
"Kenapa dia menyuruh untuk mengamankan gambar CCTV? Apa ada sesuatu?" Amel bertanya tanya di dalam benaknya.
Setelah menerima pesan dari Jhon. Amel dengan serta merta menjadi sangat kebingungan, Lantaran Jhon sama sekali belum menjelaskan yang sebenarnya terjadi.
Amel memutuskan untuk menghabiskan waktu luangnya untuk tidur lama. Hanya itu caranya untuk memulihkan tenaga. Di dalam kamar Resort yang bertemakan naturaly. Semua pernak pernik di buat sealami mungkin hingga nampak seperti rumah jaman dahulu dengan ke asrian yang menyejukkan mata.
Amel tertidur dengan pulasnya, sementara disisi lain Jhon masih bergelut dengan rasa bimbang dan ragu yang mengerebungi kepalanya. Masih memikirkan kemungkinan jika janin yang ada di dalam perut Elsa adalah bukan keturunannya.
"Dia berselingkuh, jadi tidak menutup kemungkinan jika bayi itu bukan darah dagingku. Sial! harus dengan cara apa aku membuat dia berkata jujur."
Jhon berfikir keras selama dalam perjalan menuju rumah. Mencoba mencerna semua yang terjadi secara logis dan teoritis. Memandang lurus jalanan yang ada di hadapanya dengan sesekali menengok samping kanan kiri.
"Aku harus tidur dimana malam ini?
Hotel tidak mungkin, pasti masih ada saja orang yang memata mataiku. Kembali ke Rumah apalagi, seperti masuk ke sarang singa. Elsa pasti masih ada dirumahku."
Jhon menepikan mobilnya dan menenggak minuman kaleng yang sudah tersedia di dalam mobilnya. Setenggak minuman telah lancar menuju lambung yang menghempas dahaga. Jhon menepi dekat Rumah, tak sengaja matanya menangkap sebuah pemandangan yang membuat hatinya tersayat sayat.
Terlihat dari kejauhan Elsa tengah masuk dan berbicara dengan seseorang di dalam mobil. Keadaan yang sangat gelap tanpa penerangan dan lampu jalanan yang sudah mulai buram, membuat Jhon kesusahan untuk mengenali wajah orang yang ada didalam mobil bersama Elsa.
"Apa yang dilakukan wanita hamil malam malam seperti ini? aku akan segera menangkap basah Elsa."
Jhon melajukan mobilnya dan memutar tepat di depan Mobil hitam yang terparkir di pinggir jalan. Jhon sengaja tidak menggunakan mobilnya sendiri, melainkan meminjam mobil Dika untuk membuang jejak. Namun Jhon juga tetap berhati hati jika ada kemungkinan pengintai masihengikutinya.
Lampu sorot Jhon tepat mengenai kedua orang yang tengah berbicara itu. Terlihat Elsa mengangkat satu tangannya untuk menutupi sinar Mobil yang menyilaukan matanya. Sementara seseorang lagi kemudian dengan cepat menyalakan lampu sorotnya ganti untuk membalas kilauan lampu Jhon.
Jhon juga menjadi tak bisa melihat kearah Elsa karena terhalang sinar yang teramat terang di malam yang teramat gelap. Elsa turun dan marah marah, menunjuk nunjuk si pengemudi yang menyoroti mobil tumpangannya dengan lampu jarak jauh.
Tak berselang lama sesorang yang lain turun. Dari balik kaca Jhon hanya memperhatikan Elsa yang marah marah sambil menggedor gedor kaca mobil. Pria yang baru saja turun dari mobil yang di tumpangi Elsa mencoba menenangkan Elsa dengan mengusap usap pundak Elsa.
Jhon merekam kejadian itu sekilas dengan ponsel. Turunlah Jhon dengan membuka pintu perlahan.
"Buka pintunya, turun kamu!! apa maksud kamu menyoroti mobil ka....." Elsa belum selesai dengan ucapanya yang sedang emosi namun seketika terhenti karena melihat Jhon yang turun dari mobil.
