Lelakiku Introvert

Lelakiku Introvert
14. Tepi pantai


__ADS_3

"Pertahankan apa yang menurutmu itu berharga kak, Tapi tetaplah jadi putra yang baik untuk Ibumu. Hidupnya tak akan bisa tetulang 2 kali untuk mendapatkan putra sepertimu".


Kata kata itu terus terngiang di telinga Jhon, seperti penyemangat yang bijak yang menghargai dan memikirkan setiap apa yanga akan terjadi.


ponsel berdering berulang kali tapi jhon mengabaikanya. Dia tak menghiraukanya barang sekalipun.


Panggilan itu dari ibunya.


"Tata, ayo cepatlah kita berkemas, waktu kakek tak banyak kita harus segera ke London". Seru kakNino.



kak Nino kakak sepupu tara dan cucu laki laki andalan kakek. seperti bos mafia dan tangan kanannya.


Kedatangan kak Nino kali ini hanyalah untuk melancarkan Acting yanh dilakukan kakek. Kakek merasa hidupnya sudah tak panjang lagi, rasa penyesalan kakek selalu menghantuinya.


Mengingat Kakek dulu sangat menentang pernikahan Kedua orang tua tara dan tidak mau mengakui tara sebagai cucunya.


Tapi semenjak usia senjanya ini, Kakek selalu teringat akan Tata. Dia hanya ingin Tata mau menerima pembwrian warisanya seperti halnya cucu cucu kandungnya yang lain.


"Aku mohon kak, jangan ngajak aku main drama melow lagi deh. Ujung ujungnya bikin kesel juga". Tara berdiri melipat kedua tanganya dan duduk di meja makan.


"Ayo cepetan atau kamu akan menyesal". Gertak kak Nino mematahkan pendirian Tata.


"Oke". Cemberut seperti malas melangkah.


"Hallo kak vito, aku mau minta ijin. Hari ini selama 2 - 3 hari aku tidak bisa berangkat. Nenekku meninggal dunia". Percakapan tara yang akhirnya vito memberikan ijin pada tara.


Di lokasi syuting


"Tara ga berangkat, Jhon ke london. Apa kita undur saja jadwal sampai 3 hari ya?" meminta pendapat tim.


sebelumnya~~~


"Kak vito, undur saja jadwalku. Aku harus ke london Ibuku terkena serangan jantung". Jhon meminta pengunduran jadual.


Jhon dan Tata terbang menuju kota yang sama tapi berbedavpemberangkatan dan penerbangan.


Kak Nino adalah pilot, dan kakek ternyata adalah otang yang sangat kaya. Demi melancarkan aksinya Kakek menyuruh Nino menjemput adik kecilnya itu menggunakan pesawat pribadi.


sampailah di rumah kakek.


aterlihat kakek yang berbarinh dengan sejumlah peralatan medis yang menempel di dadanya.


Rambutnya terlihat sudah rata putih beruban. Nino melihatnya nanar dan penuh haru seperti tak tega melihat kakek yang di sayanginya harus menahan sakit seperti itu.

__ADS_1


Baerbanding terbalik dengan Tata, Tata nampak biasa saja berjalan dengan memasukan tangannya kedalam saku celana pendeknya.


"Kakek, kau baik baik saja? " Tangis Nino di sebelah ranjang kakek.


Sederet pelayan berbaris disana, mereka siap siaga bila sesuatu secara mendadak terjadi pada kakek.


Tata masih hanya diam dan berdiri menyaksikan drama yang mellow itu. Tak berucap maupun ber ekspresi yang iba atau juga sedih.


"Kesinilah cucuku" pinta kakek yang halus pada Tata yang mematung.


Tata mendekat dengan wajahnya yang datar dan cuek.


"Kakek senang akhirnya kau mau mengunjungi kakek". Ucap kakek terbatuk batuk


Nino membantu menepuk lembut punggung kakek, dan mengganjal punggung kakek dengan bantal agar terduduk.


"Benarkah kakek sakit?" Tata mengerutkan dahi.


Angguk kakek dengan terbatuk batuk. Tata datang semakin mendekat dan menggelitik kaki kakek.


Sontak kakek tertawa terbahak bahak dan menggeliat, sederet pelayanpun ikut tertawa. Nino hanya mendengus kesal.


"Sia sia aku berlatih acting kek". Keluh Nino melonggarkan dasinya dan menghempaskan badanya di sofa.


