
"Eh, tunggu deh, bukanya kamu tadi barusan bilang sayang. Jika apa yang kamu lakukan itu menggugurkan kewajiban seperti seorang istri." Ucap Jhon serius.
"iya, terus?" Amel bengong masih dengan kiwi yang menyumpal mulutnya.
"Berarti kita tidak harus menikah lagi!" Jhon mulai duduk dengan menopang dagunya.
"Kok bisa gitu kenapa?" Amel masih bingung.
Dari kemarin malam Jhon dan Amel mereka berdua masih sangat bingung perihal kejelasan hubungan mereka. Apakah masih sah sebagai suami istri atau tidak.
Amel lalu menelfon pak Darto untuk berkonsultasi lagi. Pak Darto datang dengan setelan jasnya karena perintah Amel agar pak Darto untuk segera menghadiri meeting. Padahal ini adalah hari minggu. Hari pak Darto beristirahat dan berkumpul bersama keluarganya.
"Pak kenapa pakai jas?" Amel duduk di sofa masih belum mandi sedari pagi. Rambutnya pun berantakan seperti sarang burung.
"Tadi Nyonya bilang ada meeting. jadi ya saya berpenampilan rapi." Ucap pak Darto masih berdiri dengan posisi siap.
"Hahahahha, pak meetingnya sama saya dan Pak Jhon aja. Jadi ga usah formal formal gitu." Amel tertawa.
"Ada hal penting apa Nyonya sampai menyuruh saya kemari pagi pagi?" Pak Darto memandang serius Amel.
"Sini pak, duduk."
Pak Darto duduk berhadapan dengan Amel. Belum sempat Amel berbicara terdengar bunyi pintu terbuka.
Jhon datang sembari menenteng kantung blanjaan.
"Hai, pak !" Jhon menyapa pak Darto sambil sedikit menundukkan kepala.
"Pagi tuan!" Jawab pak darto.
"Tanya apa sih nya?" Pak darto mulai penasaran.
"Jadi soal kemarin bangun nikah itu loh." ucap Jhon duduk di sebelah Amel.
"iya, Apa kalian sudah berencana akan ijab lagi?" Pak darto menebak.
"Tidak, saya masih bingung. kemarin kata pak darto, jika apa yang saya lakukan itu menggugurkan kewajiban dan tanggung jawab kami sebagai suami istri, itu baru jatuh talak." ucap Amel serius
"Sedangkan kemarin aku dan dia tetap melakukan itu walau cuma sekali." Ujar Amel jujur.
"Sekali? kita melakukannya 6 kali dalam dua malam." Sahut Jhon lantang.
pak darto tertawa mendengar itu.
"Dasar pengantin baru, lagi gencar gencarnya." Pak Darto menahan tawa.
"his, tak usah di jelaskan berapa kalinya Jhon. Aku malu." Ucap Amel menepuk lengan Jhon.
"Ini orang nyablak banget sih mulutnya. Ga usah pake disebutin berapa ronde juga kali jojon!" Amel membatin dan mendengus kesal pada Jhon.
"Berarti nafkah batin tidak gugur. Terus nafkah lahirnya?" Tanya pak Darto untuk memperjelas urusan pengantin baru yang ribet itu.
"Lanjut pak masih lanjut, Aku masih rutin transfer ke Amel." ucap Jhon.
"Tapi aku ga pernah pake ya, itu masih utuh."
"Aku pake duit aku sendiri." Sambung Amel jujur.
__ADS_1
"Iya mau di pakai atau tidak, tetapi yang jelas tuan Jhon sebagai suami masih sangat bertanggung jawab terhadap nafkah lahir dan batin Nyonya." Terang pak Darto.
"Jadi kita masih sah?" Jhon sedikit memantapkan penjelasan pak Darto.
"kita tidak gugur?" Amel menekankan lagi.
"Tidak!" Jawab pak darto singkat.
