Lelakiku Introvert

Lelakiku Introvert
25. kemarahan ibu


__ADS_3

Yogi berjalan keluar dari kamar Tata menutup pintu perlahan tanpa suara.


"Bangun dia sudah pergi"


Jhon masih berfikir dan kaget dengan ucapan Yogi yang baru saja di dengarnya. seperti terkoyak hatinya mendengar pria lain secara terang terangan meminta ijin untuk mencintai istrinya.


Tata membuka mata perlahan, di suguhkan dengan pemandangan yang sangat dingin dari pria yang tengah duduk di sofa dengan tatapan kosong itu. Entah berkelana kemana angan angan Jhon, sampai sampai Tata memanggilnya berkali kalipun Jhon tidak mendengarnya.


"Kak"


"Jhon"


"kak.....!" Teriak Tata memanggil suaminya.


"Apa?"


"kenapa melamun seperti itu?" Tanya Tata memecah lamunan suaminya.


"Ti... tidak." Jhon berdiri dan berjalan menuju pintu lalu menguncinya.


"Kenapa di kunci?" Tata bingung dengan sikap Jhon yang berubah mendadak.


"Ada yang ingin aku bicarakan" Jhon menghampiri Tata dan duduk bersebelahan diranjang.


"Tentang ucapan kak Yogi?"


Jhon mengangguk.


"Boleh aku memelukmu?" Pinta Tata sebelum mengawali obrolan mereka membahas tentang Yogi.


Dengan wajah yang kalut Jhon merentangkan tangannya dan merengkuh tubuh istrinya Erat.


"Aku mendengar semua ucapan dan perbincangan kalian, Aku tidak menyangka kalau dia memiliki rasa padaku. Tapi aku juga tidak yakin kalau dihatimu ada aku."


Jhon melirik lembut menatap wajah Tata, mengusap kepala Tata perlahan. Suasana itu sungguh tenang dan nyaman meski dengan perasaan yang saling meragukan.


"Sejak kapan kamu memutuskan untuk menerima pernikahan ini?" Jhon memegang lembut tangan istrinya.


"Aku pernah berjanji pada diriku sendiri, seberapa pun besar perasaanku padamu. jika Elsa benar benar tulus dan kau pun mencintainya, maka aku akan mengakhiri pernikahan ini. Tapi jika Elsa terbukti hanya memanfaatkanmu, maka aku tidak akan pernah membiarkanmu untuk menjadi miliknya."


"Lebih tepatnya kemarin, saat dia menyerangku membabi buta." Jawab Tata yang memutarkan kepalanya menghadap ke dada suaminya dan menitikan air mata.


"Jujur, entah ini kapan mulanya. Tapi sekarang sudah ada namamu disini". Jhon menempatkan tangan Tata yang digenggamnya ke dadanya.

__ADS_1


Tangis Tata pecah seketika. Mengeluh dan mengadu pada suaminya, seperti ingin mencurahkan segala sesuatu yang lama ia kubur sendiri.


"Apa kau mencintaiku?" Pertanyaan Tata membuat Jhon langsung menganggukan kepalanya cepat, Tangan jhon dengan sigap memegang wajah imut Istrinya itu.


"iya sayang." Ucap jhon sepontan tanpa pikir panjang, mendekap erat mengusap lembut kemudian mencium bibir Tata perlahan dan hangat. Tak sendiri tapi juga mendapat perlawanan yang sepadan dengan apa yang di lakukanya.


Tangis Tata masih mengiringi ciuman hangat itu, membuat Jhob berhenti sejenak dan mencium bulir airmata yang menetes di pipi merona istrinya itu.


Terbawa suasana, tangan Tata meraba ke tengkuk, dan meremas ranbut Jhon. Membuat Jhon semakin menaikan semangatnya untuk terus melakukanya. Tangan Jhon terus meraba mencari sesuatu yang kenyal dan padat yang dapat memanjakanya. meremas keduanya bergantian membuat Tata mendesah nikmat tanpa melepas pagutan bibir antar keduanya.


"Aauuch...." Tata meringis kesakitan, membuat Jhon menghentikan kegiatan yang sedang merwka kerjakan bersama.


"Apa hem, kenapa. apa aku terlalu bersemnagat?"


Tata menggelengkan kepala perlahan.


"Lalu?"


"Kakiku sakit sayang." Ucap Tata perlahan.


"Sayang, kau sudah panggil aku sayang?" Jhon memesatikan apa yang didengarnya adalah kenyataan.


"iya" mengangguk malu.


"Terimakasih, kau benar benar sudah menerimaku menjadi suamimu." Jhon memeluk Tata lagi dan mencium bibir Tata untuk waktu yang lebih lama kali ini, tentunya juga sangat hati hati dan saling menikmati.


