Lelakiku Introvert

Lelakiku Introvert
51. Damar


__ADS_3

Delapan bulan telah berlalu, seorang laki laki sangat panik menyambut kelahiran bayi mungil di dalam hidupnya. Hanya dibantu seorang bidan desa persalinan wanita itu berjalan lancar.


"Bapak suaminya?" Tanya bidan untuk mengisi data kelahiran bayi perempuan yang cantik itu.


"Bukan buk, saya hanya tetangga yang mengantarnya." Jawab pria itu.


"Lalu, dimana suaminya kenapa tidak menemani?" Tanya bidan itu penasaran.


"Saya juga tidak tau bu, Dia bukan istri saya. Kami dahulu menemukanya terdampar di tepi pantai bu tepat malam hari disaat kami akan melaut. Keadaanya sungguh miris dia lupa akan asal usulnya, dan kami sepakat untuk merawatnya bersama sampai ingatanya kembali dan mengantarnya pulang. Tapi sampai saat ini pun dia belum ingat kembali. Kami juga bingung bu harus bagaimana." tutur Damar menerangkan kejadian yang sudah berlalu delapan bulan itu.


"Aku juga belum mendengar adanya laporan kehilangan dari lingkungan sekitar." Ucap Bidan desa itu.


"Dari penampilanya saat kami menemukanya, sepertinya dia orang jauh bu. Cara bicaranya sedikit berbeda dengan kami. Tapi dia pintar dan cepat belajar. Satu bulan disini dia sudah pandai berbicara dengan bahasa kami." Jawab pria itu.


"emm begitu, ini bapak siapa namanya? biar saya isi keteranganya." Tanya bidan ima.


"Saya Damar Bu, ibu saya Miyah yang tadi ikut masuk dan menunggunya itu. Kamilah yang menjaga dia selama ini." jawab Damar jujur.


"Lalu, siapa namnaya wanita itu? kenapa dia hamil siapa ayah dari bayinya?" Tanya bidan yang semakin bingung dengan asal usul si bayi itu.


"Kalau kata ibu saya sih, saat kami menemukanya kemungkinan dia sudang hamil 1 bulan bu. Bukan karena ulah orang nakal dan lain sebagainya. Dia wanita baik baik bu. Karena kami tidak tau namanya dan dia juga masih lupa kami hanya memberinya nama panggilan Dea" Jawab Damar sambil memegang satu plastik baju bayi.


"Dea, yasudah aku hanya butuh ini." Bidqn mengisi kolom kolom yang masih kosong bersangkutan dengan nama ibu dan bayinya.


"Dea itu / dari Dia. kami juga bingung kasih nama." Ucap Damar ngawur.


"Apa saat Dea ditemukan kalian tidak melihat berita di tv tentang kejadian atau apapun itu?" Tanya Bidan Lagi.


"Saat itu bertepatan dengan badai besar dan gelombang pasang yang tinggi bu. Jadi waktu itu petir menggelegar ke segala arah dan aliran listrik di pulau ini padam katena ada beberpa tiang yang roboh dan kabel yang terputus. Mengingat jarak, medan tempuh, transportasi dan cuaca yang tidak setiap saat mendukung. Jadi pulau ini padam listrik selama 4 hari bu. Dan kami tidak mendengar berita apa apa." Ucap Damar sambil menenggak air putih karena tenggorokanya sudah kerimg terlalu bayak bicara.


"Apa tidak ada yang melapor tentang penemuan ini kepada pihak berwenang?" Tanya Bidan ima yng semakin tertarik dengan cerita Damar.

__ADS_1


Bidan Ima adalah orang baru yang di tugaskan untuk bekerja membantu dan menjabat sebagai satu satunya tenaga medis di pulau kecil itu yang hanya berjumlah 100kk.


"Sudah bu, hansip kami sudah melapor ke luar pulau. Tepatnya pulau sebelah, tapi.


Kata mereka, bagaimana bisa menjamin keselamatan Dea jika diserahkan keada sembarang orang. Mereka juga hanya menyuruh kami menunggu sampai ingatanya pulih." Ucap Damar sambil menatap serius bidan cantik itu.


