
Setelah pertengkaran itu, Jhon memutuskan untuk kembali dan langsung menemui ibu mertuanya, lebih tepatnya mantan ibu mertua. Jhon sangat tau jika dia bicara pada Tata maka Tata akan sangat melarangnya untuk menemui ibunya sendiri. Sudah dapat di pastikan nasib Jhon akan berakhir tragis dirumah mantan mertuanya, Bagaimana tidak terlebih lagi jika ibu Tata mendengar menantunya menghamili pacarnya. Jhon harus bisa dan mesti bertemu dengan mereka. Ayah ,yang mendukung pernikahan mereka pasti akan sangat hancur dan kecewa.
Banyak orang yang akan mereka kecewakan kali ini, selama dalam pesawat Jhon gusar dan tak tenang memikirkan bagaimana dia mamapu mengucapkan segala kesalahan dan kebodohannya, termasuk tentang kehamilan Elsa.
Dan benar Jhon menemui ibu, awal mula kedatanganya Nenek menyambut Jhon dengan hangat dan menanyakan Tata yang tidak turut serta bersamanya. Hingga Nenek menyadari ada memar di wajah Jhon, Nenek terlihat khawatir dengan keadaan Jhon.
"Kenapa wajahmu nak? apa kau nertengkar dengan Tata?" Nenek mencermati memar itu
"Tidak nek, nek dimana ibu?" Jhon langsung ingin memulai semua sendiri.
"Mari Nenek antarkan, ibumu ada di ruang Tv." Nenek menggandeng Lengan Jhon dan mengantarnya menemui ibu.
Ibu yang tengah memotong sayuran sambil menyaksikan drama di Tv menoleh dengan segera saat Jhon memanggilnya. Wajah ibu masih sangat gembira kala itu, mengira bahwa putrinya ikut bersama Jhon. Salah besar bahkan Tata tidak tau sama sekali tentang rencana Jhon ini.
"Dimana putriku?" Ibu tanpa basa basi hanya menyakan keberadaan Tata.
"Dia tidak ikut bu, aku sendiri. Ada yang ingin aku bicarakan dengan ibu." Jhon mulai menekuk kakinya dan berlutut dihadapan ibu tertunduk dan tak berani menatap ibu.
"Aku dan Tata kami sudah bercerai bu" ucap jhon mengawali pernyataanya.
Ibu masih mengacuhkanya dengan tetus mengerjakan pekerjaanya yang tertunda.
"Dan aku akan menikahi wanita lain segera." sambung Jhon.
ibu seketika menghentikan pekerjaanya dan melihat kearah Jhon, ibu memggebrak meja yang ada di hadapan Jhon.
"Apa? kau menceraikan putriku demi menikahi wanita lain? kau anggap apa anankku?" Amarah ibu meledak.
"Kau baru kesini beberapa bulan lalu mengatakan tentang pernikahan kalian yang berjalan tanpa sepengetahuanku. sekarang, kalian sudah melewati masa perceraian pun tanpa memberitahuku."
"Kalian sudah benar benar melampaui batas!"
"Lakukan saja sesuka kalian aku sudah tidak perduli. katakan pada Tata jika dia tak berani menemuiku dan menjelaskan semua ini maka aku akan menghajarmu." Ibu menuntut kejelasan dari keduanya.
"Aku yang bersalah bu, ini semua bukan atas kehendak Tata bu. Waktu Tata bilang dia yang meminta kakek untuk menikahkannya denganku semua itu bohong."
"Yang sebenarnya terjadi adalah....." Jhon menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada ibu.
"Ohh, aku mengerti sekarang jadi selama kau menikahi putriku kau hanya menganggap dia sebagai alat untuk menebus kekecewaan mendiang Ibumu?" Ibu membentak Jhon sekuat kuatnya hingga Nenek mendatangi mereka dan melerai pertengkaran itu.
"Tak ku sangka kau sepicik ini, kau setega ini pada putriku."
Plak.... plak....
Tamparan double di peroleh Jhon secara cuma cuma. Nenek melarai hal itu namun sudah terlambat satu tinjuan ibu mulus mendarat di wajah tampan Jhon. Darah mengucur dari hidung Jhon, Jhon hanya menunduk pasrah.
Nenek yang baik hati tetap tak tega melihat apa yang terjadi. Beberapa lembar tisu putih Nenek berikan kepada Jhon untuk menyeka darah yang keluar dari ujung bibir dan hidung .
__ADS_1
"Pergilah nak, sebelum kemarahanya bertambah parah" Ucap nenek sembari memegang pundak Jhon yang masih berlutut di depan ibu.
"Aku pantas menerimanya Nek." Jawab jhon membuat Nenek berhenti membantunya dan menatap iba cucu menantunya.
"Maafkanlah aku ibu, aku bersalah atas semua ini. Tapi aku sekarang benar benar mencintai putrimu ibu." Pernyataan Jhon semakin membuat ibu murka.
" Aku sudah muak mendengar ocehan mu, pergi kau dari sini sebelum aku membunuhmu!" Ibu beranjak pergi dan membanting pintu kamar keras.
Jhon pergi beranjak setelah ibu membanting pintu, Nenek yang masih berdiri menyaksikan hal itu pun akhirnya memilih pergi dengan sedihnya. Mimpi nenek untuk memiliki cicit harus tertunda.
Jhon masih tak bisa dihubungi. ponselnya masih tidak aktif, Tata sangat mencemaskan keadaan Jhon. Tata takut jika Jhon melakukan hal bodoh pada dirinya sendiri, karena Jhon sangat mirip dengan prilaku Tata dulu, yang menyendiri setiap ada masalah dan hanya berkumpul jika ingin membagi kebahagiaan.
