Lelakiku Introvert

Lelakiku Introvert
41. Dika meneliti


__ADS_3

"Sampai kapan kau akan kuat dengan semua ini? Mereka akan segera menikah." Ucapan ini selalu terngiang ngiang di telinga Amel.


Pov Author.


Panggilan Tata diganti sesuai nama aja ya, biar ga ketuker sama si Tara. Amelita sabina (Amel)


Back to story.


" Terus, Aku harus gimana?" Amel menggaruk garuk kepalanya.


Tara yang melihat itu melemparkan sebuah kunci mobil ke atas meja mebuat Amel sangat kaget. Amel spontan mengangkat kakinya ke atas sofa dan hampir saja mengumpat.


Tara duduk di sebelah Amel menyandarkan kepalanya di pundak Amel. Mereka berdua benar benar melewati masa pelik hari ini. Tara yang bingung harus meletakkan mukanya dimana, sedang Amel yang bingung harus membuka atau mengambil jalur aman.


🚗🚗🚗🚗🚗


"Sayang, kenapa kamu akhir akhir ini selalu menghindar dariku?" Elsa merangkuk lengan Jhon yang sedang mengemudi.


"Lepaskan aku sedang mengemudi." Ucap Jhon sembari menggeserkan tangan agar tak di peluk Elsa.


Elsa yang sedang memegang perutnya berteriak kesakitan dan itu mengagetkan Jhon. Membuat Jhon sedikit hilang Fokus dan hampir menabrak sebuah tiang lampu jalanan.


"Ada apa?" Jhon cuek.


"Dia menendang." Jawab Elsa sambil memegang perut buncitnya.


"Ini kesempatanku, aku akan bertemu dengan dika dan bertanya memperkirakan usia kehamilan Elsa yang sebenarnya"


Elsa hanya mencari cari perhatian Jhon agar tak curiga terhadap gelagatnya yang ternyata berselingkuh di belakang Jhon. Dengan cara itu setidaknya Jhon akan tetap beranggapan jika Rlsa benar benar cinta mati padanya.


Namun Elsa salah besar, dan kurang pertimbangan. Jhon masih mau berada di dekatnya hanya karena janin yang dikandungnya. Bukan lantaran cinta lagi.


Jhon mengarahkan mobilnya kejalur lain, membuat Elsa kebingungan karena itu bukan jalan untuk menuju Apartemen atau Hotel tempatnya menginap tadi. Rlsa masih menelisik heran kemana Jhon akan membawanya pergi.


"Kenapa kesini?"


Jhon berhenti pada sebuah taman, menepi di bawah pohon dan keluar tanpa membukakan pintu untuk Elsa. Elsa turun dengan sendirinya dan memeluk Jhon dengan manjanya.


"Aku kangen kamu sayang."


"Awas, ah! jangan disini males kalau ada yang foto foto kita nanti." Jhon menghindar dari pelukan Elsa.


" Enggak apa apa lah, kan kita memang mau menikah." Ucap Elsa menarik lengan Jhon untuk memeluknya lagi.


Jhon yang tidak bisa menghindar dan haya pasrah saja dengan tindakan Elsa yang terus menggerayangi tubuh Jhon. Jhon hanya fokus pada ponselnya yang seadang mengirim pesan untuk dika untuk segera datang menemuinya sebelum singa betina yang tengah hamil itu menerkanya karena kelaparan.


"Cepet dong! Dika aku sudah malas sekali ada di sini. Bantu aku secepatnya."


"Tadi mengapa kamu datang mentusulku ke Resort?" Jhon menatap Elsa yang masih menempel padanya yang terhalang perut buncitnya.


"Karena aku kangen, aku hanya merasa jengkel karena kamu selalu menjauh dan menghindar dariku." Elsa merajuk manja dengan bibir yang amanyun.


"Aku sedang bekerja dan tidak ingin di ganggu, oke!" Jhon memutar matanya mals karena berbohong perihal kepergianya.


"Aku tidak mengganggu, oke! Aku hanya ingin di dekatmu. Ini kemauan anak kita." Elsa Menarik tangan Jhon dan menempatkannya di atas perut.


