
Hari berjalan lebih baik sekarang semua sudah bisa bernafas lega. Meski Jhon belum bisa mengucapkan jika Amel adalah istri sahnya lantaran masih ada Kemarahan dari Kakek Agung dan kedua restu orang tua Amel.
"Kenapa sih, kalau ini semua kamu yang atur. Kenapa juga aku harus bilang sama kakek jika kita sudah bercerai dan aku menghamili anak orang." Celoteh Jhon kesal di pagi hari.
"Menurutmu jika aku tidak mengambil tindakan seperti ini, Lalu apa yang akan terjadi? Semua media akan menyiarkan jika aku adalah orang ketiga di rumah tangga kalian."
"Dan kakek, Ayah , Ibu. Mereka semua akan sangat terpukul. Dengan surat nikah palsu itu, setidaknya aku bisa berjaga jaga, jika anak elsa itu bukan anakmu maka aku masih dengan mudah memilikimu."
"Apa kamu sedari awal tau jika yang di kandung Elsa adalah bukan anakku?" Tanya Jhon serius.
"Tidak, sebelum aku mendengar pernyataan Elsa langsung melalui rekaman yang di dapatkan pak Darto." Ucap Amel sembari berjalan menuju kamar mandi.
"Nanti kamu berangkat kerja kan? Ada proyek lagu barumu kan?"
"Iya, tapi aku masih ingin mengisi energi disini." Ucap Jhon malas.
Amel mandi dengan santainya menikmati waktunya sendiri dan tiba tiba tak tau mengapa Amel ingin sebuah Kiwi gara gara melihat sebuah gambar di majalah nampak kiwi yang sangat menggoda.
"Ini enak, disini tidak ada. Aku suruh saja Jhon membelikanya untukku ah. sepulang dia kerja nanti."
Amel melanjutkan mandi sampai selesai. Keluar dari kamar mandi dengan handuk kimono yang menempel di badanya, Amel lalu melepaskanya perlahan karena mengira Jhon tertidur lelap di ranjangnya yang tepat menghadap lemari baju.
Jhon memicingkan matanya melihat lekuk tubuh Amel yang indah. Amel dengan santainya memakai semua bajunya lalu berias di depan Cermin. Jhon masih melihat semua itu sambil memicingkan sebelah matanya. Senyum kecil menyungging di ujung bibir Jhon.
"Tubuh itu aku sudah pernah menjamahnya *tapi Toya saktiku ini masih saja tidak bisa terkendali melihat keindahan itu."
"Hei toya sakti, tunjukkan bakatmu!"
"Ah, jangan ini masih terlalu pagi."
"Ah jangan tunggu lama, segera saja tusuk lubang yang kenyal lembut itu."
"Jangan, jangan dengarkan iblis itu"
"kau diam sajalah malaikat pengecut. Jhon, buat saja Amel hamil."
"Jangan Jhon. kamu lelaki pintar dan baik jangan lakukan itu. Setidaknya tunggu saat malam hari."
" Ah, kelamaan. Tusuk saja langsung* dia *dari belakang. Pas banget itu Dia lagi nonggeng memakai lipstik."
"Uhh, lihat warna lipstiknya. sengaja Dia biar kamu tergoda."
"Sudah tindih saja dan buat dia mendesah nikmat!"
"Astaga, jagan turuti kemauan setan.
"Diam kau pengecut!"
__ADS_1
"Diam kau setan*!"
Kedua mahluk itu beradu di dalam batin Jhon. Jhon lalu menggosok gosokkan wajahnya ke selimut dan membuka mata. Tampak Amel dengan baju ketatnya.
Jhon terlihat tidak suka dengan apa yang di pakai Amel.
"Jangan pakai itu, ganti sekarang juga!!" Ucap Jhon dengan nada agak tinggi.
"Santai saja sayang tidak usah berteriak aku belum tuli. Aku belum selesai memakai baju, lihat ini hanya kaus dalamku." Ucap Amel santai.
"Eh, iya itukan baru kaus dalem. Baju luar Dia belum pakai. Ketauan bloon nih Aku nyawa belum ngumpul udah marah marah aja."
"Ya pokoknya pakai baju yang longgar aja. entar banyak mata jelalatan yang liatin kamu lagi." Ucap Jhon menutupi kesalahanya.
"Hem... oke!" jawab Amel santai.
"Sayang, aku kekantor dulu ya. Pak Darto udah nunggu aku. Nanti kalau kamu pulang kerja belikan aku kiwi oke." Ucap Amel sembari memakai heelsnya.
"Kiwi?" Jhon mengerutkan dahinya tak mengerti akwn kemauan Amel.
"iyw, kiwi. Aku maunya kamu yang beli. Jangan suruh orang lain." Amel berjalan keluar kamar tanpa mencium suaminya.
"Ogah banget beliin. mau berangkat aja nyelonong gitu. enggak kiss morning dulu."