"Kebohongan kalian akan selalu terungkap olehku". Tara duduk di sebelah Nino menepuk nepuk bahu Nino, Nino hanya memandang kesal adiknya itu.


"Pengen ikut main permainan kalian aja, Hahahahaha". Memandang kakaknya penuh dengan rasa geli.


"Kakek heran kenapa sangat susah mengelabui mu". menggeleng gelengkan kepala seeprti kehabisan cara.


"Aku mewarisi salah satu bakatmu kek, aki bisa melihat masa sulit sesorang"


" Yang kulihat tadi tidak ada apa apa yang akan menimpa kakek".


"Semua baik baik saja". Ucapan Tata mematahkan semangat mereka.


"Aishhh.... sudahlah aku pergi". Nino memutuskan pergi ke kamarnya.


"Bye bye" Ledek Tata menjulurkan sedikit lidahnya.


"Kali ini terima pemberian kakek ya, Atau kakek akan menyesal hingga akhir hayat". Bujuk kakek pada satu satunya cucu perempuan di keluarga itu.


"Baiklah" Jawab Tata cepat.


Tata sudah menyerah dengan bujukan kakek mengenai pemberian harta ini. Sebenarnya tata tidak begitu tertarik dan haus akan harta. Bagi tata hidup sederhana hasil kerja keras lebih memuaskan.

__ADS_1


"Benarkah kamu mau?"


"Dan satu lagi, Tolong bantu Anak dari Anak angkat kakek yang disini". Kakek menambahkan satu daftar permintaan lagi.


"Maksud kakek, cucu angkat kakek?" Tat memperjelas maksud kakek.


"Iya" kakek berdiri dan duduk di sebelah cucunya yang cantik itu.


"Bantu apa?"


"Butuh dana berapa dia?" Ujar tara memainkan pajangan meja.


"Jadilah Istrinya". Kakek memegang tangan Tata lembut.


"Apa?" Tata sontak berdiri, dan duduk di ranjang rawat kakek.


"Lagi? kek, ini sudah jaman apa?" kesal tara


"Tolonglah, ibunya sudah menjaga kakek selama ini. Dan kemarin aku melihat kilasan hal buruk tentang anaknya".


" Aku melihat anak itu putus asa dan akan mengakhiri hidupnya"


"Dan ada kamu disana"


"Tolonglah Amelita sabina, cucu kakek yang tercantik di dunia".


"Kalau tidak ada Emma, dan Tony suaminya. Mungkin sekarang Kakek sudah tiada".


"Tony suami Emma Ayah dari pria yang akan ku jodohkan denganmu itu dia yang memberikan jantung ini". Membuka dadanya dan menunjukkanya pada Tata.


"Baiklah kek, aku tau itu" menghela nafas panjang.


"Tentukan waktu kami bertemu, aku akan mempersiapkan diri untuk itu". Tata meninggalkan ruangan itu, Nampak begitu berat dan kecewa pada diri sendiri.


"Ahhh... ini waktunya aku mengisi energy"


"Dayaku benar benar sudah habis kali ini". Tata berjalan ke garasi mobil, melihat lihat sederet mobil kak Nino dan kakeknya.


"Nona mau pakai yang mana?" Tanya sopir pribadi itu pada tata yang nampak susah untuk menentukan pilihan.


"Emmmm... ini aja". Tata hanya memilih sepeda. Tata benar benar jauh dari kata sombong atau mewah mengenai penampilan dan kekayaan.


Walau sebenarnya isi kartu yang kakeknya berikan memiliki jumlah yang fantastic tapi Tata ta memakainya, memakai uang hasil kerja sendiri adalah kebanggan Tata.


"Nona belum berubah sama sekali, masih seperti yang dulu". ujar sopir pribadi itu seraya tersenyum melihat Tata yang berlalu pergi dengan riangnya mengendarai speda dengan alunan lagu yang repasang di telinganya.

__ADS_1


Tata berhenti di Bawah pohon di tepi pantai. Belakang rumah kakek itu bagi Tata sudah seperti wahana rekreasi yang menyenangkan.


Deru ombak dan semilir angin laut sangat menenangkan. Memulihkan jiwa jiwa yang meronta karena tekanan dunia. Tak ingin apa apa Tata hanya ingin sekejap saja memejamkan mata.


__ADS_2