"Iya kalau itu anakku, kalau bukan? celaka 12 aku".


Jhon, mengusap usap rambutnya kasar. Ingin berlari dan pergi. Namun apalah dayanya, tidak bisa berbuat apa apa.


"Hhhh....." Mendemgus kesal sembari menghela nafas panjang.


****

__ADS_1


"Hai" Teriak suara seorang pria yang melambai pada Jhon.


"Akhirnya dewa penolongku datang. Cepet lah Cepat lah!"


Jhon bernafas lega dan menggosok gosokkan kedua telapak tanganya, tak sabar menunggu hasil analisis Dika shabat Jhon yang merupakan spesialis kandungan.


"Hai, darimana?" Jhon berpura pura tak sengaja bertemu.


"Lagi suntuk aja, makanya jalan jalan disini." Dika menjawab kompak sesuai permintaan Jhon.


"Kenalkan ini Elsa pacarku." Jhon Menunjukkan Elsa yang masih menempel di lenganya.


"Ooh hai aku Dika." mejabat tangan Elsa.


"Aku Elsa, senang bertemu denganmu." jawab Elsa membalas jabatan tangan Dika.


"Wah kau jago juga ya, belum menikah tapi udah berhasil aja." Dika Meledek Jhon.


Jhon tidak menjawab dan tersenyum miris. Jari telunjuk Jgon menggaruk garuk keningnya yang tak gatal, memberi isyarat untuk Dika segera memulai analisisnya.


"Sudah berapa bulan?" Dika memasukkan tanganya ke saku celana.


"hem, baru 3 bulan." Jawab Elsa santai yang tidak tau bila Dika adalah seorang dokter kandungan.


"Oh, iyakah? Tapi sudah nampak besar sekali." Cletuk Dika memulai analisis.


"Masa sih? Mungkin karena aku tadi banyak makan. Jadi terlihat semakin membesar." Elsa mencoba mengelak dari terkaan Dika.


"Dia kira lambung dan Rahim itu bercampur jadi satu? Bisa bisa anak mu keluar seperti t*i, jika semua menjadi satu. Percuma aja nih, menang cantik doang tapi bloon."


Dika melihat perut Elsa dengan seksama. Dan terus mengamati dengan teliti.


"Apa kau punya saudara kembar? perutmu terlihat lebih besar dari usia kehamilan 3 bulan pada umumnya." cletuk Dika


Membuat Elsa menelan ludah kasar dan memberi jawaban palsu atas kehamilanya.


"Sibuk apa sekarang?" Jhon memecah keseriusan Dika agar tak terendus seolah olah sedang menjadikan Elsa objek penelitian.


"Masih seperti yang dulu, selalu berkaitan dengan wanita." Jawab Dika asal.


Jhon mulai duduk di kursi taman dan mencoba melepaskan tanganya dari rangkulan Elsa, Namun tak berhasil. Elsa sukses merajuk manja pada Jhon malam ini. Tingkahnya semakin membuat Jhon merasa jijik, Demi suatu bukti nyata Jhon rela terus terusan bersanding dengan Elsa.


"Kalian teman dekat ya?" Tanya Elsa membuat Dika kembali menatapnya serius.


"Iya, kita satu hobi." Jawab Jhon singkat.


"Eh, sudah ya. Aku pergi dulu, aku harus beristirahat ini sudah sangat larut. Bye." Menyudahi percakapan karena Elsa sudah mulai bertanya tanya.


Dika sangat paham bagaimana Elsa mulai mencium aroma keanehan padanya. Dika berlari menuju kliniknya sendiri. Merasa seperti ada yang mengikuti Dika memilih menaiki bus dan turun disebuah Hotel.


"Siapa yang mengikutiku siapa yang menyuruhnya? Sudah seperti agen 007 saja aku naik ini itu untuk menghilangkan jejak."


Dika masuk kehotel dan keluar dari area belakang Hotel tanpa di ikuti si pengintai. Merasa semua sudah aman, akhirnya Dika memutuskan untuk memesan taksi dan pulang.


"Degdegan gini ya di ikutin orang, sudah seperti ketemu mantan yang jalan bareng gebetan baru."


