Lelakiku Introvert

Lelakiku Introvert
22. Nasi goreng


__ADS_3

"Tidak, aku sudah membayar mahal kamar ini untuk kita pakai malam ini". Ucap Jhon memegang tangan istrinya.


"Baiklah akan kusuruh mereka mengembalikan uangnya besok padamu". Tata memegang pintu


"Hah, apa?" Jhon tak yakin


"Iya aku yang akan menyuruh manager memberikan kamar ini geratis pada kita". ucap Tata membuka pintu akan pergi.


Dan tak lama Tata kembali berlari terburu buru masuk kamar dan mengunci pintu. Wajahnya terlihat bingung dan gugup.


"Ada apa?" Jhon bingung.


"Ponselmu mana cepat!" mendekat dan berbisik setengah memaksa.


"ini" Jhon memberikan ponsel.


"pasword, apa cepetan!" Tata mendesak suaminya.


"Jhonta01" Ucap Jhon.


"Oke, baiklah sudah!"


"huft..." Tata mendesah lega.


Tata menelfon resepsionist, Tata sekarang adalah pemilik beberapa resort, 2 hotel, dan 2 perushaan kosmetik ternama. Itu semua adalah hanya sebagian yang Tata dapatkan, dan akan bertbah lagi jika Tata mampu mrmberikan cucu laki laki pertama bagi kakek.


"Hallo, kamar nomor 024. kenapa kau berikan pada nona Elsa?" Tata menelfon resepeionist resort itu.


" Maaf nyonya muda, hanya kamar itu yang tersisa". Jawab resepsionist.


"Baiklah, aku mengerti". Tata mengakhiri panggilan.


"Siapa?" Tanya Jhon penasaran.


"Karyawanku, sekarang kau tau". Tata menegaskan apda Suaminya.


" Ta, aku tahu ya berapa total kekayaan dan Aset aset kakek. Tapi kenapa kamu itu susah banget hanya untuk sekedar memanfaatkan atau menikmati saja susahnya minta ampun". Kesal Jhon.


"Aku lebih bangga dan bersyukur atas kerja kerasku sendiri". Tata duduk di sofa.


"Oke baik, aku paham. Tapi kapan kau menerima Resort ini?"


"Saat aku meng iyakan untuk menikah denganmu Kak"


"Panggil aku sayang saat kita hanya berdua" Pinta Jhon pada istrinya.


"Dih bawel deh ya!"


"Males ah". Tata menolak.


"Bereskan dulu hubunganmu dengan pacarmu itu!" Tata memainkan ponselnya.


"Aku sudah muak dengan pacarmu itu ya, dia sudah mempermalukanku di hadapan banyak orang". Tata mengeluh kesal.


"Kamu marah, kamu cemburu?". Jhon menatap wajah istrinya.


"Huhhh,, sudahlah. Energiku sudah terkuras habis hari ini".


"Biarkan aku beristirahat,"


Tata menuju tempat tidur dan membuka tirai besar di samping tempat tidur mereka. Pemandanganya sungguh indah, langsung menghadap laut.


Malam itu cukup hening,


"Kamu mau makan?" Tanya Jhon memecah keheningan.


Tata langsung menelfon pramusaji.


"Hallo, tolong buatkan kami makanan ya."


"Mau pesan apa nyonya?"


"Apa ajalah yang murah sendiri".

__ADS_1


"Baik nyonya."


Di kamar Jhon memprotes pesanan makanan istrinya.


"Kenapa yang paling murah sih?" Jhon duduk di sofa.


"Yang enak itu ga harus mahal". Tata tetap di ranjang menghadap jendela besar.


"Ahhh, serah mu sajalah. kau berbeda dari Elsa".


"Elsa selalu menginginkan sesuatu yang mahal, menuruti segala gengsinya".


"Sedangkan kau? lihat, kau hidup dengan santai. Aku sungguh iri dan ingin lebih dekat denganmu".


"Keinginanmu adalah hal hal sepele yang menghasilkan kebahagiaan besar". Jhon memuji kepribadian Tata.


"Udah deh, ga usah bandingin aku dan Elsa". Tata bernada datar.


"Tuh kan kamu di puji juga biasa aja"


"Di bandingin juga ga marah". Jhon semakin memuji istrinya.


"Puji lagi, kamu keluar dari kamar ini ya!" Ancam Tata pada suaminya.


"Oke oke"


"Ta, kamu ga ngerasa gimana gitu?" Jhon mulai menanyai Tata lebih dalam.


" ngerasa apa? rasa coklat?" Tata cuek..


"Beneran, kan kamu ngefans sama aku.


Terus kite menikah, sekarang kamu istri aku. Nah sekarang apa yang kamu rasain ke aku?"


Tanya Jhon serius sambil berdiri menatap Tata yang tengah merebahkan diri di ranjang besar itu.


"Kemarilah" Tata duduk dan menepuk nepuk ranjangnya.


"Meski aku ga pernah nonton konser kamu sama sekali secara real"


"Aku cuma bisa liat konser kamu via online"


"Dan setelah menikah dan bener bener jadi istri kamu, yang aku rasai sekarang itu apa aku ga tau"


"Aku ga bisa bedain mana iba, mana cinta, dan mana suka sama idola."