Amel dan Jhon saling berpelukan dan tersenyum bahagia. Nampak Jhon yang sesekali mengusap punggung Amel dihadapan pak Darto membuat lelaki paruh baya itu malu berada diantara mereka.
"tapi," ucap pak Darto memecah pelukan hangat Amel dan suami.
"Tapi apa pak?" Jhon penasaran.
"Setidaknya kalian harus memperjelas hal ini di depan umum atau media. Biar tidak terjadi kerumitan lagi seperti kemarin. Harta bisa dicari, tapi kerukunan rumah tangga itu adalah obat hati." kata pak Darto sambil menatap serius Amel dan Jhon.
Seperti seorang Ayah yang menasihati putra dan putrinya. Pak Darto tersenyum melihat kedua orang itu nampak bengong setelah mendapat petuah darinya.
"Benar sekali ucapan pak Darto ini. Walau harta menumpuk tetapi jika rumah tangga berantakan seperti kemarin, semua jadi tak berarti." Jhon menunduk mengingat kejadian kemarin.
Amel menghela nafas panjangnya dan beranjak dari duduknya untuk mengambil minum.
"Iya pak kami akan berunding dan segera mempublikasikan pernikahan kami." Ucap Jhon untuk menenangkan pak darto.
"syukurlah kalau begitu. Apa saya sudah boleh pulang Nyonya?" Melihat Amel yang hendak membuat beberapa cangkir teh.
"Enggak minum teh dulu Pak Darto?" Tanya Amel sambil berjalan menghampiri pak darto.
"Enggak Nyonya, saya dari jam 6 pagi tadi sudah di buatkan teh sama istri saya." Jawab pak Darto sembari beranjak dari duduknya.
"Saya pamit pulang Tuan, Nyonya." ucap pak Darto yang mulai melangkahkan kaki untuk pulang.
"Berarti kita masih sah suami istri kan? Tanya Jhon yang masih duduk fi sofa menunggu sarapan yang di buat istrinya.
Sedari kepulangan pak Darto Jhon haya sibuk dengan ponselnya. Hingga saat sarapan pun Jhon mengacuhkan Amel dan hanya fokus pada ponsel pintarnya. Amel tak ambil pusing dengan kejadian seperti itu. Kedua orang itu memiliki kepribadian yang hampir sama jadi tak susah bagi merrka untuk saling memahami. Tetapi tetkadang malah menjadi kesalah pahaman.
Amel pun hanya sibuk dengan makanan dan ponselnya. Bel berbunyi menandakan ada seseorang yang bertamu.
"Tamu mu?"
Jhon dan Amel saling tatap.
Mereka tidak mengundang siapapun selain pak Darto, karena mereka hanya ingin beristirahat di hari libur.
"Biar aku yang lihat." Jhon berdiri dan mengamati dari layar dinpintu siapa yang berkunjung itu.
"ish,, kenapa manusia jelek itu datang kesini pagi pagi. Mau aku banting atau ku jadikan kau tali skiping kau Aldo!!"
Batin Jhon kesal. Jhon mengamati lebih dalam lagi, Nampak Ayah, Nenek, dan Ibu Amel datang berkunjung. Jhon seketika lari terbirit birit tunggang langgang menghampiri Amel.
"Sial, bisa bisa aku yang di banting sama ibu mertua. punya ibu mertua juga udah kayak tukang pukul bedug di masjid aja."
"Ibu, Ayah, Nenek." Ucap Jhon gugup dan clingukan mencari tempat bersembunyi.
"Apa? mereka semua? sekarang?" Amel berdiri dan kebingungan menarik Jhon kesana kemari.
Membuka lemari baju,
__ADS_1
"Tidak mungkin kau akan mati jika bersembunyi disini." Amel menarik Jhon.
"Ah, kamar itu. Aku menjadikanya Gudang kau kesana saja." Amel memasukkan Jhon.
Bel pintu terus saja berdenting tak henti henti.
"Sudah seperti barang bekas saja aku di simpan di gudang. Kalau enggak karena cinta, ogah banget aku."