"Apa? kenapa? jelaskan!!!" Teriak Jhon tepat di wajah Elsa.
Elsa gelagapan harus membuat alasan alasan palsu demi menumpuk segala kebohongan. Willy yang berada di sebelah Elsa sangat kikuk karena tertangkap basah.
Willy tak kurang akal membuat Lasan dan kebohongan baru demi lancarnya rencana busuk mereka. Jhon hanya menatap kedua orang itu dengan melipat tanganya ke dada. Sudah tidak ada kecemburuan lagi untuk Elsa. Hanya bersisa rasa Jengkel karena merasa tertipu oleh Elsa.
"Emm, dia sepupuku Jhon."Elsa terbata bata mengeluarkan jawabannya.
"Oh ya?" Jhon tak percaya begitu saja.
__ADS_1
"Iya, aku sepupunya aku datang untuk menjemputnya. Bibi yang menyuruhku, bibi khawatir akan kehamilan Elsa." Jawab Willy menindih kebohongan yang semakin berlapis.
Jhon tak menjawab apa apa. Masuk dan menutup keras pintu mobil lalu memarkirkan mobil Dika. Malas berkata apa apa dan hanya mengirim pesan pada Elsa.
"Pulanglah, aku ingin sendiri" Pesan Jhon pada Elsa.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Pesta di mulai saat malam hari semua tamu sudah berkumpul dengan riasan dan pakaian yang saling bersaing satu sama lain.
Amel hanya berdandan sesuai moodnya saja malam ini dan tidak terlalu heboh seperti tamu undangan. Amel hanya mengenakan heels hitam dengan padu padan dress berwarna peach, rambut yang di bentuk menggelung menambah elegant penampilan Amel. Satu pasang anting berlian menempel sempurna di daun telinganya.
Makeup Fllawless menambah level kecantikan Amel, Semua orang terkesima memandang Amel yang baru saja naik kepanggung. Semua orang menatap takjub dan tak sedikit pujian yang terlontar dari mulut para tamu.
"Lihat dia sudah mirip seperti putri"
"Iya, jika anakku sudah pulang dari dinasnya Aku akan menjodohkanya dengan Anakku."
"Yang Aku dengar Amel ini punya pribadi yang pendiam dan susah dekat dengan orang baru."
"Iya, Dia terkenal introvert."
Celotehan para tamu undangan membuat risish telinga Jhon. Perang batin mulai terjadi dalam diri Jhon. Seperti malaikat dan Iblis yang sedang beradu di sisi kanan dan kiri.
"Apanya mau menjodohkan dengan anakmu nyonya? hah, langkahi dulu mayatku. Asal kalian tau Dia itu Istriku!!"
"Eh, kau kira dia benda seenaknya saja mau kau aku akui?"
"Bisa saja. Kalian kan masih saling suka. Buat saja Amel hamil agar tak bisa berkutik lagi."
"Jangan lakukan cara kotor Jhon. Akan merusak citra dan Nama baikmu."
"Ah, persetan dengan nama baik. Ingat cinta itu butuh pengorbanan."
Jhon menggeleng gelengkan kepala untuk mengakhiri perdebatan kedua mahluk yang beradu di dalam kepalanya.
"Kenapa sayang?" Ucap Elsa menggandeng lengan Jhon dan sedari tadi memperhatikan Jhon menggeleng gelengkan kepalanya.
"Enggak!" Jawab Jhon singkat sembari melepaskan lenganya dari Elsa.
"Apa aku harus menhilang dengan jurus bayangan sekarang? Entah kenapa aku merasa risih saat Elsa menempel padaku."
"Kapan kau akan cek kehamilan?" Ucap Jhon sembari memegang gelas minuman dan menatap Elsa.
__ADS_1
Suasana sangat bising malam itu, musik sudah menyala dengan dentuman kuatnya. Lampu yang remang remang dan berkelip di imbangi dengan angin pantai yang semakin menambah gairah pesta.
Elsa mendekatkan kepalanya kepada Jhon dan menjawab pertanyaan Jhon.