🏘🏘🏘🏘


Sampai di rumah Dika.


"Astaga, sudah disini saja kamu!" Dika kaget saat melihat Jhon sudah berdiri di depan pintu kliniknya.


"Kenapa kamu lama sekali? aku sampai mengakar disini." Ucap Jhon penuh kekesalan.

__ADS_1


Dika clingukan melihat keadaan sekeliling dan mendorong Jhon masuk cepat. Dika seperti pencuri yang melihat lihat sekitar dan memantau kamera CCTV.


"Aman terkendali tidak ada yang mengikuti" Dika melihat dari rekaman yang ada.


Jhon sudah menurunkan Elsa di rumahnya, Dan beralasan untuk beristirahat agar siap dalam acara besok. Jhon merebahkan dirinya kesofa. Sedang Dika mengambil minuman dingin.


"Gara gara kau malam malam begini aku jadi seperti orang gila, harus membuang jejak saat bepergian." Dika memberikan sekaleng minuman dingin untuk Jhon.


"kenapa memangnya?" Jhon menenggak sekaleng minuman dingin.


"Ada yang mengikutiku, membuntutiku sampai aku harus membuang jejak di hotel." Dika duduk di atas meja.


"Benarkah? Di Hotel mana kau tadi membuang jejak?" Jhon serius


"Sabina luxury Hotel."


"Ah, kebetulan itu salah satu Hotel pacarku." Jhon membuka Ponselnya.


"Hah, mati aku. kenapa juga harus ke Hotel itu." Dika menepuk jidat.


"Siapa yang akan kau hubungi? pacarmu?" Dika merasa cemas.


Jhon mengangguk pelan masih dengan fokus yang sama memghubungi Amel.


"Jangan!" Dika bertariak.


Jhon merasa sangat heran dan mengerutkan dahinya, menatap Dika penuh dengan keanehan yang nyata. Dika menggaruk garuk kepalanya, memainkan dan menggigit gigit bibirnya sebagai bentuk kecemasan.


"Bagaimana jika yang menyuruh orang untuk membuntutimu adalah pacarmu?" Tanya Dika sambil melipat tanganya ke dada.


"Amel maksudmu? ya jelas saja sangat tidak mungkin." Jhon tertawa masih dengan tangan yang mengetik pesan.


Dika sangat kebingungan pada Jhon.


"Tadi Dia bilang pas kenalan kan namanya Elsa. Kenapa sekarang yang di sebut anak ini adalah Amel? Atau jangan jangan?


ohhh ada dua?"


Dika tersadar dari kelambanannya mencerna keadaan yang dialami oleh sahabatnya.


"Dua? Astaga, Aku satu aja crewetnya enggak ada habisnya. Dia dua? Bakalan jadi anak soleh ini si Jhon, tiap hari ketemu Da'i."


Dika melihat Jhon dari atas kebawah terus terusan dan itu mengganggu fokus jhon.


"Dua ada dua?" Tanya Dika gugup.


" iya, tapi cuma satu yang kucinta." Jawab Jhon masih dengan sibuk memencet benda gepeng hitam di tangannya.


"Yang siapa?" Dika penasaran


"Amel" Ucap jhon


"Sebab apa? kaya?" Dika mulai duduk di sofa dan mengamati Jhon lagi.


"Bukan, pokoknya dia itu berbeda dari gadis lain." Punkas Jhon menyelesaikan semua tanya Dika yang semakin melebar.


"Hummm, aku tak percaya kau setega ini padaku. atas hal seperti ini pun, kau tak mau berbagi." Dika mengeluh kesal.


"Maaf, tapi ini benar benar rumit. Lain kali aku akan menceritakan semuanya. oke"


****


"Kemungkinan besar, Elsa mengandung sudah lebih dari 4 bulan. Aku melihat dari besarnya perut Elsa."

__ADS_1


"Tapi, itu akan sesuai dengan perhitungan jika bayi itu kembar." keterangan Dika membuat mata Jhon sontak terbelalak.


"Untuk lebih pastinya ajaklah dia periksa atau cek kehamilan." Sambung Dika.


__ADS_2