Pintu gudang terbuka tiba tiba. Jhon terbelalak dan sangat kaget.
"Astaga, kau ini mengagetkanku." Jhon mengelus dadanya.
" Ini sayang bekalmu. Ponselmu, air minum, Makanan dan earphon mu."
" Love you." Amel mengecup bibir Jhon sesaat.
Mata Jhon seperti berkata, Jangan tinggalkan aku sayang. Amel berlari membereskan semua barang barang Jhon yang masih berserakan. Ponsel Amel terus berdering, panggilan dari Ibu dan Ayah yang silih berganti menghubunginya.
Pintu gudang terbuka tiba tiba lagi. Jhon yang hendak duduk di bangku kayu panjang sontak terkejut dan berdiri seketika.
"Ahh,, kau benar benar ingin membuat aku terkena serangan jantung!" Jhon mengeluh kesal dan mengusap dadanya lagi.
"Sssttt..... Kecilkan suaramu. Tidak sayang, aku belum siap menjadi janda. Ini barang barangmu. Love you." Amel memeluk dan memagut bibir Jhon agak lama. Jhon membalas ciuman istrinya selayaknya lelaki yang sedang birahi dan Toya saktinya mulai bereaksi.
Amel meyudahi ciuman itu dan pergi begitu saja dengan mengunci pintu gudang.
"Sial!! lagi tegang gini ditinggal gitu aja. Hhh, aku harus ngapain? Kau adik kecil, tidurlah. belum saatnya kau bangun.
Jhon menundukkan benda keras itu namun berdiri lagi. Membuat Jhon menjadi gelisah tak menentu.
🐼🐼🐼🐼
"Ayah, Ibu, Nenek. Maaf lama aku tadi sedang di toilet." Amel mencium tangan orang tuanya.
Terlihat Aldo yang tersenyum kepada Amel. Amel mebalas senyum Aldo pias. Jhon yang di kamar dengan segera menempelkan telinganya ke pintu. Mencoba mendengarkan celothan para keluarga istrinya.
"Bagaimana kabarmu?" Ibu membuka kantung plastik yang dibawanya.
"Baik, Ibu kenapa tidak bilang jika ingin kesini?" Tanya Amel membantu ibunya menata makanan dari kantung yang di bawa ibu.
"Kejutan lah. kami sengaja mau menemani kamu disini."
"Menemani?"
"Iya, perceraian pasti sangat membuatmu terpuruk nak. Kami ingin berada di dekatmu." Tutur ibu lembut.
"Ibu, aku belum bercerai. Di dalam gudang itu ada suamiku yang sedang tersiksa." Amel melihat gudang sekilas dan kembali focus pada kantung plsatik berisi makanan di dekatnya.
"*Sesorang, timsar, swat, fbi, tolong aku! Dectectiv connan, tolong temukan aku. Dori, Dori tolong ingat aku. Eh Dori? hehehhe aku bukan nemo. Kami belum bercerai ibu mertua. Ini semua akal akalan putrimu yang terlalu cerdas itu."
"hhh Amel, Amel, apa yang ingin kamu lakukan itu selalu susah di tebak*." Jhon membuka ponselnya dan mematikan nada drring sebelum ponsel itu berbunyi.
"emmmm...." Amel hanya diam dan beralih pada pekerjaan lain.
"Apartemenmu luas juga mel?" Aldo berjalan menyusuri tiap ruangan dan berhenti tepat di depan gudang.
"ini ruang kecil apa? kecil sekali?" Aldo menggerak gerakkan handel pintu.
__ADS_1
" Astaga, dia sengaja ingin membuatku mati terkejut. Awas kau!" Jhon menjadi lemas karena kaget.
"Itu gudang, kuncinya rusak jadi tidak bisa dibuka. Masih menunggu pihak apartmen untuk membenahi." Jawab Amel agar Aldo tak terus berdiri di depan pintu.