Suara pintu kamar terbuka lagi Amel berlari menuju Jhon.
"Jadi istri baik baik ya, jangan deket deket cowok lain." Ucap Jhon sambil mengusap rambut Amel yang sedang menciun punggung tangan Jhon.
"Oke!" Jawab Amel berlari keluar.
****
"Kita masih sah suami istri. Tapi kemarin aku sempet bilang kita udah bercerai. Itu berarti Aku udah jatuh talak belum ya?"
Amel memikirkan hal itu perihal talak yang jatuh kepadanya karena kesengajaannya memalsukan perceraian. Amel sangat bimbang sehingga meminta pertimbangan pak Darto.
"Selly, panggil pak Darto suruh dia keruanganku segera." Perintah Amel kepada Selly melalui telefon kantor.
"Baik Nyonya" Jawab Selly di balik telefon.
Amel gundah menunggu kedatangan pak Darto. Amrl berjalan mondar mandir menyusuri ruang kantor. Derap kakinya tak kunjung berhenti sampai pak Darto datang memasuki ruangan itu.
Wajah Amel seketika menjadi seperti anak TK yang antusias dengan cerita baru yang akan disampaikan gurunya. Amel seketika berlari menghampiri pak Darto.
"Sini pak, sini mari duduk." Amel menepuk sofa yang mengisyaratkan untuk pak darto segera duduk di sofa.
"Ada apa nyonya?" Pak darto duduk di sebelah Amel yanh agak berjauhan.
__ADS_1
"Bapak tau kan kemarin itu, saya dan Jhon. saya sempat memalsukan hubungan kita, saya bilang kalau saya dan dia sudah bercerai."
"Itu bagaimana ya pak? Apa saya dan dia jatuh talak atau bagaimana?" Amel menunggu penjelasan pak Darto sambil memainkan pulpen dijarinya.
"Ya kalau itu anda lakukan secara sadar dan sengaja. dan selama masa berbohong itu anda telah menggugurkan kewajiban seorang istri kepada suami. Itu merupakan sudah bisa dibilang jatuh talak." Jawab pak Darto.
Pak Darto itu dikenal sebagai orang uang bijaksana dan teliti dalam mengambil setiap keputusan. Maka dari itu Amel sangat mempercayai pak Darto. Termasuk dalam hal talak menalak, karena pak Darto jauh lebih paham dan berpengalaman dari pada Amel.
"Waktu itu aku sangat sadar dalam merncanakan semua ini. berarti aku udah jatuh talak dong? Haduh betapa bodohnya aku."
"Berarti aku udah jatuh talak ya pak?" Amel menggaruk garuk krpalanya dengan telunjuk.
"Ya bisa dikatakan seperti itu." Ucap pak Darto santai sambil menyeruput kopi.
"Yah, pak berarti aku ga bisa berhubungan itu donk sama Jhon donk?" Ucap Amel polos.
"Ya bisa tapi kalian harus bangun nikah dulu, biar afdol."
"Hah, bangun nikah? maksudnya nikah lagi?" Amel bingung.
"Iya nyonya." Pak Darto tertawa kecil karena ekspresi bingung Amel.
Baru berapa bulan Jhon dan Amrl bersama tapi sudah mau ijab kabul Dua kali. Hal ini terasa seperti berjalan di luar kendali.
****
"Sayang itu Kiwinya aku taruh di kulkas." Ucap Jhon pada Amel ketika baru datang setelah penat bekerja dan memikirkan tentang bagun nikah yang di tuturkan pak Darto.
Amel membuang sembarang jasnya. Dengan langkah gontai dan malasnya amel mengambil kiwi yang ada di dalam kulkas memotong dan membersihkanya. Amel meletakan bokongnya dengan nyaman di sebelah Jhon yang agak berjauhan.
"Isshh, kenapa jauh jauh gitu sih? Aneh."
"Biasanya juga nempel terus, nggeliat nggeliat kaya ulat keket."
"Sini sayang, deketan kenapa jauh gitu?" Jhon mrnarik tangan Amel.
"Tidak, kita tidak boleh." Ucap Amel masih dengan mengunyah kiwi yang memenuhi mulutnya.
"Kenapa kamu kan istriku?" Ucap Jhon bingung.
"Tidak kita salah, tadi kata pak Darto....." Amel enjelaskan semua yang diucapkan pak Darto.
"Apa? Nikah lagi?" Jhon membelalakan matanya.
"Iya." Amel mengangguk sambil memakan buah kiwi.
Jhon ikut memakan buah kiwi yang masam itu walau dengan memejam mejamkan mata lantaran tak kuat dengan rasa asam. Mereka berdua duduk bersama seperti duo idiot. Dengan tatapan kosong dan mulut yang penuh kiwi.
__ADS_1
Asamnya kiwi tak seasam hidup mereka.