenyum dan menunduk.
"Boy, jangan ganggu pacar kakak ya. Dia orangnya pendiam." Ucap Tata mengamankan suaminya dari sejuta pertanyaan Boy.
"Wah, cucu nenek sudah datang!" sambutan hangat dari nenek satu satunya manusia berhati hangat dirumah itu.
"Iya nek, perkenalkan nek ini suamiku." Tata tersenyum dan merangkul nenek.
"Kakimu kenapa sayang" Ucap nenek setelah melihat Tata yang berjalan pincang.
"Tergores sedikit nek, saat di lokasi syuting. tidak parah kok, sebentar lagi juga sembuh." Tata menenangkan nenek, menggenggam lembut jari keriput itu.
"Mari duduk dulu nak, kita minum teh dulu." Nenek mempersilahkan Tata dan Jhon untuk menikmati secangkir teh.
Tata menengok kanan kiri mencari keberadaan ibunya. "Kemana ibu nek?"
"Mungkin di belakang, sedang mempersiapkan bahan latihan." Jawab nenek sembari terkekeh.
Tata curiga dengan apa yang dikatakan Nenek, pasti sesuatu yang buruk yang akan menimpa Tata dan Jhon. Mengingat watak ibu yang begitu keras, pastilah Jhon akan sedikit kesakitan setelah ini.
"Tata, kemarilah. ajak suamimu kesini." Panggil ibu dari taman belakang rumah.
Wajah tata langsung pucat seketika, apa yang dia bayangkan tadi sepertinya akan menjadi kenyataan. Nenek pergi kedapur untuk memasak menu makan malam, sedanh ibu sudah tak sabar menunggu Tata dan suaminya.
"Persiapkan dirimu ya sayang, sedikit latihan ini tak apa ya. mungkin akan sedikit sakit, tapi kau pasti bisa!"
__ADS_1
Tata memberi semangat pada Jhon yang masih tak tau tentang apa yang sudah menunggunya di belakang.
Wajah jhon seketika menjadi gugup setelah mendengar ucapan istrinya itu. Namun tak banyak yang bisa dilakukan karena Tata sudah menggandengnya untuk berjalan menemui ibunya.
"Mari temani ibu latihan." Ucap ibu memandang tajam Jhon yang hanya membalas dengan senyum getir.
Jhon bertelanjang kaki dan memijakkan kaki di rumput hijau itu yang akan menjadi arena bertanding. Jhon masih bingung dengan keadaan yang sedang dialaminya kini.
"Jawab semua pertanyaanku" Ucap ibu dengan tiba tiba memulai dengan melayangkan satu pukulan ke arah Jhon.
"Kenapa kamu mau dijodohkan oleh si tua bangka itu dengan putriku?"
Bugh.... tepat di perut.
"Auhh... " Jhon mengeluh kesakitan tanpa bisa menjawab, terlalu cepat sebelum Jhon mendapatkan bogem mentah untuk kedua kalinya.
"Berapa jumlah uang yang kau terima dari si tua bangka itu huh?"
"katakan!"
Bugh....
"Ayo balas, kenapa tidak membalas?" Ibu memberi jeda untuk sesi latihan pertama itu.
Tata hanya bisa menangis melihat Jhon yang mulai meringkuk menahan sakit di sekujur tubuh.
Ibu meluapkan semua amarahnya pada Jhon, dan Tata hanya bisa menangis pasrah. Jhon sama sekali tidak membalas pukulan demi pukulan yang ia terima.
"Atas dasar apa kau mau menikahi putriku huh?" Ibu bersiap melayangkan pukulanya tepat di wajah Jhon tapi terhenti seketika saat ibu mendengar Tata berteriak.
"Hentikan Ibu, aku mohon." Tata berjalan tertatih memeluk suaminya.
"Minggir Tata, jangan kau halangi ibu." Ibu membentak Tata.
"Tidak ibu, tidak aku mohon. Aku mencintainya ibu."
"Cinta? kau tau apa itu cinta?" Ibu masih di kuasai amarahnya.
"Hentikan ibu, Aku..... Aku..."
__ADS_1
"Katakan!!"