Tata menghubungi semua manager dari hotel dan resortnya untuk memberikan kabar jika Jhon menginap disana.
Derrttt.... Derrtttt...
"Iya"
"Maaf mengganggu waktu anda bu, tadi baru saja tuan memesan kamar." ucap resepsionis yang melapor pada Tata.
"Bagaimana kedaanya" Tanya Tata khawatir.
"Kacau bu, seperti habis bergelut dengan preman." Ujar resepsionis.
"Baik, tahan dia sebentar lagi aku sampai." Pesan Tata pada pegawainya.
chat
"Tara bisa kau siapkan obat untuk luka memar? nanti karyawanku yang akan mengambilnya."
"Baik princes Tata, siapa yang luka?"
"Belahan hatiku babak belur dihajar oleh ibuku"
"Apa?" Tara tak percaya.
"Benar aku serius." Jawab Tata.
"ceritakan tentang ini saat kita bertemu. oke!"
"hemm, baik. Terimakasih" Tata mengakhiri panggilanya.
Tata memutuskan untuk pulang setelah memastikan Kakek dalam kondisi baik baik saja setelah bertengkar hebat dengannya.
"Dia menyakitiku, tapi mengapa aku tetap tak bisa melihatnya tersakiti"
Memikirkan Jhon, sepanjang perjalanannya. Memperdalam lamunannya, mengingat malam pertama mereka yang penuh dengan konflik. Bagaimana tidak, Tata memikirkan semua dampak yang terjadi jika dia begitu saja meninggalkan Jhon. Kilasan tentang apa yang akan terjadi selanjutnya, melihat Jhon terpuruk dan dengan sejumlah Tatoo di lengan. Sakit tapi tidak berdarah.
__ADS_1
Menunduk menahan tangis dengan bersembunyi di balik kaca mata hitamnya. memebendung air mata yang mecoba mengalir dari celah celah kecil sekalipun. Bagaimana semua bisa menjadi rumit seperti sekarang ini.
"Kakek, Ayah, Ibu, Nenek, mereka pasti akan sangat membenci Jhon. Sedang aku semakin bertambah menyayanginya, Aku tak sanggup melepaskanya setelah semua yang kujalani bersamanya dalam waktu singkat ini." Memikirkan hal ini membuat Tata samakin merenungkan akan semuanya.
Tok tok tok
"Service room" Ucap suara seorang pria di balik pintu hotel tempat Jhon menginap.
ceglek
Pintu terbuka, sesosok lelaki berdiri dengan seragam kerjanya membawa sesuatu yang dijinjingnya. Tata keluar dari persembunyianya, keluar dari belakang pekerja room service itu. Dengan senyum getirnya Tata melihat wajah Jhon yang memar dan lebam.
Tata memeluk Jhon erat, air mata wujud nyata dari kekhawatiranya jatuh berderai. Tangannya gemetar memegang wajah lelakinya. Tata hanya bisa memeluknya erat tanpa bisa berkata kata. Tangan lembutnya masih mengusap dan meraba wajah yang lebam itu.
"Maaf bu, ini obatnya." Service room memberikan sekantung obat obatan pada Tata.
Suasana penuh haru itu disaksikan oleh service room yang masih berdiri menunggu perintah dari Tata.
"Terimakasih, kau lanjutkan pekerjaanmu!" Tata Menerima kantung obat dan memberi Perintah pada service room yang langsung beranjak pergi sambil menganggukan kepalanya.
Kamar yang di berikan Jhon adalah kamar yang sering Tata gunakan untuk menenangkan diri selama masa masa sulitnya, untuk mengambil langkah dalam mengakhiri pernikahanya. Tata memerintahkan resepsionir untuk memberikan kamarnya kepada Jhon.
****
Jhon memalingkan wajahnya dari Tata dan berjalan menuju wastafel untuk mencuci mukanya. Jhon hanya tidur seharian tanpa menyentuh makanan yang dikirimkan oleh Tata. Terlihat di meja makanan yang di kirimkan masih tetap utuh, Tata memeluk Jhon dari belakang masih dengan air mata yang membasahi pipinya.
Terasa hangat di punggung Jhon air mata yang mengalir perlahan. Jhon memutar badan dan berhadapan dengan Tata, Jhon menyeka air mata Tata tanpa berkata apapun dan mengecup kening Tata penuh kasih.
Cukup lama Jhon dan Tata hanya terdiam dan saling bereplukan.
"Maaf, sudah membuatmu khawatir." Jhon mengelus kepala Tata.
"Seharusnya kemarin aku langsung menghubungimu." Ucap Tata ter bata bata.
"Tidak, ini buah dari kebodohanku. Aku pantas menerima ini." Ucap Jhon mengecup kening Tata.
"Ini pasti sakit." Tata mengusap lembut lebam Jhon dengan perlahan.
"Aku lelaki tangguh, luka sekecil ini tak masalah bagiku." Jhon tersenyum pada Tata.
"Ssehhh, Aku sedikit ragu."
Ucap Tata sambil berdecak tak percaya dan menyipitkan matanya masih dengan kedua tangan yang melingkar di pinggang Jhon.
Mereka bertatap mata cukup lama, mendalami perasaan masing masing seperti saling berbicara dari hati kehati. Seperti datangnya pelangi setelah hujan reda, Cinta mereka bersemi setelah masa gugur sebelumnya.
Dan, Cup.....
__ADS_1