" Aku sudah memeriksakan tadi pagi bersama ibu." Jawab Elsa sedikit berteriak.
Moment itu tertangkap mata oleh Amel yang buru buru membuang pandangan saat Jhon menatapnya balik. Amel terlihat cemburu dengan raut wajah yang sudah tak bisa di sembunyikan.
Kak Nino datang bersama Selly dari bahasa tubuh mereka mengisyaratkan jika mereka sama sama memiliki rasa yang tersimpan. Selly menggandeng lengan Nino kesana kemari selama pesta berlangsung.
π₯π₯π₯
Pembagian hadiah untuk para tamu undangan yang datang hadiah pertama di dapatkan oleh Yogi dan tara.
Yogi tetkejut mendengar namanya disebut baerbarengan dengan Tara. Setelah kejadian ciuman itu, gosip beredar liar. Yogi tak bisa mengelak dan menghindarinya, hanya menyatakan kepada media jika Tara adalah pacarnya. Hanya dengan cara itu setidaknya nama Tara terselamatkan dari kabar miring.
"Apa, Tara juga? Terus mobilnya mau kita belah gitu? Astaga ogah banget kalau suruh bayarin Tara. Terus nama di surat mau gimana?" Yogi masih kebingungan. Yogi tidak menuliskan nama Tara di buku Tamu. Lantas siapa yang menulisnya?
Amel menatap Selly dengan senyum yang mengembang. Yogi manengkapnya dan tahu jika ini adalah akal akalan Amel.
Tara dengan sigap menggandeng lengan Yogi dan naik ke atas panggung untuk menerima hadiah berupa satu buah mobil berwarna hitam. Hadiah yang sangat besar untuk ukuran souvenir.
"Udah ayo naik aja, perkara nanti kita mau belah, atau jual mobil itu kita urus belakangan oke." Bisik Tara pada Yogi.
Yogi hanya menurut saja dan naik ke atas panggung menerima hadiah itu bersama Tara dengan menebar senyum palsu mereka.
Hadiah yang kedua.
Dua Voucher menginap geratis selama 12 hari yang di dapatkan oleh Selly. Selly membelalak terkejut dan melonjak gembira yang sontak membuat Amel turut tersenyum bahagia. Nino mendorong pinggang Selly untuk segera maju menerima Voucher menginap geratis itu.
Hadiah ketiga berupa uang tunai senilai Dua Puluh Lima Juta yang di dapatka oleh soerang lelaki Tamu undangan. Disebutkan Nama orang tersebut membuat Amel merasa tegang dan sedikit berdebar mengingat kilasan masa lalu.
"Aldo firmansyah, untuk Bapak Aldo silahkan menaiki panggung." Ucap pembawa acara.
Amel merasa seperti ada yang memegang kakinya kuat kuat sehingga bergeser sedikit pun tak bisa. Aldo adalah satu satunya lelaki yang dengan terang terangan menerima tantangan dari ibu Amel. Bertarung melawan pelatihnya sendiri demi memenangkan hati putrinya.
Ibu sangat menyukai Aldo.Dan Amel pun menanggapi baik kemauan Ibu. Tapi itu semua berakhir dan terputus saat Aldo melanjutkan kuliahnya keluar Negri.
"Amel?" Aldo naik kepanggung dan memeluk amel sambil mencium pipi kanan dan kiri Amel. Tangan Aldo masih bergantung manja di pinggang Amel.
"Astaga kenapa Aldo ada disini? Kemana Ayah dan Ibu serta Nenek."
Amel masih tak mengerti kenapa Aldo hadir di pestanya.
__ADS_1
"Ibu yang menyuruhku datang mewakilinya, Nenek sedang tak enak badan dan Ayah sedang berada di luar kota." Bisik Aldo menjelaskan kedatangannya dengan senyum yang melekat di bibirnya.
"Amel!! siapa lelaki itu? berani kamu didepanku ya." Jhon menatap serius Amel dari bawah panggung yang tertutup oleh banyaknya tamu yang hadir.