"Apa?" Meraih wajah Jhon dan akan menciumnya lagi, rupanya Tata sudah benar benar terangsang saat ini. Tata sudah menempelkan bibirnya tapi di hadang oleh tangan Jhon yang menutup rapat mulitnya dengan tangannya.


"Jelaskan, kau bilang kakimuhanya lecet. Tadi Yogi bilang kakimu robek."


"Hemmhhh" mendesah kecewa karena tak mendapat ciuman yang sanagt di harapkannya sedari lama.


"Iya robek, tapikan udah di jahit. bentar lagi juga sembuh." Ucap Tata dengan bibir manyunya.


"Maafkan aku, seharusnya aku yang menjagamu. Aku terlalu keras kepala dan mengabaikan ucapanmu." Jhon memeluk dan mengusap usap lembut lengan istrinya.


"Lagi?" Jhon menatap manja Tata dengan senyuman di bibir manisnya, memberikan sebuah tawaran untuk ciuman panas yang tertunda.


"Lagi" Jawab Tata manja pada suaminya.


Saat hendak melanjutkan itu, ponsel tata berdering.


"Ishh menganggu saja." Tata meraih ponsel di dekat bnatalnya. sontak matanya membulat, wajahnya sangat terkejut kedua tanganya melempar ponsel itu ke kasur dan tanganya menutup mulutnya.

__ADS_1


"Siapa?" Jahon melihat ponsel Tata dan dengan santainya mengangkat panggilan itu.


"*Hallo"


"Tata, kenapa kau dari tadi mengabaikan panggilan ibu*?"


Tata segera menyahut ponsel yang sedang di pegang Jhon.


"*Ada apa ibu?"


"Ibu dapat kabar dari kakekmu, kau sudah menikah 2 bulan lalu huh?"


"Kau anggap apa ibumu ini? untuk hal penting dalam hidupmu kau tidak memberitahuku*."


Tata sangat bingung tak tau harus apa lagi. Menghadapi ibu lewat panggilan saja tak akan cukup. Kemarahan ibu memuncak, bagaimana tidak, dalam hal sepenting itu putrinya sendiri tidak mengabari.


"*Besok, aku akan pulang ibu. aku akan menjelaskan semuanya bersama suamiku. ibu yang tenang ya."


"Apa besok? tidak hari ini juga kau harus pulang Amelita Sabina*!!"


Nama lengkap Tata sudah di sebutkan secara detail. Itu menandakan kemarahan ibu sungguh sungguh berada pada puncaknya.


"Iya ibu, iya aku akan pulang hari ini juga."


Panggilan terputus, Tata menutup wajahnya dengan kedua tanganya. Menahan airmata yang hendak jatuh tanpa perintah. Ini kali pertama seumur hidupnya mendengar kemarahan ibunya seperti itu. Ibu biasanya teramat sabar dan lembut padanya, tapi tidak kali ini.


"Sepertinya Ayah juga sudah kebahisan cara untuk menangani kemarahan ibu" Batin Tata merasa kecewa dengan apa yang sudah dilakukanya terhadap ibu.


Jhon mengusap lembut punggung istrinya, menatap lekat wajah Tata yang masih tertutupi oleh kedua tangan Tata.


"Ceritakan padaku, Apa yang terjadi." Melepaskan tangan yang menutup wajah Tata.


"Ceritakan hum, kita hadapi ini bersama." mencium kening Tata dan membuat Tata semakin ingin meneteskan air mata.


"Ibu, dia sangat marah mendengar kabar pernikahan kita."


"Kita ceritakan yang sebenarnya terjadi, dan kita bawa buku nikah kita. Aku yakin Ibu pasti akan mempertanyakannya." Jawaban Jhon memeberikan sedikit ketenangan pada Tata yang gundah.


"Siapkan dirimu untuk besok, mungkin bibirmu akan kelu menjawab rentetan pertanyaan dari Ibu."


Tata mengusap lembut bibir tipis itu. menatapnya sekilas dan membenamkan kepalanya kedada suaminya.


"Sudah, ayo kita bersiap untuk kerumah ibu." Jhon memegang wajah dan menata rambut Tata yang sedikit berantakan.

__ADS_1


"Kamu duduk disini saja, biar aku yanh membereskan semuanya." Turun dari ranjang dan segera mengerjakan tugasnya, lebih tepatnya hanya membereskan bajunya sendiri karena baju Tata sudah tertata rapi.


"Ibu, akan kau siksa seperti apa menantu yang tampan dan baik ini?" Tata melihat suaminya yang tengah merapikan barang barang mereka dengan cekatan.


__ADS_2