"Oh, iya. apakah Dea pernah mengigau atau menyebut nama seseorang?" Bidan ima menelisik.


"Pernah bu, kata ibuku waktu itu Dea seperti menyebut Joko, Jhon atau siapa gitu. Maklumlah bu, ibuku sudah tua jadi sering lupa." Jawab Damar sambil nyengir karena lupa akan nama yang pernah ibunya ceritakan kepadanya.


🐦🐦🐦🐦🐦🐦


"Uhuk.... uhuk.... " Tara terbangun sambil terbatuk batuk.


"Kenapa sayang kok kamu batuk batuk, sakit?" Tanya Yogi dengan suara bdratnya dan hanya membuka sebelah matanya.


"Enggak, aku tiba tiba...." Ucap Tara menggantung dan menitikan air mata.


"Aku melihat bayi dan Amel. Amel... punya bayi, sayang. Perempuan!" Jawab Tara antusias dan di iringi tangis.


"Benarkah? dimana? terlihatkah tempatnya?" Tanya Yogi yang sudah membelalakan matanya lebar lebar tapi ya masih sipit juga sih.


Tara menggeleng cepat.


"Tidak aku tidak melihat tempatnya. Hanya putih bersih sperti di pinghir pantai." Jawab Tara seketika.


"Pantai?" Tanya Yogi.


"Iya, seperti pasir putih yang memantul karena terik matahari." jawab Tara sambil mengangguk antusias.


"ini kabar baik sayang, kita harus memberitahu jhon." Ucap Yogi yang bergegas bangun dan meraih kunci mobil.

__ADS_1


"Sayang. mau kemana? bantuin aku dulu!" Rengek Tara manja pada Yogi.


Ini adalah kehamilan pertama Tara setelah menikah 4 bulan lalu ini memasuki usia kehamilan 2 bulan Tara. Semenjak hamil Tara menjadi semakin ringkih setiap hari mengeluhkan pinggangnya.


Pinggamg Tara terasa sangat sakit seperti ada urat yang tertarik keluar. Tak jarang Tara menitikan airmata saat hendak bangun atau berdiri. Yogi yang melihat itu selalu mengusap lembit pinggang istrinya dan membnatunya berjalan perlahan.


Yogi menjadi semakin perhatian semenjak menikah. Padahal saat berpacaran Yogi tergolong sangat cuek. Tapi semua itu musnah saat Tara sudah sah menjadi miliknya.


"Ayok, sini pelan pelan ya. Sakit banget ya sayang?" Tanya Yogi yang berjongkok menghadap Tara yang duduk di tepi ranjang.


"Iya, sayang." Bulir airmata jatuh karena menahan sakit.


"Bagaimana kat bu eva pakah sudah ada solusinya untuk sakit pinggangmu ini?" Tanya Yogi sambil mengelus elus paha Tara.


"Menurut hasil pemeriksaan semua normal dan baik. Sepertinya ini hanya bawaan bayi. Solusinya ya aku harus kuat sampai dia lahir." Ucap Tara sembari mengelus kepala suaminya yang kini berada di pangkuanya.


"Maaf ya istriku, karena ulahku kamu harus menahan sakit berbulan bulan." Ucap Yogi y yang kini mencium perut istrinya.


"Aku rela sayang, semua ini sudah kodratku untuk menjadi seorang ibu." Jawab Tara.


"Anak Papa dengar itu ya." Nasihat Yogi pada calon jabang bayinya.


🐦🐦🐦🐦


"Mana anakku bu." Tanya Amel pada Miyah wanita paruh baya yang menunggunya.


"Sedang di bersihkan oleh bidan. Damar yang mengurusnya. Kamu istirahatlah." Pinta ibu Miyah pada Amel.


"Berikan nama yang cantik untuknya bu." Ucap Amel sambil memakan makanan seusai bersalin yang sangat menguras tenaga.


"Seharusnya yang wajib adalah ayahnya, tapi ayahnya tidak ada. Jadi ya kamu juga sudah cukup." Jawab Ibu Miyah sambil menata minum untuk Amel.

__ADS_1


"Akan ku beri nama, Andini Aurelli."


__ADS_2