"Semua itu mix jadi satu Kak". Tata mulai membuka diri tanpa dia sadari.


"Kenapa kamu ga pernah dateng langsung ke konser ku?" Tanya Jhon yang benar benar penasaran di sertai wajah kecewa dan muka manyunnya.



"Kak, aku ini tidak suka keramaian. Tubuhku dan kepalaku menolak itu".


"Aku ini cenderung introvert". Tata berkata jujur


"Iya kah?" Tata mengangguk


"Kita sama".


"Aku hanya berbaur dan berkerumul dengan orang luar untuk bertahan hidup". Jhon juga mulai berkata jujur tentang dirinya.


Semakin banyak kecocokan diantara mereka berdua hanya tinggal satu penghalang Elsa dan kontrak kerja.


Tok tok tok


"Pesanan makanan..." Pramusaji pengantar makanan sudah datang.


"ini nyonya" meletakkan dimeja


"sini" Tata memanggil Pramusaji.


"Ini untukmu" Tata memberikan selembar uang.

__ADS_1


Pramusaji itu seperti terheran heran dengan apa yang di pegangnya, cukup besar untuk nominal uang tip.


"Terimakasih banyak Nyonya." Ucap pramusaji dengan wajah sangat bahagia dan pergi.


"Ayo makan" Tata menawari suaminya


"hemm" Jhon menatap tak selera pada nasi goreng itu.


"Cobalah" Tata tiba tiba menyuapi suaminya.


"Emm, ini enak" Jhon memakan lahap nasi goreng itu setelah mendapat satu suapan dari istrinya.


Malam semakin larut Tata sudah tertidur di ranjang besar itu, saat awal tidur mereka saling mbelakangi. Namun di saat terbangun Tata mendekap jhon erat dengan kaki yang saling tertindih satu sama lain.


"Awas ah, aku mau bangun". Tata mencoba melepaskan diri dari dekapan Jhon namun tak membuahkan hasil.


"Nanti sebentar lagi". Jhon mendekap Tata lebih erat.


"Bangun, aku mau lari pagi". Tata masih berusaha melepas pelukan suaminya.


"Iikuut" Jhon merengek manja ada Tata.


Mereka bangun pagi dan berlari pagi bersama dengan jarak yang cukup jauh, mengingat kebersamaan mereka akan mudah terbongkar jika terlihat bersama.


Elsa rupanya sudah bangun terlebih dulu, beberapa saat sebelum adegan kekerasan itu terjadi. saat hendak beranjak bangun, Jhon mendekap erat pinggang Tata dan mencium sekilas bibir Tata.


Tata semakin bingun dengan apa yang dirasakanya ataukah harus sedih, senang tapi juga ragu, juga ada khawatir tentang kontrak ketja suaminya.


Semua rasa itu bertumpuk berlapis menjadi satu. Sengguh Tata yang malang semua Yang dia harapkan jauh melenceng dari kenyataan dan kesederhanaan.


"Hihh" Tatap mata sinis oleh Elsa kepada Tata saat mereka bersimpangan di area lari pagi.


"Parfum ini" Elsa mengingat aroma parfum yang sangat akrab di hidungnya itu.


"Parfum Jhon." Elsa teringat dan Langsung mengejar Tata.


Elsa dengan sangat kencangnya tiba tiba menjambak rambut Tata. dan menariknya hingga Tata terjatuh.


"Dasar ******, dimana kau semalam huh?" Brdiri tegap sementara Tata tersungkur dibawahnya.


"Apa maksudmu?"


"Kamu semalam menggoda pacarku lagi huh?"


"Bahkan parfumnya masih menempel di bajumu"


"Dasar kau Ja**ng!!!"


Elsa membabi buta menyerang Tata yang tidak siap sama sekali, Bibir dan pelipis Tata berdarah. Tata terkena banyak cakaran dari Elsa.


Merasa sudah cukup pemanasan yang telah di lakukan. Tata berdiri dan melakukan satu perlawanan.


"Iya aku menggodanya, mari kita bersaing secara adil" Jawab Tata yang mebuat Elsa semakin membabi buta memukuli Tata.


Tata mengelap darah yang menetes dari bibirnya.


"Cukup pemanasan ini, terima giliranmu!" Ucap Tata menghampiri Elsa lebih dekat.


Dan...


"Bug...!"


Satu kali tinjuan membuat Elsa tersungkur dengan darah yang mengalir dari hidungnya.


"Hidungku...!!" Teriak Elsa histeris meratapi hidungnya yang penyok akibat tinjuan Tata.


"Darah, ahhh aku berdarah?" Elsa pingsan di tempat.


Tata hanya berjongkok sebentar memeriksa denyut nadi Elsa.


"Hhh,, hanya seperti itu kemampuanmu".


Tata merapihkan dirinya lagi dan berlalu pergi meninggalkan Elsa yang pingsan di pinggir jalan.

__ADS_1


__ADS_2